Kajian World Autism Day 2018

previewKajian World Autism Awareness Day 2018 

Oleh: Lestari, Staf Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan ILMPI Wilayah 2


Autism Spectrum Disorder (ASD) atau lebih dikenal dengan Autisme berasal dari bahasa Yunani yaitu autos yang berarti diri sendiri. Autisme bukan suatu jenis penyakit tetapi merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak yang memengaruhi komunikasi dan perilaku. Autisme dikenal sebagai gangguan “spektrum” karena ada variasi luas dalam jenis dan tingkat keparahan gejala yang dialami. Gejala ASD biasanya muncul saat anak berusia 3 tahun. Pada sebagian kecil kasus penderita ASD sempat berkembang secara normal, terhenti saat memasuki usia 3 tahun, mengalami kemunduran dalam perkembangan, dan menunjukkan gejala Austism Spectrum Disorder. Tidak semua anak dengan ASD akan menunjukkan gejala yang sama, tetapi sebagian besar akan menunjukkan beberapa gejala.

Adapun gejala ASD di antaranya :

  1. Gangguan bidang komunikasi verbal dan non-verbal, seperti terlambat bicara, meracau dengan bahasa yang kurang tepat, dan banyak membeo (echolallia)
  2.  Gangguan dalam interaksi sosial, seperti menghindari kontak mata, tidak menengok bila dipanggil, cenderung tidak mendengarkan perkataan orang lain, dan asyik bermain dengan dunianya sendiri.
  3.  Gangguan dalam bidang perilaku, seperti adanya perilaku yang berlebihan (excessive) – adanya hiperaktivitas, mengulang-ulang suatu gerakan tertentu, dan kekurangan (deficient) – bengong, terpukau pada satu hal, memiliki minat yang kuat pada suatu benda
  4.  Gangguan dalam hal perasaan dan emosi, seperti kurangnya rasa empati, sering mengamuk tidak terkendali (tantrum) yang cenderung menjadi agresif dan destruktif.
  5.  Gangguan dalam persepsi dan sensori, seperti tidak menyukai rabaan dan pelukan, menciumi, menggigit, atau menjilati mainannya.

Terlepas dari semua gejala ASD tersebut, ternyata anak dengan ASD memiliki banyak keunggulan. Seperti penelitian Vinod Menon dari Stanford University yang melibatkan 18 anak dengan ASD dan 18 anak tanpa ASD berusia 7 – 12 tahun membuktikan bahwa anak dengan ASD lebih unggul dalam tes matematika daripada anak tanpa ASD.

Penelitian yang sama menunjukkan pola yang luar biasa pada area ventral temporal occipital cortex yang berfungsi dalam hal mengingat wajah dan objek visual lainnya. Anak dengan ASD pun terbukti lebih kreatif dibandingkan anak tanpa ASD seperti penelitian yang dilakukan di Inggris pada 312 partisipan yang di dalamnya terdapat 75 partisipan dengan ASD. Partisipan diminta untuk menginterpretasikan beberapa gambar dalam satu menit, dan hasilnya partisipan yang didiagnosis dengan ASD, lebih tepat dalam menginterpretasikan gambar dibandingkan partisipan lain tanpa ASD.

gambar dibandingkan partisipan lain tanpa ASD. Mendapatkan diagnosa ASD juga tidak menghalangi seseorang untuk berkarya. Beberapa dari mereka yang mendapat diagnosa ASD bahkan memiliki hasil karya yang dikenal di mata dunia. Satoshi Tajiri misalnya, ia merupakan pria kelahiran Jepang yang mendapat diagnosa ASD dan juga merupakan penemu dari animasi terkenal Pokemon yang sampai saat ini animasi tersebut masih dapat kita jumpai dimana-mana.

Menurut psikiater dan pemerhati autisme, dr. Kresno Mulyadi, Sp.Kj autisme dapat disembuhkan melalui dua cara yakni ; terapi intensif, dan diet khusus. Terapi yang dapat dilakukan meliputi terapi tingkah laku menggunakan metode Applied Behavior Analysis (ABA), sedangkan untuk diet penyandang ASD tidak diperbolehkan mengonsumsi terigu, cokelat, dan susu. Pada penyandang ASD terjadi peningkatan daya serap protein yang dapat masuk ke peredaran darah dan terbawa ke otak, sehingga dapat memperburuk kondisi penyandang ASD.

Di Indonesia sendiri masih terdapat kekeliruan persepsi mengenai anak dengan ASD, salah satunya adalah beranggapan bahwa ASD adalah penyakit dan dapat menular pada anak lainnya, sehingga tidak jarang anak dengan ASD mengalami diskriminasi, penolakan, dan bahkan bullying di sekolah. Padahal penerimaan anak dengan ASD mempunyai peranan penting dalam keberhasilan pemulihan.

Dalam rangka menyambut World Autism Awareness Day 2018, ILMPI Wilayah 2 mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian bagi orang-orang yang mengidap ASD! Salam Psikologi!

Daftar Pustaka :

Detik Health(2013). 7 Kisah Sukses Penyandang Autis Paling Terkenal di Dunia. Retrieved 31 March 2018 from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/2209176/7-kisah-sukses-penyandang-autispaling-terkenal-di-dunia/2/#news

Faztiyati, W. (2013). Autismaze Ubah Persepsi Keliru Tentang Anak Autis. Retrieved 30 March 2018 from: https://lifestyle.kompas.com/read/2013/09/27/1745395/Autismaze.Ubah.Persepsi.Keli ru.tentang.Anak.Autis

National Institute of Mental Health(2018). Autism Spectrum Disorder. Retrieved 31 March 2018 from: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/autism-spectrum-disorders-asd/index.shtml

Wahyudi, I. (2014). Autis dapat Disembuhkan dengan Dua Cara Ini. Retrieved 30 March 2018 from: https://www.antaranews.com/berita/426756/autis-dapat-disembuhkan-dengan-dua-car a-ini

Widiyani, R.(2013). Anak Autis Unggul dalam Matematika. Retrieved 31 March 2018 from: https://lifestyle.kompas.com/read/2013/08/19/1209000/Anak.Autis.Unggul.dallam.Ma tematika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *