PsychoBoom: Waspada Zat Berbahaya

Waspada Zat Berbahaya

Pertengahan bulan September media dihebohkan dengan kasus penggunaan obat PCC di Kendari, Sulawesi Tenggara akibat jumlah korban yang dinilai cukup banyak. tercatat ada 76 orang korban yang menggunakan obat ini. Namun Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara Asrum Tombili mengatakan korban diperkirakan lebih dari 100 orang karena ditengarai ada korban yang tidak melapor. Mereka mengalami perilaku seperti orang gila setelah mengonsumsi pil PCC secara berlebihan. Akibatnya mereka medapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Jiwa setempat. Bahkan akibat dari pil PCC, dua orang meninggal dunia. Satu korban berusia 20 tahun berinisial ON, dilaporkan mengalami hilang ingatan setelah meminum pil PCC. Kemudian merasakan badannya panas dan menyeburkan diirnya ke laut. Hal itu membuatnya harus melalui operasi plastik akibat rusaknya wajh korban.

Korban lainnya merasa bahwa ketika mengonsumsi obat PCC, ia merasa tubuhnya panas. Setelah beberapa menit kehilangan kasadaran. Ketika korban bercermin, ia merasa wajahnya berubah bentuk menjadi aneh. Ada keinginan dalam dirinya untuk berjalan terus, tapi tidak tahu ke mana arahnya. Bahkan korban sempat lupa di mana ia berada setelah mengonsumsi obat itu. Beberapa tahun yang lalu, media sempat dihebohkan pula oleh kasus yang secara berurutan menampilkan di berbagai lokasi di Indonesia kasus yang serupa. Anak-anak muda yang dengan sengaja mengonsumsi miras oplosan kemudian diramu dengan mencampurkan berbagai bahan kimia lain ke dalamnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Gopiram dan Kishore (2014) di India, menunjukkan adanya faktor-faktor psikososial yang berkaitan dengan penyalahgunaan zat. Studi yang dilakukan dengan 40 pengguna dan 40 non-pengguna menemukan bahwa sebagian besar pengguna telah memulai menggunakan zat selama usia 15-18 tahun. Alasan di balik penggunaan zat adalah untuk ‘merasakan faktor baik (feel the good factor)’ dan ‘kebutuhan untuk bersosialisasi’. Faktor-faktor ini termasuk ‘mabuk/merasa melayang (getting high) dan melarikan diri dari stres’, ‘rasa memiliki (sense of belongingness) dengan kelompok sebaya’, juga ‘perasaan telah dewasa dan perasaan otonomi’.

Masa remaja adalah periode perkembangan fisik dan psikologis sejak awal pubertas sampai dewasa (American Heritage Dictionary). Selama masa remaja, seseorang rentan untuk terlibat dalam banyak perilaku beresiko, dan salah satunya adalah penyalahgunaan zat. Temuan keseluruhan menunjukkan bahwa pengguna tidak dapat menolak tekanan dari teman sebaya dan adanya rasa penasaran, sehingga melanjutkan perilaku penyalahgunaan zat. Sementara  non-pengguna memiliki keyakinan pribadi yang kuat bahwa perilaku penggunaan zat tidak menguntungkan. Non-pengguna tidak pernah tertarik untuk menggunakan zat karena nilai-nilai pribadi. Kesadaran tentang dampak buruk pada kesehatan dan nilai keluarga adalah faktor sekunder yang mencegah mereka dari penggunaan zat.

Beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna menyadari potensi efek negatif dari zat, namun memulai penggunaan zat karena adanya pengaruh dari teman sebaya dan rasa ingin tahu. Di antara semua faktor ini, pengaruh teman sebaya terhadap inisiasi zat sangat terlihat, bahkan sampai pada tahap prediktif tunggal. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan perkataan pengamat farmasi, Anthony Charles Sunarjo, bahwa faktor psikologis remaja dan anak-anak yang masih mencari jati diri menyebabkan para remaja tersebut mengonsumsi pil PCC. Apalagi adanya keinginan untuk mendapatkan predikat sebagai remaja yang kuat, disertai rasa ingin tahu yang besar, menambah keinginan mereka untuk mengonsumsi pil PCC (Kumparan.com, Sabtu, 16/9/2017).

Menurut PPDGJ-III, penyalahgunaan zat menggunakan bemacam variasi obat jadi, obat generik, dan jamu atau obat tradisional, tetapi terdapat  3 kelompok yang paling sering digunakan, yaitu obat psikotropik yang tidak menyebabkan ketergantungan seperti antidepresif, pencahar dan analgetika yang dapat diperoleh tanpa resep dokter seperti aspirin dan parasetamol. Walaupun pada awalnya, obat tersebut direkomendasikan oleh dokter akan tetapi kemudian diperpanjang secara tidak perlu, bahkan penggandaan dengan dosis berlebihan, terutama karena tersedianya zat tersebut dan mudahnya diperoleh tanpa resep dokter.

PCC termasuk dalam kategori obat keras, namun KEMENKES mengkategorikan obat PCC sebagai obat ilegal tetapi bukan narkotika. PCC sendiri adalah singkatan dari Paracetamol, Cafein, dan Carisoprodol. Paracetamol atau disebut acetaminophen termasuk ke dalam jenis obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas. Paracetamol biasanya digunakan untuk mengurangi gejala rasa sakit untuk sakit kepala, flu, nyeri karena haid, sakit gigi, nyeri sendi dsb. Tablet paracetamol 500mg diminum setiap 6 jam sekali untuk mencapai efek penghilang rasa nyeri ini.

Ada beberapa efek samping paracetamol, seperti mual, sakit perut bagian atas, gatal-gatal, kehilangan nafsu makan, urin berwarna gelap serta feses pucat hingga warna kulit dan mata menjadi kuning. Namun, gejala-gejala seperti di atas tidak umum dirasakan oleh orang banyak tentu dengan mengonsumsi sesuai aturan.

Caffeine atau kafein adalah zat yang terdapat pada kopi, teh ataupun cola untuk meningkatkan kesadaran, fokus, dan waspada. Makanya, ketika sehabis minum kopi rasa ngantuk Anda akan hilang atau berkurang. Atlet bahkan menjadikan kafein sebagai stimulan karena kemampuannya yang hebat serta kafein merupakan stimulan yang diizinkan penggunaannya oleh asosiasi atlet Amerika Serikat atau disebut National Collegiate Athletic Association (NCAA).

Dalam dunia medis, kafein biasa digunakan sebagai kombinasi dari painkiller. Dalam hal ini, kafein bisa ditambahkan bersama dengan paracetamol. Kafein juga digunakan untuk asma, infeksi kandung kemih, hingga tekanan darah rendah.Kafein bekerja dengan memberi stimulasi pada sistem syaraf pusat, jantung dan otot pada tubuh.

Efek dari kafein adalah meningkatkan tekanan darah serta melancarkan aliran urin. Namun, efek ini bisa jadi tidak akan terjadi pada orang yang sudah rutin meminum kafein.Kafein juga memiliki aturan dalam penggunannya. Konsentrasi kafein yang terdapat pada urin tidak boleh mencapai 16mcg/mL.Untuk mencapai angka tersebut, dibutuhkan meminum 8 gelas kopi. Sehingga, pada umumnya kafein adalah zat yang relatif aman untuk rutin dikonsumsi.

Jika berlebihan, kafein bisa menyebabkan beberapa efek samping seperti cemas, serangan panik, naiknya asam lambung, peningkatan tekanan darah dan insomnia. Bagi Anda yang memang memiliki masalah kesehatan seperti maag atau hipertensi, efek ini bisa dengan mudah terjadi. Jika paracetamol dan kafein adalah zat yang umum dikonsumsi dan relatif aman sehingga dijual bebas, berbeda halnya dengan carisoprodol.

Carisoprodol adalah obat terbatas yang hanya bisa digunakan berdasarkan resep dokter.Obat ini termasuk jenis obat muscle relaxer atau obat yang membuat relaks otot yang akan memotong rasa sakit yang mengalir dari syaraf ke otak di kepala. Carisoprodol digunakan bersama untuk terapi fisik seperti otot dan tulang, misalnya pada cedera. Mengonsumsi obat ini dapat menyebabkan ketergantungan.Karena efek ini, obat ini sebenarnya tidak dijual bebas dan hanya boleh dibeli dengan resep dokter.Efek sampingnya akan memengaruhi syaraf dan reaksi tubuh.Jika diminum bersama alkohol, obat ini akan membuat Anda merasakan kantuk yang amat parah hingga rasa pusing.

Ada beberapa efek samping yang dapat muncul dari konsumsi carisoprodol. Jika Anda mengalami gejala ini, segera hentikan penggunaan obat ini seperti kehilangan kesadaran, merasa sangat lemah hingga koordinasi tubuh yang buruk, detak jantung sangat cepat dan kejang-kejang serta kehilangan penglihatan.

Apa yang terjadi jika ketiga obat ini diminum bersamaan?

Jika seseorang mencampur dan mengonsumsi ketiga obat ini secara bersamaan, sebagai obat PCC, efek masing-masing obat akan saling bekerja sama. Obat PCC pada akhirnya merusak susunan saraf pusat di otak. Perwujudan kerusakan saraf pusat otak bisa beragam, namun obat PCC secara spesifik memunculkan efek halusinasi yang tampak pada beberapa korban.Perubahan mood yang signifikan juga sering terjadi, begitu juga dengan gangguan perilaku dan emosi juga dapat terjadi pada pengguna obat PCC. Gangguan ini sering disebut dengan istilah “bad trip” yaitu gejala cemas, ketakutan, dan panik yang terjadi pada pengguna obat. Selain itu, penyalahgunaan obat ini dapat menyebabkan overdosis hingga kematian

Bibliography

Gopiram, P., & Kishore, M. T. (2014). Psychosocial Attributes of Sustance Abuse Among Adolescents and Young Adults: A Comparative Study of Users and Non-users. Indian Journal od Psychological Medicine, 36(1), 58-61.

Hidayat, F. (2017, September 16). Marak Peredaran PCC, BPOM: Jangan Beli Obat Selain di Apotek. Retrieved from Detik: https://m.detik.com/news/berita/d-3645610/marak-peredaran-pcc-bpom-jangan-beli-obat-selain-di-apotek

Kompas. (2017, September 19). Loncat ke Laut, Korban PCC Harus Dioperasi Plastik. Retrieved from Regional Kompas: http://regional.kompas.com/read/2017/09/19/20170631/loncat-ke-laut-korban-pcc-harus-dioperasi-plastik

Kumparan. (16, September 2017). Remaja Gunakan Pil PCC karena Cari Jati Diri, Ingin Dianggap Kuat. Retrieved from Kumparan: https://kumparan.com/nadia-riso/remaja-gunakan-pil-pcc-karena-cari-jati-diri-ingin-dianggap-kuat

Maslim, R. (2001). Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.

Sutriyanto, E. (2017, September 18). Menguak Kandungan dan Bahaya Overdosis Obat PCC. Retrieved from Tribun News: http://m.tribunnews.com/amp/kesehatan/2017/09/18/menguak-kandungan-dan-bahaya-overdosis-obat-pcc

Syadri, M. (2017, September 16). Bikin Merinding! Ini Pengakuan Korban Pil PCC Setelah Sadar. Retrieved from Jawa Post: https://www.jawapos.com/read/2017/09/16/157489/bikin-merinding-ini-pengakuan-korban-pil-pcc-setelah-sadar

Tayubi, K. (2016, Mei 28). Dua Pelajar Tewas Usai Pesta Miras Campur Obat Batuk. Retrieved from Metro TV News: http://jateng.metrotvnews.com/peristiwa/9K5GrBxb-dua-pelajar-tewas-usai-pesta-miras-campur-obat-batuk

Tempo. (2017, September 15). Korban Obat PCC di Kendari Diperkirakan 100 Orang . Retrieved from Nasional Tempo: https://nasional.tempo.co/read/909443/korban-obat-pcc-di-kendari-diperkirakan-100-orang

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *