KALKAPSI: International Youth Day

1504090133497KALKAPSI (HARI REMAJA INTERNASIONAL)

BPPK Wilyah II 2017-2018

 

International Youth Day : Stop Bullying!!

Tahukah kamu bahwa tanggal 12 Agustus setiap tahunnya diperingati sebagai hari remaja internasional atau lebih dikenal dengan “International Youth Day”. Adanya kepentingan untuk mengingat eksistensi para remaja yang sedang berada dalam tahap pencarian jati diri mencetuskan pemikiran untuk menyertakan Hari Remaja Intenasional sebagai suatu hari yang patut diperingati. Peringatan Hari Remaja Internasional ini bermaksud untuk merayakan hal-hal yang terkait dengan kehidupan remaja. Selain merayakan eksistensi remaja, hari ini diharapkan dapat menjadi sebuah momentum untuk berbagi informasi dan edukasi terkait dengan persoalan remaja di seluruh dunia. Di Indonesia, International Youth Day l pertama diperingati pada tahun 2000. Peringatan tahunan ini selalu mengangkat tema yang berbeda mulai dari kesehatan, pendidikan, kemiskinan, dan lain-lain. Semua tema berganti disesuaikan dengan kondisi remaja saat itu.

Masa remaja adalah suatu periode transisi dalam kehidupan manusia yang menjembatani masa kanak-kanak dengan masa dewasa (Santrock, 2003) dan juga periode peralihan dalam beberapa aspek seperti fisik, kognitif, sosial-emosinal, dan nilai-nilai moral. Dalam membahas masa remaja, kita perlu ingat bahwa tidak semua remaja sama. Faktor biologis, etnis, budaya, gender, sosial ekonomi dan gaya hidup yang bervariasi melintasi kehidupan mereka.

Perubahan fisik secara dramatis terjadi pada masa remaja, terutama pada awal masa remaja. Perubahan besar pada fisik remaja adalah melibatkan masa pubertas dan otak. Remaja juga melewati perubahan kognitif yang signifikan, seperti kemajuan tahap perkembangan kognitif Piaget menjadi formal operasional, dengan karakteristik remaja yang dapat berpikir abstrak, idealis dan logis, serta mengembangkan perhatian pada isu-isu sosial, identitas dan isu lainya. Peningkatan pemikiran abstrak dan idealis ini menjadi dasar untuk mencari identitas diri sendiri. Banyak aspek dari perkembangan sosial-emosional seperti hubungan dengan orang tua, interaksi dengan teman sebaya dan perhabatan, serta nilai-nilai budaya dan etnis yang berkontribusi terhadap perkembangan identitas remaja.

Dalam perkembangannya mereka seringkali bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak, tetapi dilain waktu dituntut untuk bersikap dewasa dan mandiri. Pada masa remaja ini biasanya penuh dengan permasalahan pada remaja, terlebih dalam masalah sosial. Penyimpangan yang dilakukan remaja dalam maslah sosial seringkali dikaitkan dengan pelanggaran hukum atau tindak kejahatan. Penyimpangan yang dimaksud bukan hanya berbentuk bolos sekolah, tidak patuh terhadap orang tua, tetapi juga pada mengarah pada tindakan  kriminal seperti diantaranya perkelahian, tawuran, pemerkosaan, pembunuhan, dan bullying.

Dari sekian banyak penyimpangan sosial yang dilakukan remaja, perilaku bullying menjadi salah satu masalah yang telah mendunia, termasuk salah satunya di Indonesia. Perilaku bullying ini sangat rentan terjadi pada remaja, dapat terjadi disetiap tempat, mulai dari lingkungan rumah, sekolah, tempat bermain dan lingkuangan sekitar remaja lainnya.

Data terkait bullying menunjukkan bahwa terdapat 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka tersebut lebih tinggi dari tren di kawasan Asia, yakni 70%. Riset dilakukan oleh LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) yang dirilis awal Maret 2015. Riset dilakukan di 5 negara Asia, yakni Vietnam, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Indonesia yang diambil dari Jakarta dan Serang. Survei diambil pada Oktober 2013 hingga Maret 2014 dengan melibatkan 9 ribu siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orangtua, dan perwakilan LSM.

Fenomena perilaku bullying ibarat gunung es yang tampak kecil di permukaan, namun menyimpan banyak masalah yang sering tidak mudah diketahui atau tidak disadari oleh pendidik, orang tua, masyarakat, ataupun pemerintah. Perilaku bullying seringkali kurang diperhatikandi sekolah, karena dinilai tidak memiliki pengaruh besar pada siswanya,  padahal siswa tidak dapat belajar apabila berada dalam keadaan tertekan, terancam, dan ada yang menindasnya setiap hari.

Menurut Ariesto (2009), beberapa faktor penyebab terjadinya bullying ialah keluarga, sekolah, kelompok sebaya, lingkungan sosial, serta tayangan televisi dan media cetak. Ariesto mengungkapkan bahwasanya pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah, yaitu orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stres, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya.

Bentuk perilaku bullying ini terdapat dalam beberapa bentuk, antara lain direct dan indirect bullying (Surilena, 2016). Direct bullying yaitu perilaku bullying yang langsung, verbal ataupun fisik, seperti mengolok-ngolok, mengganggu, ataupun memukul reamaja lain. Sedangkan indirect bullying merupakan jenis bullying yang kurang tampak, tapi dampaknya sama. Jenis bullying ini  betsifat sosial yang menggunakan internet yang biasa dikenal dengan cyberbullying.

Banyak dampak negatif dan bahkan berbahaya dari perilaku bullying. Bullying berdampak menurunkan tes kecerdasan dan kemampuan analisis siswa yang menjadi korban, bahkan sampai berusaha bunuh diri. Bullying juga berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai nilai akademik, dan tindakan bunuh diri. Pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal dibanding yang tidak melakukan bullying. Tindakan ini juga masih menjadi masalah tersebunyi yang tidak disadari oleh para pendidik dan orang tua murid.

Karena perilaku bullying merupakan bentuk perilaku yang menyimpang dan berbahaya, maka penanganan bullying harus dilakukan secara komprehensif dan intensif. Berikut ini upaya pencegahan dan penanganan perilaku bullying (Surilena, 2016):

  • Bantu anak atau remaja untuk menumbuhkan self-esteem (harga diri) yang baik. Anak atau remaja dengan self-esteem baik akan bersikap dan berpikir positif, menghargai dirinya sendiri, menghargai orang lain, percaya diri, optimis dan berani mengatakan haknya.
  • Membina komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, mendiskusikan dengan anak tentang pemahaman perilaku bullying dan dampaknya.
  • Menjadi model atau contoh panutan yang baik bagi anak atau remaja, bagaimana selayaknya memperlakukan orang lain dengan hormat dan setara, menghargai keberagaman dan keunikan orang lain.
  • Bantu anak atau remaja berinteraksi dan bergabung dengan grup berkegiatan positif.
  • Menghentikan dan mendampingi anak atau remaja dalam menyaksikan acara TV, atau membaca atau menyaksikan berita yang menayangkan kekerasan.
  • Tidak perlu melawan pelaku dengan cara berkelahi, hal ini justru membuat kondisi tidak aman. Lebih baik mencari bantuan dari orang dewasa lain.
  • Bergabunglah dengan grup atau bertemanlah dengan siswa yang sendirian. Jangan membawa barang mahal atau banyak uang ke sekolah. Pelaku bullying memilih anak yang membawa sesuatu yang bisa mereka ambil.
  • Ajaklah anak atau remaja untuk periksa dan konsultasi ke dokter bila terdapat dampak fisik akibat perilaku bullying pada anak atau remaja seperti luka-luka di tubuh, lebam, dan lainnya.
  • Anak atau remaja diajak konsultasi ke psikolog atau psikiater bila dijumpai dampak mental seperti sering mogok sekolah, sulit tidur, sulit konsentrasi, prestasi sekolah menurun, sering mimpi buruk, menjadi cengeng atau pemarah, depresi, cemas, dan lainnya.

 

Bullying dikategorikan sebagai perilaku antisosial, yaitu perilaku yang kurang pertimbangan untuk orang lain dan dapat menyebabkan kerusakan pada masyarakat, baik sengaja atau melalui kelalaian. Perilaku antisosial bertentangan dengan perilaku prososial, yaitu perilaku yang membantu atau bermanfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, perilaku prososial juga banyak dilakukan oleh remaja. Banyak gerakan sosial atau komunitas inspiratif bermunculan di Indonesia, yang penggerak utamanya adalah remaja. Sebut saja Komunitas 1001 Buku yang berfokus untuk memfasilitasi penguatan taman-taman bacaan anak, melakukan kampanye-kampanye literasi dan memperkokoh jiwa kerelawanan di seluruh nusantara. Akademi berbagi, gerakan sosial nirlaba yang bertujuan untuk berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman. Tak ketinggalan ada Indonesia Mengajar, sebuah gerakan untuk memajukan pendidikan mulai dari pelosok Indonesia dengan mengirimkan pemuda-pemudi lulusan terbaik perguruan tinggi.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku remaja, khususnya faktor yang dapat menentukan kecenderungan tentang ke arah mana kepribadian remaja terbentuk. Salah satu faktornya yaitu sosial dan emosional pada remaja. Masa remaja seringkali dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman baru yang terkesan dramatis oleh para remaja, sebab seiring bertambahnya usia mereka, pola pikir, penghargaan terhadap diri, identitas, dan perkembangan spiritual atau religi para remaja turut berproses secara dinamis. Ornamen-ornamen yang membentuk jati diri remaja tersebut biasa dikenal dengan  sisi sosioemosi remaja. Proses perkembangan sosioemosi remaja  dapat diibaratkan sebagai sebuah tabula rasa yang dapat dibentuk dan diisi dengan berbagai macam kemungkinan hasil, baik positif maupun negatif. Hal inilah yang dapat mempengaruhi baik atau buruknya perkembangan dan kematangan diri remaja.

Adanya perilaku positif dan negatif yang dilakukan oleh remaja, salah satunya dijelaskan oleh teori belajar observasional. Teori ini sangat berkaitan dengan remaja karena pada masa remaja terjadi proses belajar atau learning yang sangat intens.

Melalui teori Bandura mengenai proses belajar observasional ini, dapat dicapai sebuah pengertian bahwasanya masa remaja ialah masa yang penuh dengan proses observasi, seleksi dan adaptasi, karena pada masa ini segala pengalaman yang didapat oleh remaja akan dapat digunakan sebagai dasar berpikir dan bertindak bagi remaja. Pada masa ini, remaja yang masih dalam proses mencari jati diri secara internal dan mendapatkan paparan stimulus dari eksternal akan sangat membutuhkan penanganan dan pengawasan secara intensif oleh orang tua. Hal yang diobservasi oleh anak akan menjadi suatu pandangan bagi mereka untuk berperilaku. Perilaku yang nantinya akan muncul bisa jadi positif dan bisa jadi negatif.

Oleh karena itu, seyogyanya orang tua menerapkan konsep parenting yang baik kepada anak ketika masih remaja sehingga anak dapat dibentuk menjadi pribadi yang berkualitas dan bijak dalam menyeleksi dan mengobservasi sesuatu disekitarnya. Sangat penting bagi orang tua dalam ikut serta mengedukasi remaja ketika sedang mengalami perkembangan, sebab usia remaja merupakan usia yang amat dinamis dan fleksibel bagi remaja untuk menggali potensi dirinya dalam rangka menjadi pribadi yang berkembang secara optimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Santrock, J. W. (1997). Life-span development. Dubuque, IA: Brown & Benchmark Publishers.

Surilena. (2016). Perilaku Bullying (Perundungan) pada anak dan Remaja. CDK Journal vol. 43, no. 1, (www.cdkjournal.com diakses 16 Agustus 2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *