KALKAPSI: Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia

Tahun 2004 Indonesia dikagetkan dengan kasus terbunuhnya aktivis HAM Indonesia, Munir said Thalib. Terlebih cara Munir terbunuh membuat publik bertanya-tanya. Ia diracun di dalam pesawat, ketika melakukan penerbangan ke Belanda untuk melanjutkan sekolah magisternya di sana. Dari hasil autopsi ditemukan senyawa arsenik dalam tubuh Munir, yang menjadi penyebab kematiannya.

 

Yang membuat publik bertanya-tanya lagi, pelaku dari pembunuh Munir.  Pengadilan menjatuhkan vonis 14 tahun penjara terhadap Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda Indonesia. Banyak pihak yang menganggap otak dari pembunuhan ini sebenarnya masih berkeliaran bebas. Kapolri sudah berganti tujuh kali, pelaku yang dianggap otak dari pemubuhan Munir belum juga didapat.

 

Tahun 1998 hal yang sama juga terjadi. Kasus yang diawali dari gerakan mahasiswa menuntut Presiden Soeharto untuk mundur karena dinilai tak bisa menanggulangi krisis ekonomi yang diduga karena salah urus negara dan merebaknya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di kalangan pejabat negara. Awalnya hanya terjadi di berbagai kampus di pulau jawa, kemudian menyebar ke kampus-kampus lain di Padang, Makasar, Medan, Lampung, dan Denpasar. Empat mahasiswa Trisakti menjadi korban saat itu. Kasus ini pun merambah ke kasus kerusuhan yang terjadi di sepanjang jalan semanggi, yang menelan korban jiwa. Sama dengan kasus-kasus di masa lalu lainnya, tak pernah ada tersangka dalam tragedi berdarah di Kampus Trisakti maupun yang trejadi di sepanjang jalan semanggi.

 

Dari hasil pengumpulan database nasional yang didokumentasikan KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran) selama satu tahun enam bulan dan diliris pada 2014, Kamala menyebutkan bahwa selama 40 tahun, yaitu periode 1965 – 2005, jumlah kasus pelanggaran HAM mencapai 1.300 kasus.

 

Hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada semua manusia, apapun kewarganegaraan, tempat tinggal kita, jenis kelamin, asal bangsa atau etnis, warna kulit, agama, bahasa, atau status lainnya. Kita semua sama-sama berhak atas hak asasi manusia kita tanpa diskriminasi. Hak-hak ini saling terkait, saling tergantung dan tidak dapat dibagi.

 

Visi American Psychological Association menyatakan bahwa hal itu menjadi ” penerapan psikologi efektif  untuk mempromosikan hak asasi manusia, kesehatan, kesejahteraan dan martabat” (American Psychological Association, 2009).

 

Psikologi dan hak asasi manusia memiliki hubungan yang dekat. Keduanya menaruh perhatian pada objek yang sama, yaitu manusia. Keduanya juga mengupayakan hal yang hampir mirip, yaitu menjadikan manusia bebas, sehat dan dapat bertindak sesuai dengan rangsangan yang datang padanya.

Psikologi juga memiliki peran dalam menegakan Hak asasi manusia.

1. Pendukung pertama bagi hak asasi manusia. Psikologi dalam kelompok interaksi dapat menyokong mekanisme yang mendukung divisi yang lebih besar dan merancang strategi untuk mengatasi masalah yang dihasilkan

2. Kedua, psikologi dapat menawarkan alat metodologis dan bukti empiris yang penting mendukung klaim abstrak yang melekat pada hak asasi manusia. Psikolog forensik mungkin yang paling contoh yang menonjol karena membantu menemukan pelanggaran hak asasi manusia dan bersaksi di pengadilan (Ward, Gannon, & Vess, 2009). Dengan cara lain, psikologi sosial dan budaya juga memberi kritik alat dan wawasan. Buku Judith Herman (1997) tentang trauma dan pemulihan menata ulang bagaimana caranya korban dan kejadian traumatik dipahami, membawa perhatian pada budaya dan struktural elemen yang harus dikenali dan dipertimbangkan dalam diagnosa.

3. Sebagai dukungan ketiga, psikologi dapat mendorong konsepsi hak asasi manusia yang mengarah pada lebih jelas dan definisi yang lebih mendasar, serta memberikan dasar untuk advokasi yang lebih kuat

 

Daftar Pustaka

Galih, Bayu. 7 September 2004, Munir Said Thalib Tewas Dibunuh… (2014, 7 september). Diperoleh 17 Desember 2017 dari http://nasional.kompas.com/read/2017/09/07/06110011/7-september-2004-munir-said-thalib-tewas-dibunuh–?page=all

Suryowati, Estu. Enam Pola Pelanggaran HAM di Indonesia yang Selalu Berulang. (2017, 17 September). Diperoleh 17 Desember 2017 dari http://nasional.kompas.com/read/2017/09/19/21115531/enam-pola-pelanggaran-ham-di-indonesia-yang-selalu-berulang

Anonim. What are human rights?

http://www.ohchr.org/EN/Issues/Pages/WhatareHumanRights.aspx

Rinaldo. Petang Mencekam di Kampus Trisakti 12 Mei 1998. (2017, 12 Mei). Diperoleh 17 Desember 2017 dari http://news.liputan6.com/read/2948521/petang-mencekam-di-kampus-trisakti-12-mei-1998

Velez, Gabriel. (2016). Introduction to the Special Issue: The Intersection of Psychology and Human Rights. Psychology & Society : Chicago. Vol. 8 (2), 1-7

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *