Voting’s Behavior

Ada Apa di balik Pilihan Rakyat?

Dalam masyarakat demokrasi , terdapat sebuah prosedur dalam memilih pemimpin rakyat. Prosedur tersebut sering dianggap sebagai pesta rakyat karena seluruh lapisan masyarakat ikut merayakannya. Dalam proses pemilihan tersebut, terdapat hal yang mrnatik untuk dikaji, yaitu perilaku memilih. Berikut ulasannya:

Keyakinan Keluarga atau Orang Tua

Pada umumnya, mulai dari kecil hingga dewasa manusia hidup bersama-sama dengan keluarga. Oleh sebab itu, keluarga, khususnya orang tua menjadi significant others. Status sebagai significant others membuat orang tua memiliki peran penting dalam mempengaruhi perilaku seseorang, termasuk perilaku memilih pada konteks politik. Studi yang dilakukan Gross (2007) menunjukkan bahwa anak dengan orang tua yang tertarik, aktif, dan sering mengkomunikasikan topik politik ke mereka, cenderung memutuskan untuk memilih pada Pemilu. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi sehari-hari yang dilakukan orang tua merupakan faktor penting yang mendasari seseorang untuk menggunakan hak politiknya sebagai warga negara.
Selain keputusan untuk memilih, kandidat yang menjadi pilihan seseorang dalam pemilu juga banyak dipengaruhi oleh faktor keluarga / orang tua. Dua pengaruh yang paling besar dalam membentuk orientasi politik seseorang adalah tendensi politik orang tua dan tekanan sosial di masa orang tersebut berpartisipasi dalam Pemilu. Studi yang dilakukan Beck, Allens, dan Jennings (1991) menunjukkan bahwa besar kemungkinan seorang anak akan memilih kepercayaan politik yang sama dengan orang tuanya. Oleh karena itu, parental memiliki peran penting dalam melatarbelakangi perilaku seseorang memilih calon presiden maupun partai politik.

Media
Media massa memiliki peran yang sangat penting dalam mempengaruhi perilaku memilih masyarakat (Alfani, 2011). Media Massa merupakan suatu sumber informasi, hiburan, dan sarana promosi atau iklan (Romli, 2013). Dalam pemilu sendiri, peran utama media massa adalah untuk memfokuskan perhatian masyarakat pada kampanye yang sedang berlangsung serta memberikan berbagai informasi mengenai kandidat dan isu politik yang ada. Namun, di negara yang melegalkan iklan sebagai salah satu bentuk kampanye, iklan politik di media massa menjadi salah satu alat yang paling sering digunakan kandidat untuk mendapatkan suara dari para pemilih (Monle Lee & Carla Johnson). Bartels dan Jamieson (dalam Alfani, 2011) membagi iklan politik menjadi 3 macam, yaitu:
1. Iklan advokasi kandidat
Iklan yang menekankan pujian terhadap kualifikasi seorang calon.
2. Iklan menyerang (attacking)
Iklan yang berfokus pada kegagalan dan masa lalu yang jelek dari kompetitor. Pendekatannya adalah ritualistic (mengikuti alur permainan lawannya, ketika diserang, akan balik menyerang).
3. Iklan memperbandingkan (contrasting)
Iklan yang menyerang kandidat lain dengan cara membandingkan data tentang kualitas, rekam jejak, dan proposal antar kandidat.
Sebenarnya, media massa dituntut untuk memberitakan semua kandidat dalam pemilu secara adil sehingga iklan politik tidak boleh memihak pada salah satu kandidat. Sayangnya, media massa dipengaruhi supply and demand karena produknya yang berupa informasi adalah suatu komoditas yang dapat diperjualbelikan dalam pasar informasi (Alfani, 2014).

Isu yang Dibawa
Isu-isu penting yang diangkat oleh calon pemimpin bukan berarti tanpa arti. Krosnick (1988, 1990, dalam Fournier, Blais, & Nadeau, 2003) menyebutkan bahwa berbagai macam isu penting dapat menjadi perantara bagi seseorang untuk menentukan pilihannya.

Identitas
Hayes (2009) menyatakan bahwa persepsi pemilih akan identitas personal kandidat yang akan dipilih dapat mempengaruhi keputusan dalam memilih. Hayes menambahkan, penilaian para pemilih atas kandidat tidak hanya berdasarkan pada apa yang mereka katakan, namun pada bagaimana mereka bertindak, berperilaku, dan apa yang mereka sukai (Hayes, 2009).
Persepsi
Perilaku individu seseorang sangat dipengaruhi oleh persepsi individu tersebut terhadap dunia karena apa yang kita lihat di dunia adalah hasil dari persepsi kita terhadap sebuah fenomena. Perilaku individu juga tidak terlepas dari persepsi individu terhadap calon yang akan dia pilih. Tentu saja banyak penyebab yang mempengaruhi tentang persepsi, tetapi pertanyaannya adalah kenapa kita bisa memiliki sebuah persepsi terhadap sesuatu dan kenapa persepsi tersebut dapat berubah?
Apabila kita tarik dari sejarah, pertanyaan ini sudah sering kali dibahas dan terus menjadi pertanyaan yang sangat menarik yang sampai sekarang belum diketahui secara menyeluruh. Francis Bacon bahkan mengatakan bahwa manusia adalah sumber dari berbagai kesalahan dalam persepsi karena ketika seseorang meyakini sesuatu, maka dia akan mencari berbagai macam bukti untuk mendukung pendapatnya.
Tapi pertanyaannya kenapa persepsi manusia itu berbeda-beda terhadap suatu hal yang sama? Teori social stereotype dapat digunakan untuk menjelaskan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Menurut Snyder, Berscheid, dan Tanke (1977) social stereotype adalah kasus khusus tentang persepsi interpersonal. Social stereotype adalah jenis persepsi yang simpel, overgeneralisasi, dan biasanya bias, namun pada kondisi dimana kita tidak memiliki informasi apa pun, cara ini adalah cara yang paling mungkin dilakukan ( Tversky & Kahneman dalam Snyder dkk.) Ketika kita telah mengadopsi social stereotype tertentu kita akan cenderung berusaha mencari bukti yang mendukung hal tersebut. Social stereotype juga sangat berpengaruh pada perilaku yang akan kita lakukan kedepannya.

Pemilih Rasional
Pemilih rasional adalah pemilih yang mengedepanlan fsktor objektivitas dalam memilih calon oemimpin. Untuk mencapai level pemilih rasional, banyak cara yang dapat dilakukan. Salah satunya dengan kritis dalam memilih. Kritis yang paling mudah adalah upayakan untuk mengetahui isu yang akan dibawa oleh pemimpin. Selain itu, penjabaran visi dan track record idealnya merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum memilih. Selanjutnya, jangan terpengaruh pada partai partai besar saja. Jangan gunakan mode kampanye yang tidak reflektif dengan kualitas pemimpin sebagai dasar kita memilih sehingga bisa menciptakan pemilu yang cerdas, aktif, dan sesuai harapan bangsa.

Kesimpulan
Beberapa faktor di atas adalah beberapa hal yang dapat melatarbelakangi perilaku memilih seseorang. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku memilih seseorang dapat terjadi secara tidak sadar maupun sadar, terlihat maupun tidak terlihat. Faktor yang memengaruhinya pun beragam, mulai dari lingkup terdekat seperti keluarga hingga bahkan hal-hal yang tidak relevan dengan kualitas pemimpin itu sendiri seperti politik uang. Hal ini menjadi refleksi tersendiri bagaimana pentingnya menjadi pemilih rasional. Setiap orang mempunyai alasan atas pilihannya dalam menyikapi Pemilu dan pilihannya terhadap kandidat. Pada dasarnya, semua orang berhak menentukan sikap dan pilihannya, tetapi yang penting ialah sikap dan pilihan tersebut diputuskan melalui pertimbangan yang kritis dan matang.

REFERENSI

Alfani, H., Putra, A. M., Zubair, A., Sumarkidjo, A., Putra, D. K. S., et al. (2011). Media dan komunikasi politik. Puskombis UMS dan Aspikom: Jakarta

Beck, Allen, P., & Jennings, M. K. (1991). Family traditions, political periods, and the development of partisan orientations. Journal of Politics, 53, 742-763

Fournier, P., Blais, A., Nadeau, R., Gidengil, E., & Nevitte, N. (2003). Issue importance and performance voting. Political Behavior, 25 (1), 51-67

Gross, J. (2007). The influence of parents in the voting behavior of young people: A look at the national civic and political engagement of young people survey and the 2008 presidential election. Public Opinion and Survey Research (PS115) Professor Portney, 1-15

Lee, M. & Johnson, C. (1999). Principles of advertising. Haworth Press: Philadelphia

Lingkaran Survey Indonesia. (2008). Kajian bulanan edisi 09: Faktor etnis dalam Pilkada. Diakses di https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CCkQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.researchgate.net%2Fprofile%2FNyarwi_Ahmad%2Fpublication%2F235990128_KAJIAN_BULANAN_EDISI_JANUARI_2008_(PDF)%2Ffile%2F3deec51544efbc0e5f.pdf&ei=YTBMU_fpIoz7rAeG6oD4Cg&usg=AFQjCNHYg4-YQIVqbNI7MBzZYMrhLTQ62Q&sig2=eMCvuTlD33JmsHVaQ6HJsA&bvm=bv.64542518,d.bmk pada 2 April pukul 14.00

Rohrschneider, R. & Dalton, R. J. (2002). A global network? Transnational Cooperation among Environmental Groups. The Journal of Politics, 64 (2), 510-533

Snyder, M. & Cantor, N. (1979), Testing hypotheses about other people: The use of historical knowledge. Journal of Experimental Social Psychology, 15, 330-342

Synder, M., Berscheid, E., & Tanke, E. D. (1977). Social perception and interpersonal behavior: On the self-fulfilling nature of social stereotypes. Journal of Personality and Social Psychology, 35 (9), 656-666

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *