Psychoboom: Geng Motor Meresahkan? Mari Tuntaskan!

Geng Motor Meresahkan? Mari Tuntaskan!
Oleh BPPK ILMPI Wilayah II 2017-2018

S__35504417Frekuensi terjadinya tindakan kriminal selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya, hal yang tidak kalah menyedihkan dari kejadian ini, yaitu pelakunya yang merupakan kalangan remaja.Belakangan ini masalah pada remaja semakin meningkat, terutama maraknya tindakan kriminal remaja yang bergabung dalam geng motor. Geng motor ini meresahkan warga di beberapa wilayah di tanah air. Kawanan geng motor yang juga nyambi sebagai begal sadis ditangkap Satreskim Polrestabes Bandung pada Minggu (21/5) lalu. Tersangka mengaku sudah melakukan aksi 35 kali di 11 tempat di Bandung. Polisi dari Polsek Ciputat Tangerang Selatan juga membekuk tiga remaja yang melakukan pembacokan terhadap tiga warga di Kampung Sawah (30/05).

Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu viral video pembacokan oleh sekelompok remaja terhadap pengendara sepeda motor di Jakarta Selatan. Pada video amatir tersebut yang diambil oleh saksi di tempat perkara kejadian, ditayangkan sejumlah remaja yang memiliki senjata tajam sedang menyerang dua orang pengendara motor yang tengah melintas. Akibatnya, pengendara motor tersebut terjatuh dan mendapatkan bacokan dari sekumpulan remaja tersebut. Usai melakukan aksi kriminal tersebut, para remaja itu melarikan diri.

Remaja memang dikenal kerap melakukan berbagai hal yang mereka anggap baru dan dapat mengundang simpatik orang-orang disekitarnya. Mereka kurang mempedulikan norma yang sedang mereka langgar dalam melakukan aksinya. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu upaya bagi diri remaja untuk menemukan identitas siapa dirinya dan menemukan hal-hal apa saja yang sebenarnya mereka sukai.

Menurut Teori Perkembangan Erikson masa remaja ada pada rentang usia 10 – 20 tahun. Mereka ada dalam tahap yang Erikson sebut dalam perkembangan psikososial sebagai tahap identity vs. identity confusion (identitas vs. kebingungan identitas) alias pencarian identitas. Individu dihadapkan dalam pencarian siapa diri mereka, apa yang mereka miliki, dan kemana mereka mau pergi dalam hidup (King, Laura A, 2013). maka untuk memenuhi pencarian ini tak heran merekapun berlomba-lomba mencari sebuah pegangan yang menandai identitas mereka.

Penandaan identitas ini dapat berupa keanggotaan dari sebuah kelompok. Remaja memiliki kecendrungan besar dalam membentuk sebuah kelompok berdasarkan kesamaan yang ia temukan antara ia dan dirinya. Kelompok inilah yang akan memberikan pengaruh besar dalam hidup dan pandangan remaja. Hurlock (1994) mengatakan bahwa salah satu proses perkembangan remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan kuatnya pengaruh teman sebaya atau peer group. Artinya bagaimana remaja tumbuh dan berkembang dipengaruhi kuat oleh kelompok di mana ia menjadi bagian di dalamnya.

Rasa keanggotaan sendiri akan tumbuh apabila remaja berhasil memberikan suatu stigma tertentu bagi kelompoknya yang khas dan tidak dimiliki kelompok lain. Kadang dalam merealisasikannya mereka menggunakan cara-cara tak lazim yang membuat kelompok mereka menjadi pusat perhatian dan dianggap memiliki pengaruh yang besar. Dalam kelompok akan ada atribut-atribut khas kelompok yang dibentuk dan diinternalisasikan oleh setiap anggota kelompok sebagai identitas kelompok mereka. Inilah yang dikenal sebagai konformitas.

Maka dari itu tak heran banyak kelompok remaja yang rela ikut-ikutan melakukan berbagai hal yang mereka tau salah dan merugikan banyak orang, hanya untuk dianggap hebat dan berpengaruh. Mereka pun rela melakukan apa saja yang dilakukan oleh kelompoknya selama ia dapat dianggap sebagai bagian yang baik dari kelompoknya. Ini membuat remaja yang berkelompok cenderung memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap kelompoknya. Remaja yang mengatasi krisis identitas dengan mengembangkan keutamaan dari kesetiaan: loyalitas yang terus menerus, keyakinan, atau rasa memiliki akan orang yang dicintai/teman/sahabat. Kesetiaan juga dapat berarti identifikasi dengan rangkaian nilai-nilai, ideologi, agama, gerakan politik, mengejar kreativitas, atau kelompok etnis (Erikson, 1982, dalam Papalia, 2014).

Selain itu, sifat remaja yang masih sering goyah dalam mengambil keputusan membuat mereka kerap mencoba-coba hal yang dilakukan oleh orang di sekitar mereka. Ini merupakan proses mencontoh. Sama halnya dengan kenakalan remaja geng motor. Kebanyakan dari mereka memiliki role model akan perilaku nakal yang mereka perbuat. Menurut teori belajar sosial, anak-anak belajar perilaku sosial seperti agresi melalui proses mengobservasi—menonton perilaku orang lain.

Para remaja yang berperilaku agresi mengikuti perilaku agresi yang mereka lihat di acara televisi, video atau tulisan di internet atau bahkan dari video games yang didapatkan dengan mudah oleh anak-anak maupun remaja. Secara bertahap hal tersebut menciptakan hostile expectation bias—kepercayaan yang kuat bahwa orang lain akan berperilaku agresif. Ini membuat mereka sendiri menjadi lebih agresif, mereka merasa menerima provokasi dari sekitarnya, bahkan ketika sebenarnya hal tersebut tidak ada. Maka tak heran jika nantinya seseorang yang sering terpapar perilaku agresi ini nantinya akan merealisasikannya.

Faktor kemiskinan juga memicu terjadinya tindakan kriminal pada remaja. Kemiskinan menyebabkan penyediaan fasilitas yang minim bagi tumbuh-kembang seorang anak. Penyediaan fasilitas yang minim bagi tumbuh kembang anak dapat menjadi salah satu faktor seorang anak tumbuh tidak maksimal dalam berbagai hal, seperti pendidikan dan penanaman nilai moral.

Hal yang tak kalah penting lagi adalah keharmonisan keluarga, terutama peran orang tua dalam mengasuh anaknya. Banyak remaja yang melakukan tindakan kriminal dan terjerumus dalam geng motor diakibatkan oleh pola asuh orang tua yang cenderung otoriter, bahkan mengabaikan anaknya yang membuat anak tidak merasa mendapat perhatian dan penerimaan dari orang tuanya.

Oleh karena itu, orang tua perlu mengevaluasi diri, dengan memerlakukan anak dengan lebih dewasa dengan tidak mengambil peran terlalu besar dalam hidup anak, seperti selalu diatur atau digurui. Orang tua harus dapat menumbuhkan dialog personal yang akan membuat remaja mudah membuka diri dan memiliki role model positif dari orang tua. Orang tua juga perlu mengarahkan anaknya untuk mengikuti kegiatan positif, seperti kegiatan olahraga, musik ataupun seni lainnya. Memperhatikan peer group anak di lingkungan sosialnya menjadi hal penting. Selain itu, orang tua bisa mendekati atau meminta bantuan kepada guru, pembina kelompok, atau orang-orang yang ada di sekitar remaja tersebut.

Dalam hal ini masyarakat juga ikut serta berperan penting dalam upaya penanggulangannya, baik itu preventif maupun represif. Mulai detik ini berhentilah bersikap acuh tak acuh. Jangan hanya mengandalkan polisi untuk menangani kenakalan remaja, tetapi mari bersama-sama dengan polisi membantu mengatasi masalah kenakalan remaja yang sedang terjadi. Salah satu betuk penanggulangannya misalnya mengadakan event-event positif yang pesertanya adalah remaja, tujuannya adalah memotivasi para remaja untuk berkompetisi secara positif.

Setelah kita mengetahui lebih mendalam mengenai kenakalan remaja yang tergabung dalam geng motor, diharapkan jumlah kasus kenakalan remaja terutama pada geng motor akan bisa diminimalisir seminimal mungkin dan perkembangan remaja di bidang pendidikan juga bidang-bidang lainnya dapat dilalui secara terarah, sehat dan bahagia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Baron, Robert A., dan Donn Byrne. 2004. Psikologi Sosial: Edisi Kesepuluh. Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga

King, Laura A. 2010. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif. Buku 1. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika

Papalia, Diane E., Ruth D. Feldman dan G. Martorell. 2013. Menyelami Perkembangan Manusia: Edisi 12. Buku 2. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika

Ramadhan, Doni Indra. ”Pengakuan Geng Motor Brutal di Bandung yang Nyambi Begal”. 30 Mei 2017. Diakses pada 31 Mei 2017, 08.09 WIB.

https://m.detik.com/news/berita-jawa-barat/d-3515408/pengakuan-geng-motor-brutal-di-bandung-yang-nyambi-begal

Nuramdani, Muhamad. ”Polisi Ringkus Kelompok Geng Motor di Tangerang Selatan”. 30 Mei 2017. Diakses pada 31 Mei 2017, 10.03 WIB.

http://m.liputan6.com/news/read/2970835/polisi-ringkus-kelompok-geng-motor-di-tangerang-selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *