World Bipolar Awareness Day 2018

PicsArt_03-30-01.26.40 (1)

World Bipolar Awareness Day 2018: Saatnya Hilangkan Stigma Negatif Terhadap Penderita!

Oleh: Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan ILMPI Wilayah II


Bagi pecinta musik rock, nama grup musik The Cranberries pastinya sudah tidak asing lagi di telinga. Lagu ‘zombie’ yang dibawakan band asal Irlandia di era 1990-an ini masih sering diputar di berbagai penjuru dunia. Kepopuleran The Cranberries sebagai salah satu grup musik rock terkenal di dunia tidak pernah lepas dari andil sang vokalis, Dolores O’Riordan. Januari 2018 yang lalu, perempuan kelahiran tahun 1971 ini menghembuskan nafas terakhirnya di usia 46 tahun.

Penyebab kematian Dolores yang belum diketahui pasti menyiratkan sebuah tanda tanya mengenai apa yang ia alami sebelum ajal menjemputnya. Diketahui, sejak beberapa tahun yang lalu, Dolores mengalami gangguan Bipolar. Dikutip dari BBC.com(2018), Dolores O’Riordan dibawa ke rumah sakit di Limerick setelah ditanyai oleh polisi dan kemudian dipulangkan. Ia memang didiagnosis menderita gangguan bipolar pada tahun 2015, yang menjelaskan pengalamannya mengalami keadaan “manic” di pesawat.

National Institute of Mental Health US(2018), mendefinisikan bipolar sebagai gangguan pada otak yang menyebabkan fluktuasi yang luar biasa dalam hal mood, energi, tingkat aktivitas, dan kemampuan menjalani tugas rutin. Seseorang yang mempunyai gangguan ini akan mengalami periode manik atau “naik”, saat-saat ia begitu bergembira dan berenergi. Namun, ia seketika bisa masuk ke periode depresif atau “turun”, seakan ‘terbalut’ kesedihan.

Menurut NIMH pula, ada empat tipe dasar gangguan bipolar; yang semuanya melibatkan perubahan yang jelas dalam suasana hati, energi, dan tingkat aktivitas. Keempat tipe tersebut diantaranya:

• Bipolar I Disorder – disebabkan oleh episode manik atau “naik”, yang berlangsung setidaknya 7 hari atau oleh gejala manik yang begitu parah sehingga orang tersebut perlu segera dirawat di rumah sakit. Biasanya, episode depresif terjadi juga, biasanya berlangsung setidaknya 2 minggu. Episode depresi dengan fitur campuran (memiliki gejala depresi dan manik pada saat yang sama) juga dapat terjadi.

• Bipolar II Disorder – yakni berlangsungnya pola episode depresif dan episode hipomanik, tetapi bukan episode manik.

• Cyclothymic Disorder (juga disebut cyclothymia) – yaitu gangguan yang terjadi karena banyaknya periode gejala hipomanik dan gejala depresi yang berlangsung setidaknya 2 tahun.

• Other Specified and Unspecified Bipolar and Related Disorders- merupakan gejala gangguan bipolar selain tipe-tipe diatas.

Orang dengan gangguan bipolar mengalami periode emosi yang luar biasa intens, perubahan dalam pola tidur dan tingkat aktivitas, dan perilaku yang tidak biasa. Periode-periode yang berbeda ini disebut “episode suasana hati.” Episode mood secara drastis berbeda dari suasana hati dan perilaku yang khas untuk orang tersebut. Perubahan ekstrem dalam energi, aktivitas, dan tidur sejalan dengan episode suasana hati.

Gangguan bipolar terjadi karena beberapa hal, pertama karena faktor genetik.
Kerner(2014), menunjukkan bahwa banyak wilayah kromosom dan gen para penderita bipolar yang menurunkan potensi kepada keturunannya untuk menderita bipolar juga. Efek potensi tersebut mengarah dari ringan hingga sedang. Kedua, karena faktor lingkungan. Faktor lingkungan memiliki peranan penting. Melalui interaksi dengan individu lain, potensi munculnya gangguan bipolar. Ada kemungkinan bahwa peristiwa kehidupan di masa lalu penderita dan hubungan interpersonal berkontribusi pada awal dan kambuhnya episode mood bipolar, seperti yang mereka lakukan untuk depresi unipolar.

Penelitian menemukan bahwa 30-50 persen orang dewasa yang didiagnosis dengan gangguan bipolar melaporkan pengalaman traumatisnya mengalami tindakan kasar pada masa kanak-kanak. Pengalaman traumatis tersebut menyebabkan beberapa hal, seperti tingkat upaya bunuh diri yang lebih tinggi, dan lebih banyak gangguan seperti PTSD(Milkowitz dan Chang, 2008). Jumlah kejadian stres yang dilaporkan di masa kanak-kanak lebih tinggi pada mereka dengan diagnosis dewasa gangguan spektrum bipolar dibandingkan dengan mereka yang tidak, terutama peristiwa yang berasal dari lingkungan yang keras daripada dari perilaku anak itu sendiri.

Bipolar sendiri merupakan gangguan psikologis yang dapat disembuhkan. Gangguan ini dapat disembuhkan dengan mengikuti pengobatan secara berkala. Pengobatan yang akan dilakukan biasanya berkaitan dengan penggunaan obat-obatan dengan dosis khusus, dukungan psikologis, dan latihan dalam bersosialisasi.

Stigma Negatif pada Penderita Gangguan Bipolar

Seperti halnya gangguan mental lain, stigma negatif pun muncul pada penderita bipolar. Masyarakat awam menganggap bahwa bipolar merupakan gangguan yang berbahaya, dan penderitanya harus dihindari. Stigma negatif tersebut dapat memberikan dampak yang buruk, meski pada kenyataannya bipolar disorder merupakan gangguan yang dapat disembuhkan dan tergolong tidak berbahaya.

Implikasi yang paling umum adalah semakin tidak beraninya penderita bipolar untuk mengungkapkan apa yang ia alami karena lingkungan yang tidak mendukung. Hal ini menjadi sangat disayangkan karena penanganan dini dibutuhkan untuk mencegah gangguan yang semakin parah. Stigma negatif juga dapat membuat penderita semakin depresi, dan akan beralih ke hal-hal yang membuat kondisi fisiknya semakin buruk, seperti tidak tidur, atau mengonsumsi obat-obatan terlarang dan alkohol. Dalam kasus Dolores O’Riordan, dan beberapa public figure yang menderita bipolar juga, dampak stigma negatif akan semakin parah karena tekanan sosial yang berat, di mana sebagai orang terkenal mereka harus berurusan dengan orang-orang di luar pergaulannya yang bisa jadi memiliki stigma negatif.

Kesimpulannya adalah masyarakat belum tercerdaskan terkait bipolar disorder, penyebab, jenis-jenis, pengobatan dan cara penanganannya. Hal ini menjadi tugas bersama antara pemerintah, masyarakat dan terutama mahasiswa untuk menyadarkan awam agar peduli terhadap para penderitanya. Ayo kita bangun kesadaran bersama!

World Bipolar Awareness Day 2018: Resolusi baru Menghapus Stigma Negatif Penderita Bipolar
Dalam rangka menyambut World Bipolar Awareness Day 2018 pada tanggal 30 Maret, Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyuarakan penghapusan stigma negatif terhadap penderita bipolar. Seperti yang kita ketahui, penderita Bipolar butuh penanganan, bukan pengucilan, atas dasar-dasar kemanusiaan, ayo kita suarakan!

Daftar Pustaka:

BBC.com(2018). Cranberries singer Dolores O’Riordan dies suddenly at the age of 46.
Retrieved from http://www.bbc.com/news/entertainment-arts-42696376
Kerner, B.(2014). Genetics of Bipolar Disorder. Appl Gen Client. 7:33-42.
Doi:10.2147/tacg.s39297

Miklowitz, D.J., Chang, K.D.(2008). Prevention of bipolar disorder in at-risk children:
Theotrical assumption and empirical foundations. Development and Psychopathology. 20 (3): 881–897. doi:10.1017/S0954579408000424.
National Institute of Mental Health(2018). Bipolar disorder. Retrieved 29 March 2018 from
https://www.nimh.nih.gov/health/topics/bipolar-disorder/index.shtml

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *