KALKAPSI: Hari Kesehatan Mental Sedunia 2017

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia : Sayangi Jiwamu!

“Sehatkah jiwamu?”

Apa jawaban anda jika ditanya seperti itu? Ya atau mungkin tidak, atau bahkan ragu?

Sebelum berbicara mengenai kesehatan jiwa lebih lanjut, kita perlu mengetahui bagaimana jiwa yang sehat. Pemahaman akan jiwa yang sehat tak dapat lepas dari pemahaman mengenai sehat dan sakit secara fisik. Berbagai penelitian telah mengungkapkan adanya hubungan antara kesehatan fisik dan jiwa individu, dimana pada individu dengan keluhan medis menunjukkan adanya masalah psikis hingga taraf gangguan mental. Sebaliknya, individu dengan gangguan mental juga menunjukkan adanya gangguan fungsi fisiknya.

Menurut Karl Menninger (Dewi, 2012), individu yang sehat jiwanya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia. Sedangkan menurut Lowenthal (2006 dalam Dewi, 2012), individu yang sehat jiwanya dapat dapat didefinisikan dalam dua sisi, secara negatif dengan absennya gangguan jiwa dan secara positif yaitu ketika hadirnya karakteristik individu berjiwa sehat. Adapun karakteristik individu berjiwa sehat mengacu pada kondisi atau sifat-sifat positif, seperti: kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang positif, karakter yang kuat serta sifat-sifat baik/ kebajikan (virtues). Kartono (1989 dalam Dewi, 2012) berpendapat bahwa pribadi yang normal/ berjiwa sehat adalah pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat dan bisa diterima masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma dan pola kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan.

Kesehatan jiwa sangatlah penting, jiwa yang sehat membuat fisik kita sehat, serta memberikan kehagiaan dan kepuasaan hidup. Jika kesehatan jiwa terganggu, tentu aktifitas dan aspek kehidupan lainya pun terganggu. Harapannya semua individu memiliki jiwa yang sehat, agar terwujud masyarakat yang sejahtera. Namun faktanya, satu dari empat orang dewasa akan mengalami masalah kesehatan jiwa pada satu waktu dalam hidupnya. Bahkan, setiap 40 detik di suatu tempat di dunia ada seseorang yang meninggal karena bunuh diri (WFMH, 2016 dalam IDI).

Berdasarkan data perkiraan WHO, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2012 adalah 10.000. Tren angka tersebut meningkat dibanding jumlah kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2010 yang hanya setengahnya, yakni sebesar 5.000. dipastikan bahwa semakin tinggi tuntutan hidup seseorang di suatu tempat, maka kemungkinan seseorang menjadi depresipun meningkat. Hal ini dapat di temui di Ibu kota Jakarta misalnya, Ronny T. Wirasto, seorang Psikater, yang dalam makalahnya yang berjudual Suicide Prevention in Indonesia: Providing Public Advocacy mengatakan ada sebanyak 100.000 orang di Jakarta yang pernah mencoba untuk bunuh diri pada tahun 2006. Jika dirata-ratakan, setiap harinya ada sekitar 274 orang di ibu kota yang mencoba untuk bunuh diri pada tahun itu. Kebanyakan, kata Ronny, disebabkan masalah sosial dan ekonomi.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes tahun 2013, prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk. Sedangkan, prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun keatas mencapai sekitar 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Pada tahun 2016 data WHO (dalam Kemenkes RI) menunjukkan bahwa terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia.

Data-data tersebut menunjukkan bahwa kondisi kesehatan jiwa manusia saat ini sangat memprihatinkan dan perlu sekali adanya penanganan, terutama pada masyarakat kita sendiri. Menurut Eka Viora SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, ada kesenjangan pengobatan gangguan jiwa di Indonesia mencapai lebih dari 90 persen. Artinya, kurang dari 10 persen penderita gangguan jiwa yang mendapatkan layanan terapi oleh petugas kesehatan. Kebanyakan justru berobat ke tenaga non-medis seperti dukun maupun kiayi. Selain itu, banyaknya penderita gangguan jiwa yang belum tertangani secara medis, dikarenakan masih minimnya tenaga kesehatan jiwa profesional di Indonesia. Jumlah tenaga kesehatan jiwa profesional di Indonesia masih belum mampu memenuhi kuota minimal yang telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Saat ini, Indonesia dengan penduduk sekitar 250 juta jiwa baru memiliki sekitar 451 psikolog klinis (0,15 per 100.000 penduduk), 773 psikiater (0,32 per 100.000 penduduk), dan perawat jiwa 6.500 orang (2 per 100.000 penduduk). Padahal WHO menetapkan standar jumlah tenaga psikolog dan psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1:30 ribu orang, atau 0,03 per 100.000 penduduk.
Meski keadaannya demikian, meningkatkan kesehatan jiwa adalah peran bersama bukan hanya tanggung jawab profesi tertentu ataupun instansi terkait. Upaya-upaya preventif sangat perlu dilakukan, salah satunya bermula dari diri sendiri. Berikut langkah-langkah dalam mewujudkan jiwa yang sehat diantaraya :

  1. Amati lingkungan dan sensasi indrawi yang dirasakan seperti memperhatikan kondisi lingkungan, sensasi indrawi, dan napas.
  2. Berikan jeda sebelum melakukan aktivitas berikutnya. Banyak orang yang selalu terburu-buru saat melakukan aktivitas sehari-hari sehingga menimbulkan stres.
  3. Jadilah pendengar yang baik, dengarkan orang lain berbicara dengan penuh perhatian dan berusaha memahami kata-kata yang diucapkan.
  4. Berlatihlah memusatkan pikiran dengan memmfokuskan perhatian pada kekinian, pikiran, dan perasaan.
  5. Munculkan lagi ingatan tentang perjalanan hidup. Pemahaman yang terbentuk melalui kisah pribadi tersebut akan memengaruhi tindakan dan tujuan hidup.
  6. Perhatikan diri sendiri dengan merawat tubuh dan menjaga pikiran agar lebih menyadari diri sendiri dan lingkungan secara mental.
  7. Jangan menyalahkan diri sendiri karena mengalamibisa menimbulkan rasa putus asa dan tidak berdaya.
  8. Terima perasaan positif dan negatif sebagai hal yang normal dalam kehidupan.
  9. Konsultasi dengan ahli seperti psikolog, psikiater, ataupun konselor jika memiliki masalah jiwa yang berat
  10. Lakukan evaluasi terhadap diri sendiri dari nilai keutamaan yang diyakini, mengubah pola pikir negatif, dan menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari seperti membiasakan berinteraksi dengan orang-orang yang suportif dapat memberikan saran positif dan memberikan kehidupan yang bahagia untuk diri anda sendiri.
  11. Konsultasi dengan ahli jika memiliki masalah jiwa yang berat (seperti psikolog atau psikiater)

 

Mulai detik ini, mari bersama kita mewujudkan masyarakat sejahtera dengan jiwa yang sehat. Dan jangan lupa, sayangi jwamu!

 

Referensi

Dewi, Kartika Sari. 2012. Kesehatan Mental. Semarang. CV. Lestari Mediakreatif.

IDI. 2016. Hari Kesehatan Jiwa Sedunia : Penyebab Munculnya Gangguan Kesehatan Jiwa. (diakses pada 9 Oktober 2017 melalui http://www.idionline.org/berita/hari-kesehatan-jiwa-sedunia-penyebab-munculnya-gangguan-kesehatan-jiwa/ )

Depkes. 2013. Hasil Riskesdas 2013. (diakses pada 9 Oktober 2017 melalui www.litbang.depkes.go.id/sites/…riskesdas/Riskesdas%20Launching.pdf)

Hasil Riskesdas (2013). (diakses pada 9 Oktober 2017 melalui http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCIQFjAB&url=http%3A%2F%2Fwww.depkes.go.id%2Fresources%2Fdownload%2Fgeneral%2Fpokok2%2520hasil%2520riskesdas%25202013.pdf&ei=vm1RVfSWG8XauQS2tIHICg&usg=AFQjCNF778poFDONznZHM0IEA7JY9Viraw&sig2=3P2M1hVuhmuvatGsWUJufg&bvm=bv.92885102,d.c2E)

Depkes. 2016. Peran Keluarga Dukung Kesehatan Jiwa Masyarakat. (diakses pada 9 Oktober 2017 melalui http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html)

Wikihow. (2016). Meningkatkan kesadaran mental.(https://id.m.wikihow.com/Meningkatkan-Kesadaran-Mental?amp=1 diakses pada 10 Oktober 2017)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *