Diary Relawan

“Memeriahkan HUT RI ke 73 bersama Warga Bina Sosial”

Panti Sosial Bina Karya Wanita DKI Jakarta
Asiyah Mardhiati
Universitas Padjadjaran

Terbilang cukup jauh dari kediamanku di salah satu daerah Bekasi, membuatku tepat
di pagi hari buta segera bergegas menuju stasiun terdekat untuk menempuh perjalanan ke
Kembangan, Jakarta Barat. Hari itu 15 Agustus 2018 pukul 08.00 kegiatan pengabdian
masyarakat di Panti Sosial Bina Karya Wanita DKI Jakarta akan dilaksanakan. Panti ini
merupakan asrama bagi survivor PSK. Perjalanan yang kurang lebih menghabiskan 2 jam
tersebut terasa membunuh perlahan-lahan. Apakah akan tiba tepat waktu? Ternyata tidak.
Aku sedikit menyesal karena tidak mengawali hari ini dengan baik. Namun rasanya hari itu
benar-benar berkesan.
Kedatanganku yang terlambat beberapa menit itu disambut baik dengan bapak
security yang berjaga di pintu gerbang. Syukurlah kegiatan kegiatan baru dimulai. Pemandu
acara memulai perkenalan para panitia dan relawan terlebih dahulu. Tiba saatnya aku
memperkenalkan diri dan terkejut karena disambut dengan baik. Sepertinya teman-teman
WBS tidak memprediksi sebelumnya akan ada mahasiswa dari Unpad Bandung datang jauh
jauh ke Jakarta. Selanjutnya, kami menyambut pagi hari dengan senam gembira yang
dipimpin panitia. Aku tidak menyangka bahwa mengkondisikan para WBS Bina Karya
Wanita terbilang cukup mudah. Mereka cukup antusias mengikuti senam ini meskipun cukup
lama. Dibantu dan diberi semangat oleh pengurus panti, para WBS senam sambil beberapa
kali tertawa bersama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi motivasi oleh salah satu
panitia. Para WBS duduk melingkar di lapangan menyimak materi yang disampaikan.
Disamping itu, kami para relawan mempersiapkan perlengkapan lomba-lomba. Setelah sesi
ini berakhir, WBS membentuk 8 kelompok dan ditemani oleh para relawan. Disinilah
interaksi kami dimulai. Berbeda dengan kunjungan ke Panti Bina Laras 3 sebelumnya yang
melakukan pendekatan secara personal, para kesempatan kali ini kami berinteraksi secara
kelompok. Aku sendiri jujur saja hanya mengingat beberapa nama WBS dan tidak terlalu
ingat wajah seluruhnya, hanya beberapa saja. Ketika pertama kali aku bergabung, ada
seorang WBS yang mengingat bahwa aku ‘dari unpad’. Ah – rasanya senang sekali. Kalimat
singkat tersebut menjadi perbincangan awal aku dengan WBS di kelompok ini. Namanya

adalah “Juragan Lope-Lope”. Refleks, aku menganga dan tertawa singkat. Dipimpin oleh
Kak J sebagai ketua, kami berbincang-bincang santai mempersiapkan yel-yel. Hal yang
menarik disini adalah bagaimana Kak J yang dapat mengambil atensi teman-teman WBS
kelompok. Orang Sunda menyebutnya “nyablak”. Kak Jahra cenderung blak-blakan saat
berbicara dengan logat sunda nya yang terdengar cukup jelas. Beliau ternyata berasal dari
Garut. Meskipun demikian, kelompok kami tetap menyetujui dan menunggu instruksi
pemandu acara. Dari rangkaian perlombaan yang ada, Juragan Lope-Lope mendapat jatah
ikut lomba estafet sarung. Sambil menunggu pelaksanaannya, aku berbincang sedikit dengan
Kak J. Beliau mengatakan bahwa dirinya baru berada di panti selama 2 bulan. Bahkan
beberapa WBS lain ada yang baru sebulan. Tapi sejauh ini meskipun dirinya ingin pulang, ia
merasa baik-baik saja tinggal di asrama bersama bunda pengurus panti. Tiba saatnya giliran
lomba estafet sarung dilaksanakan. Kami pun menyudahi bincang-bincang ini. Para relawan
memandu roleplay lomba kemudian setelah itu mengawasi perlombaan. Kerjasama dan
kekompakkan tim akan sangat dibutuhkan. Dua tim diadu dan ternyata Juragan Lope-Lope
tidak menang. Terlihat raut sedih bercampur kecewa pada wajah kelompok kami yang
disertai keringat mengucur. Setelah itu, Kak J menenangkan dengan mengatakan “gak papa”
kepada teman kelompoknya. Kami kembali duduk dan berteduh menghindari panas matahari
yang semakin menyengat. Disela waktu itu, aku memulai percakapan singkat dengan salah
satu WBS yaitu Bu A. Beliau berasal dari Brebes ternyata. Baru tinggal di panti selama 2
bulan. Ya, hanya percakapan singkat seperti itu dan selebihnya kami memperhatikan
kelompok lain yang sedang adu lomba.

Poin penting yang dipelajari hari itu adalah, bahwa meskipun para WBS memiliki
pengalaman yang seringkali dilabeli negatif oleh masyarakat, perlu diingat bahwa mereka
pun memiliki hak untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Persepsi awal saya sebelum
datang kesana ialah merasa takut akan ‘dijutekin dan dicibir’ karena merupakan orang luar.
Ternyata hal itu sama sekali tidak ku alami. Mereka berinteraksi seperti orang bersosialisasi
pada umumnya. Beberapa dari mereka tertawa ketika salah seorang ‘ngocol’, dan juga
mengekspresikan dirinya secara lepas ketika merasa tidak nyaman. Mereka pun memiliki
harapan seperti orang lain. Aku masih mengingat jelas ketika sesi motivasi, pemateri
menyampaikan bahwa semua orang berhak menjadi lebih baik meskipun orang lain kerap kali
berkomentar negatif. Terdapat beberapa WBS yang mengangguk sepakat dan mengulang kata
‘menjadi lebih baik’ dengan cukup lantang. Setengah hari yang singkat ini rasanya benar-
benar berkesan. Aku belajar banyak untuk ‘tidak kalah semangat’ dari teman-teman WBS

yang ingin menjadi lebih baik. Aku berharap semoga mendapat kesempatan lagi berkunjung
ke Panti Bina Karya Wanita.

 


Memeriahkan HUT RI ke 73 bersama Warga Bina Sosial Panti Sosial Bina Karya Wanita DKI Jakarta
Fildzah nur azizi
Universitas gunadarma

Kondisi di sana sangat baik karena tertata rapih dan bersih juga, pertama kali masuk ke
tempatnya juga kagum soalnya bener-bener di urus banget sama pihak sana dari segi kebersihan
terutama. Tempat yang disediakan untuk kegiatan relawan juga sangat pas, karena kan kegiatan
disana outdoor dan pas tau tempatnya cukup luas makin gak sabar mau berpartisipasi dalam
kegiatan.

Baru pertama kali ikut kegiatan relawan jadi sempet khawatir bakal kaya gimana nanti
pas kegiatan, selama kegiatan berlangsung cukup teratur dan ngerasa nyaman banget karena
inget omongan kakak panitia yang bilang “Kalau bisa pas acara nanti kita harus ikut
berpartisipasi dalam kegiatan, interaksi juga sama mereka dan jangan malu-malu”
Sebelum berinteraksi sama wbs tuh sempet mikir “Bisa gak yah interaksi sama mereka”
pas disuruh panitia buat masuk kelompok yang dibuat sma wbs itu sendiri sempet bingung dan
khawatir, akhirnya saya mencoba berkenalan sama wbs dan mereka tuh nerima kita (relawan)
dengan sangat baik banget, kita bercanda bareng-bareng, ngobrol, dll.
Ketika kelompok yang saya masukin disuruh maju ke depan oleh mc, wbs mengajak
saya dan teman saya untuk ikutan maju ke depan nunjukin iyel-iyel ke kelompok yang lain,
disitu saya sempet kaget pas ditarik tangannya sama salah satu wbs tapi saya seneng karena apa
yang saya harapkan agar bisa dekat dengan mereka terwujud.
Pas kegiatan relawan berakhir, saya dan teman saya bertemu dengan teman-teman wbs
dari kelompok saya, dsitu kita salaman dan bilang “selamat tinggal”, “sampai ketemu lagi”,
“nanti kita ketemuan yah dibandung” dan disitu saya cumin bisa bilang semangat sama mereka,
beberapa wbs juga mengucapkan harapannya, saya sempet sedih saat salah satu wbs berucap “
saya kangen sama orang tua”

Saya berharap kegiatan ini bisa memberikan motivasi buat wbs dan buat yang belum
mengikuti kegiatan relawan ini semoga kalian berminat untuk mengikuti, kegiatan ini tidak
merugikan untuk kita malahan sebaliknya yaitu memberikan pelajaran kita dan memperbaiki
pola pikir kita terhadap makna hidup itu sendiri.

 


Memeriahkan HUT RI ke 73 bersama Warga Bina Sosial Panti Sosial Bina Karya Wanita DKI Jakarta
“A Day with The Wonderful Woman”
Sagita Ari Zulfahanny
Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Terpillih menjadi relawan ILMPI Wilayah II dalam program kerja Akhir Pekan “the
series” adalah pengalaman baru bagi saya dan kegiatan bekunjung ke Panti Sosial Bina Karya
Wanita pada hari Rabu, 15 Agustus 2018 merupakan kegiatan pertama saya sebagai volunteer
ILMPI Wilayah II. Bertempat di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Insan Bangun Daya Kedoya
Jakarta Barat, dari kondisi tempatnya yang cukup luas dan asri tempat ini terlihat terawat dan
diperhatikan dengan baik oleh petugas setempat, sempat melihat beberapa ruangan dengan
berbagai macam perlengkapan untuk para WBS berlatih keterampilan mereka. Saya akhirnya
dapat bertemu dan berinteraksi dengan WBS di panti tersebut yang kira2 berjumlah lebih dari
60 orang. Pertama kali saya menginjakan kaki di tempat tersebut saya sempat grogi karena
takut mendapat respon negative dari para WBS dimana semua pesertanya adalah wanita
dengan beragam usia dan latar belakang yang berbeda. Namun saya berubah pikira karena
ternyata WBS disana sangat merespon kedatangan mahasiswa/i psikologi dengan baik tak
lupa saya selalu melihat beberapa dari mereka tertawa lepas dan menimbulkan keceriaan
bukan ke-kakuan. Acara yang di laksanakan panitia ILMPI merupakan susunan acara
selayaknya 17 an yang dilakukan di lapangan depan Gedung panti, cukup luas dapat diisi
oleh 60 orang WBS panitia dan volunteer ILMPI dan petugas dinas panti social. Saya pribadi
sempat berinteraksi dengan bebrapa WBS disana pertama bernama ka Z usia kira-kira 27
tahun, beliau bercerita bahwa selama di panti ini dia diperlakukan dengan baik, makan juga
teratur 3 kali sehari petugas yang mereka biasa panggi “bunda” juga sangat baik dan dekat
kepada WBS yang lain, peserta WBS di sana berbeda-beda masa nya, ka Z sendiri baru dua
bulan berada di panti ini, beliau “ditarik” oleh petugas dinas social saat sedang bekerja di
bawah jembatan di Daerah Kebayoran, Jakarta Pusat. Ada lagi WBS bernama ka A beliau
usianya kira-kira lebih tua di banding ka Z, beliau merupakan orang baru di panti ini dan
berasal dari Garut. Para WBS di rehabilitasi dan di bina selama 4-6 bulan dan dapat
dipulangkan bila sudah memiliki kelakuan baik.

WBS disini juga di bekali ilmu2 seperti salon,menjahit, dan memiliki keterampilan membuat
kerajinan tangan, jadi ketika kelura mereka sudah mmiliki kemampuan untuk modal bekerja.
Semua berjalan lancer sampai ketika sesi foto Bersama salah satu WBS ada yang
mengeluarkan emosi marah karena kondisi panas dan tidak sabar saat temannya menyuruh
mengubah posisi foto, namun overall semua berjalan lancer dan kondusif. Semua WBS
disini senang dan berterimakasih dengan kedatangan mahasiswa/i ILMPI dengan mengdakan
berbagai acara menarik dan sudah berkunjung ke panti mereka, mereka memiliki harapan
satu yaitu ingin pulang dan berkumpul bersaama keluarga kembali. . Harapan saya agar
lulusan psikologi dapat membantu pemerintah lebih banyak lagi dalam menangani
masyarakat yang mengalami Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial atau PMKS agar setelah di bina
mereka bisa lebih baik dari sebelumnya, serta
kegiatan pembinaan agar lebih bervariatif dan sangat
membekas di hati para WBS.

 


DOKUMENTASI Panti Sosial Bina Karya Wanita DKI Jakarta

DSC00116 DSC00123 DSC00128 DSC00139 DSC00142
























“Kunjungan ke Panti Dinas Sosial DKI Jakarta Bina Laras 3”

Oleh Asiyah Mardhiati

Selama ini, saya belum pernah mengunjungi satu panti sosial pun yang resmi dinaungi

oleh Pemerintah. Sebelumnya, kegiatan bakti sosial yang diadakan ialah seputar lingkungan
kampus atau SMA. Yang menjadi perihal sangat menarik adalah kegiatan yang dibawah
ILMPI ini memiliki sasaran kepada survivor skizofrenia di Jakarta. Jauh sebelum hari
pelaksanaan dimulai, saya menggali berbagai informasi terkait skizofrenia – guna membekali
diri. Beberapa pekan sebelumnya, PJ kegiatan kunjungan ke Bina Laras 3 yaitu Hana dan
Alma mengatakan bahwa WBS (warga bina sosial) di panti ini merupakan survivor skiofrenia
yang sudah bisa terampil dan cakap dalam beraktivitas sehari-hari. Berbanding terbalik
dengan WBS di Bina Laras 1 dan Bina Laras 2 yang kegiatan sehari-hari nya masih dibawah
supervisi profesional. Mengetahui hal tersebut membuat saya berpikir jika kedatangan kami
sebagai volunteer akan lebih mudah diterima WBS. Hal yang yang muncul di benak saya
adalah para WBS mampu berkomunikasi meskipun tatanan bahasanya kurang rapi dan tidak
berarturan. Persepsi tersebut muncul karena sebelumnya saya pernah sedikit berinteraksi
singkat saja kepada penderita skizofrenia di kampus yang sempat menghalangi jalan saya.
Dia bergumam tidak jelas lalu tersenyum lebar menatap saya dan saya membalas senyum
tersebut. Pengalaman singkat ini lah yang menjadi persepsi awal mengenai gambaran para
WBS di Bina Laras 3.

Siang itu pada 9 Agustus 2018, kami selaku volunteer dan teman – teman panitia
lainnya sudah hadir di tempat. Kegiatan diawali oleh briefing dari Bapak Baharudin selaku
psikolog klinis yang menaungi Bina Laras 3. Hal yang paling menarik bagi saya adalah
mengetahui bahwa tidak sedikit dari WBS yang telah menempuh pendidikan tinggi seperti S1
bahkan S2. Jujur saja informasi tersebut tidak serta merta langsung saya terima ketika
pertama kali mendengarnya. Tepat setelah beliau mengatakannya, datang salah seorang WBS
dan beliau mengenalkannya pada kami. Benar ternyata, WBS tersebut merupakan alumni S1
dari salah satu universitas terkenal di Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa skizofrenia dapat
menyerang siapa saja tidak melihat latar belakang usia, suku, maupun pendidikan – terlepas
memang ada beberapa kasus skizofrenia yang menurun secara genetis. Skizofrenia memiliki
hubungan erat dengan lingkungan sekitar. Hal menarik lainnya adalah ketika Pak Baharudin
menyampaikan, “Jangan kaget ketika berinteraksi dengan mereka justru lancar lancar saja.

Justru disini tantangannya. Kalian bisa saja bingung – ini kok orang kalo diajak ngobrol
nyambung nyambung aja sih kayak bukan skizo”. Dan benar sekali wejangan ini, karena saya
saat itu mendampingi WBS yang sangat lancar dan nyambung saat berkomunikasi dengan
saya. Tidak peduli seberapa keras saya mengingat informasi tentang penampilan orang
dengan skizofrenia yang pernah saya lihat langsung – namun saat itu WBS yang saya
dampingi benar-benar tidak menunjukkan ciri ciri skiofrenia dari penampilannya. Namanya
Bu K. Percakapan kami dimulai dari kegiatan sehari-hari seperti meronce mute-mute, kelas
salon, membaca cerita dan lain lain. Saya berusaha mengobservasi dengan baik dan beliau
menjawab dengan sangat lancar dibarengi ekspresi datarnya. Sampai akhirnya pada
percakapan tentang perasaan beliau tinggal di panti. Beliau merasa sangat jenuh dan super
bosan karena jika diakumulasikan maka beliau sudah menghabiskan 11 tahun tinggal di panti
sosial – terlepas beliau beberapa kali pindah panti. Saya benar benar tekejut, meskipun
demikian saya berusaha menstabilkan mimik wajah. Kami juga berbincang mengenai kuliah
psikologi dan prospek kerjanya, asal muasal beliau bisa tinggal di panti, dan betapa rindunya
beliau dengan sanak saudaranya. Saat itu, teman volunteer yang duduk disebelah kiri bu
Kristina bertanya mengenai pendidikan terakhir beliau. Bu K menjawab sebelumnya ia kuliah
Kedokteran di salah satu universitas swasta terkenal di Jakarta. Meskipun sudah berusaha
keras mengontrol ekspresi wajah, sepertinya terlihat jelas bahwa informasi tersebut sukses
membuat saya terkejut – terlepas dari kebenarannya. Sungguh, bercakap cakap dengan beliau
terasa sangat ‘nyambung’ dan lancar. Berbeda sekali dengan persepsi awal yang saya yakini.
Terakhir, hal menarik lainnya adalah ketika melihat langsung aktivitas WBS sehari-
hari. WBS laki-laki memiliki jadwal untuk merajut keset, membuat sandal, dan membuat
pel. Sementara itu untuk WBS perempuan berkegiatan meronce mute-mute dan kelas salon.
Kegiatan umum yang dilakukan adalah kelas membaca cerita, menulis diary, menceritakan
kisah (story telling), dll. Sungguh, melihat langsung kegiatan tersebut ketika panti tour
membuat saya tercengang, khususnya pada kelas merajut keset dan pel. Saya sangat salut
kepada para instruktur yang luar biasa, penanggung jawab panti Bina Laras beserta jajaran
lainnya karena telah menyusun kegiatan yang sangat produktif. Hasil karya rajutan keset
tersebut benar-benar indah dan rapi. Rasanya saya ingin membawa pulang satu buah. Tentu
saja kunjungan volunteer ILMPI ini telah sangat banyak menambah wawasan saya khususnya
terkait survivor skizofrenia. Banyak sekali persepsi saya yang ‘diperbaiki’. Pembelajaran ini
sungguh mahal dan saya sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan menjadi bagian dari
relawan ILMPI dan Bina Laras 3.

 


Kunjungan Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3

Oleh Christine Monica Jaya
Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Kesan pertama sebelum ke tempatnya : mikirinya mungkin boring
acaranya, namun karena emang ingin cari pengalaman langsung dengan yang
punya penyakit yang seperti di bina laras 3, jadi saya mau dan emang niat ke
sana

Kesan setelah mengikuti acara di panti bina laras 3 : jauh dari kesan
pertama, seru juga dan nambah banyak banget pengetahuan, dan membuar kita
tau bagaimana cara berinteraksi dengan orang orang seperti mereka. Dan acara
ini tidak ada minusnya, seru namun menambah pengetahuan.

Pesan : pesannya terus lanjutkan acara yang seperti ini karena belom semua
orang tau bagaimana cara menghadapinya, hanya berdasarkan teori aja dan
kita sebagai mahasiswa psikologi memerlukan praktek langsung.

 


Kunjungan ke Panti Dinas Sosial DKI Jakarta Bina Laras 3

Oleh Annastasya Ramandha
Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Menjadi relawan ILMPI untuk Panti Bina Laras 3 memberi pengalaman baru yang sangat
berharga bagi saya. Ketika mengetahui bahwa setiap relawan bisa berinteraksi dengan masing-
masing wbs membuat saya excited sekaligus khawatir. Khawatir karena takut ada salah
perkataan yang akan membuat wbs terganggu dengan kehadiran saya. Namun, semua berubah
ketika saya datang dan bertemu dengan mereka. Mereka sangat ramah dan baik sekali
menyambut kami.
Ketika masuk ke kegiatan interaksi di aula, saya berbicara dengan wbs yang ber-inisal
Abang A. Abang A memiliki pekerjaan yang cukup megagumkan saya, ia bekerja di
pertambangan batu bara bakrie dan pernah ke Jerman. Beliau senang membaca, banyak buku-
buku yg beliau sebutkan kepada saya yg membuat saya makin kagum karena menurut saya
bacaan tersebut cukup berat, untuk saya hehe. Dan yang lebih kerennya lagi beliau bisa 3 bahasa
asing. Wawasan abang A sangat luas sekali, beliau banyak bercerita kepada saya sehingga ikut
menambah wawasan saya.

Abang A banyak menyebutkan teman-teman wbs-nya yang S1 bahkan ada yang S2 juga.
Abang A juga bercerita tentang masa lalunya dan menceritakan harapannya pada saya, hal ini
membuat saya sangat bangga karena bisa mendengarkan ceritanya, membuat saya merasa
menjadi orang yang special karena mungkin orang lain tidak memiliki kesempatan untuk
mendengarkan ceritanya seperti saya.

Setelah kunjungan ke Bina Laras 3, semakin membuka mata saya bahwa stigma tentang
skizofrenia diluar sana tidak sepenuhnya benar. Mereka masih bisa bersosialisasi dengan baik
dan sangat menyenangkan, bahkan mereka orang-orang berpendidikan yang pintar. Saya merasa
semakin bersyukur serta tersadar bahwa nikmat Allah SWT untuk saya sangatlah banyak.
Sepulang dari Bina Laras 3 saya sangat bahagia mungkin karena melihat mereka begitu
bahagia dikunjungi oleh anggota ILMPI juga relawan ILMPI. Saya semakin sadar bahwa
bahagia itu sederhana, se-sederhana bisa melihat mereka tertawa dan bercerita.

 


Diary Kegiatan di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3

Oleh Syifa Rasyida Adriani
Universitas Indonesia

Saya sangat senang dan bersyukur dapat memiliki kesempatan untuk berkunjung ke
Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3 ini. Di sana, saya berkeliling panti dan melihat
berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para warga binaan sosial (WBS). Aktivitas yang
mereka lakukan di antaranya adalah membuat sandal, keset, sapu dan pel; meronce (membuat
kalung, gelang, dan gantungan kunci); pelatihan salon (memijat dan creambath); menulis
diary harian; membaca cerita; dan sebagainya. Saya terkesan dengan semangat dan partisipasi
aktif mereka dalam menjalani aktivitas-aktivitas produktif tersebut.
Saya juga terkesan dengan keadaan lingkungan Panti Bina Laras Harapan Sentosa 3 yang
nyaman dan bersih, serta fasilitasnya memadai dan terawat. Para WBS-nya pun rapih dan
bersih karena mereka juga diajarkan tentang kebersihan diri, seperti mandi, sikat gigi,
keramas, gunting kuku, dll.

Selain berkeliling dan melihat aktivitas yang dilakukan oleh para WBS, kami para relawan
juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para WBS di sana. Saya sendiri
berkesempatan untuk berinteraksi dengan seorang WBS wanita berinisial P yang berusia 38
tahun. Ibu P ini bercerita tentang aktivitas yang dilakukannya sehari-hari di Panti Bina Laras
ini, ia pun mengatakan bahwa ia merasa senang dan bahagia berada di sini. Di panti tersebut,
ia memiliki banyak teman untuk berbagi cerita. Ia juga dapat melakukan aktivitas
kesukaannya yaitu bernyanyi, karena di setiap hari Jumat siang, diadakan kegiatan menyanyi
bersama. Ia juga mengatakan bahwa sejak menjadi WBS di panti ini, ia mengalami
perubahan yang baik yaitu mulai terbiasa melaksanakan shalat 5 waktu, karena memang di
panti ini terdapat mushola yang biasa digunakan para WBS muslim untuk shalat berjamaah.
Saya pun ikut senang dan terkesan dengan hal tersebut.

Semoga kegiatan kunjungan relawan ke panti sosial seperti ini dapat terus diadakan
dengan rutin oleh ILMPI, karena saya rasa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi para
relawan yang notabene merupakan mahasiswa/i psikologi.

Selain itu, semoga pihak Panti Bina Laras Harapa Sentosa 3 pun dapat terus mempertahankan
dan meningkatkan kualitas panti, baik dalam segi fasilitas, kebersihan, jadwal kegiatan WBS,
dll.

Saya mendapat insight baru bahwa mereka para penyandang ODMK dan ODGJ pun
sangat mampu menjadi orang yang produktif jika mereka diberikan bimbingan dan pelatihan.
Seperti yang saya lihat saat kunjungan ke Panti Bina Laras kemarin, mereka mampu
membuat sandal, keset anyaman, sapu, pel, meronce (membuat kalung, gelang, gantungan
kunci), pelatihan salon (memijat, creambath), menulis diary harian, membaca cerita, dll.
Selain itu, persepsi saya mengenai ODMK dan ODGJ pun berubah. Dikarenakan ada stigma
negatif yang beredar di masyarakat mengenai ODMK dan ODGJ, saya awalnya berpikir
bahwa saya akan merasa takut untuk berinteraksi dengan mereka. Namun saat saya
berinteraksi secara langsung dengan mereka, saya tidak merasa takut, tapi saya malah merasa
senang karena mereka bersikap baik dan ramah dengan orang baru, serta saya dapat belajar
banyak dari kisah hidup mereka.


DOKUMENTASI Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 3

bina laras_180822_0001 IMG_7355 IMG_7376 IMG_7377 IMG_7380

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Diary Kegiatan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3

Fildzah nur azizi
Universitas gunadarma

Pertama kali sampai ke tresna werdha kagum karena bersih dan rapih meskipun terlihat
kecil dari luar tetapi pas lagi sesi tour room luas banget dan terdapat fasilitas yang dibutuhkan
oleh lansia. Pihak tresna werdha menyiapkan tempat yang sesuai dengan kegiatan dan kondisi
para wbs, situasi ditempat sangat kondusif karena di pantau langsung oleh pihak tresna werdha
Kegiatan berlangsung cukup baik meskipun terdapat sedikit hambatan dari sisi waktu, pas
disuruh oleh pihak panitia untuk berinteraksi dengan wbs, salah satu hambatan yang dialami oleh
saya ketika berinteraksi terdapat beberapa wbs yang memiliki kekurangan pendengaran karena
faktor usia.

Ketika saya berinteraksi dengan wbs disebelah kanan saya dan ingin berinteraksi dengan
wbs di sebelah kiri, wbs yang berada di sebelah kanan menahan tangan kanan saya agar
menghiraukan wbs yang berada di sebelah kiri.

Para wbs seperti itu, karena mereka membutuhkan teman untuk bercerita dan berbagi
kisah hidupnya selama ini. Salah satu wbs yang saya temui bercerita bahwa ia senang karena ada
teman untuk berbagi cerita dan kangen dengan anak dan cucunya.
Ketika sesi room tour, saya sangat sedih karena banyak lansia yang hanya bisa tidur di
kasur, saat saya mengunjungi salah satu ruangan ada wbs yang memiliki kekurangan
pendengaran dan ia menahan saya untuk berkomunikasi dengannya meskipun tidak nyambung
dalam berkomunikasi, saat saya ingin menyusul teman yang lainnya ia menahan tangan saya dan
menggelengkan kepala, dsitu saya berucap “Nanti aku kesini lagi, yah” dia ia melepaskan
pegangannya dan tersenyum.

Saya berharap kegiatan ini dapat berlangsung kembali untuk mengajak mahasiswa
psikologi yang lainnya bahwa banyak orang diluar sana yang membutuhkan kehadiran kita disisi
mereka meskipun hanya sekedar mendengarkan cerita mereka. Proker selanjutnya, semoga
berjalan lebih baik dan lebih memperbanyak anggota relawan.

 


Diary Kegiatan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3

Haifa Ilmi

Universitas Bina Nusantara

Pada tanggal 19 Agustus 2018 kemarin, saya Haifa Ilmi sebagai relawan
ILMPI wilayah 2, saya mengunjungi Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3
yang berada di daerah Cilandak dalam salah satu rangkaian acara Akhir Pekan The
Series. Panti itu adalah panti yang menawungi para lansia yang dititipkan oleh
anak ataupun cucunya atau para lansia yang ditemukan oleh satpol PP di jalan. Di
panti tersebut terdapat kurang lebih 300 lansia atau wbs dengan dibagi menjadi tiga
katagori, yaitu wbs mandiri, total care, dan yang memiliki penyakit kejiwaan.
Sehingga ruang kamar pun dibagis sesuai dengan katagori tersebut.
Pada seri ketiga dari rangkaian acara Akhir Pekan The Series ini, kegiatan di
panti ini dibagi menjadi tiga kegiatan, yaitu para relawan berinteraksi dengan para
wbs, games yaitu tebak gambar atau foto artis jaman dulu serta karaoke lagu-lagu
jaman dulu, dan kegiatan terakhir adalah panti tour. Acara ini dimulai jam 09.30
WIB yang sebelumnya acara dimulai pada pukul 08.30 WIB dan acara selesai pada
pukul 11.30 WIB.

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah sambutan dari ketua pelaksana dan
juga dari pihak pantinya. Setelah itu dilanjutkan dengan interaksi dengan para
relawan dan relawan pun disuruh kedepan. Sebelum acara dimulai, para relawan
sudaah berinteraksi dengan beberapa wbs atau lansia yang sudah duduk dari acara
belum dimulai. Pada saat interaksi dengan relawan, realwan pun mengenal diri dan
asal kampusnya. Setelah itu para wbs atau lansia diperkenankan untuk bertanya.
Terdapat empat lansia yang bertanya kepada relawan, dua diantaranya bertanya
kepada Syifa yang ternyata menjadi idola para wbs di panti tersebut, dan satu
lansia menanyakan kepada Gaby yaitu nenek Macucu.

Kegiatan selanjutnya adalah games karoke lagu-lagu lawas atau lagu-lagu
jaman dulu. Banyak para wbs yang senang dan ikut bernyanyi serta bergoyang
bersama di depan. Seperti dua wbs yang berada di samping saya pada saat itu yang
ikut bernyanyi dan berjoget bersama di depan. Pada awalnya salah satu wbs di
samping tidak mau berjoget di depan karena kakinya sakit tetapi pada akhirnya
berjoget di depan bersama wbs lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan tebak
gambar atau foto artis jaman dulu.

Kegiatan yang terakhir adalah panti tour. Pada awalnya saya mengira bahwa
panti ini hanya dapat menampung tidak lebih dari 100 wbs karena tempat yang
kecil jika melihat dari luar. Terdapat dua katagori kamar yang ada di sana, yaitu
kamar mandiri dan total care dimana kamar mandiri ini adalah para wbs yang bisa
melakukan aktivitasnya sendiri, sedangkan total care itu adalah dimana para wbs
itu harus dibantu dengan petugas panti untuk melakukan sesuatu.

Selain itu juga terdapat sekitar delapan rumah dimana rumah yang diisi oleh
lansia yang termasuk kedalam lansia mandiri. Dalan satu rumah terdapat tiga wbs.
Pada akhir kunjungan atau ruangan yang terakhir kami singgahi adalah ruangan
total care, dan di ruangan ini saya berinteraksi dengan salah satu wbs. Wbs tersebut
pendengarannya sudah mulai terganggu tetapi rasa penasaran dengan siapa kami
dan tujuan kami ke sana apa masih sangat ada dan senang saat melihat kedatangan
kami.

Pada seri ini terdapat pula kekurangan seperti pada seri sebelumnya, yaitu
adalah ngaret atau tidak sesuai jadwal sesuai dengan seri sebelumnya. Selain itu
juga para wbs ingin berjoget tetapi kaki mereka sudah tidak sehingga engan untuk
berjoget di depan. Kekurangan lainnya adalah pada saat tebak gambar karena ada
beberapa wbs yang tidak dapat melihat dengan jelas ataupun kehalangan tiang.
Walaupun terdapat beberapa kekurangan yang terjadi, acara tetap berjalan
dengan lancar dan seru. Panitia, relawan, dan wbs panti tersebut juga tetap dapat
bergembira bersama serta acara berjalan dengan sesuai rundown dan selesai sesuai
perkiraan.

 


Diary Kegiatan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3

Gabrialle Angela Nave
Universitas Pembangunan Jaya

Pengalaman yang saya miliki sebelum mengikuti kegiatan relawan bersama ILMPI salah
satunya adalah mengunjungi beberapa panti sosial tresna werdha untuk memenuhi tugas yang
saya miliki. Namun, pada kesempatan kali ini merupakan pengalaman baru untuk saya dalam hal
mengunjungi panti sosial tresna werdha yaitu warna binaan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi
Mulia 3 yang berlokasi di CIlandak, Jakarta Selatan menerima kami baik relawan ataupun pantia
dengan sangat baik dan ramah. Pengurusnya pun sangat baik dan turut membantu kami
menyukseskan acara yang telah isusun oleh panitia. Warga binaa yang berada disana sangat
komunikatif dan ekspresif yang membuat kami juga nyaman dan menghilangkan suasana
canggung yang ada. Kami memiliki kegiatan yang sangat seru seperti sesi Tanya jawab dan juga
menebak lagu lawas yang membuat semangat dari pada wrga binaan naik. Lalu dengan bantuan
pengurus panti kami dapat berkeliling panti dan mengunjungi warna binaa yang tidak sempat
bergabung dengan acara yang dilaksanakan.

 


Diary Kegiatan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3

“Meeting The Elderly”
Sagita Ari Zulfahanny
Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Mengunjungi dan berpatisipasi dalam kegiatan volunteer ILMPI Wil II Akhir Pekan
“The Series” ke tempat binaan bagi lansia atau dikenal sebagai panti jompo di Tresna
Werdha Budi Mulia 3, Jakarta Selatan menjadi agenda terakhir dalam rangkaian acara ini.
Bertepatan pada hari Minggu 19 Agustus 2018 saya dan temen-tema panitia dan relawan
mengadakan acara di tempat tersebut. Saat sampai di tempat tujuan saya berpikir ini adalah
tempat yang sangat sunyi dan tenang di tengah hiruk pikuk ibu kota masih tergolong asli
karena banyak pohon rindang sangat pas bagi kalangan lansia, pertama kali saya
menginjakkan kaki pula saya di sambut kakek-kakek yang sedang duduk di pos satpam
Bersama satu satpam dan satu tukang kebun, saya masuk ke dalam aula atau tempat
berkumpulnya wbs dan panitia nanti, beberapa teman volunteer sudaah datang saat waktu
menunjukan pukul 07.55. saya sempat melihat ruangan yang menurut saya cukup besar muat
untuk 80 orang, ber-AC jadi tidak panas bersih dan wangi. Di ruangan besar tersebut terdapat
pula alat music seperti gamelan, angklung, organ, dan beberapa pengeras suara. Acara
dimulai pukul 09.00 pagi, saat itu wbs terdiri dari kakek-nenek yang dominasi wanita sudah
memadati ruangan, mereka sudah duduk di tempat yang sudah disediakan. Pada kesempatan
tersebut saya sebagai volunteer bergerak untuk melakukan interaksi kepada para wbs yang
ada kami volunteer menyebar ke beberapa sudut demi berkomunikasi dengan para wbs. Saya
bergerak ke bagian kakek-kakek, saya berkenalan dan mengajak 3 orang wbs kakek-kakek
yang umurnya beragam itu berkomunikasi, beberapa dari mereka ada yang malu-malu ketika
saya bertanya nama dan asal kampung halaman, seorang wbs pria bernama kakek S berasal
dari Probolinggo, sangat humble disbanding wbs lain,beliau sudah berada disini sekitar 8
tahun beliat juga senang bercerita tentang pengalaman nya dan lebih terbuka. Kakek B tidak
terlalu terbuka karena beliau masih baru 3 bulan di panti ini dan asal nya dari Jakarta utara.
Saya juga menyempatkan berkeliling menemui beberapa wbs wanita. Nenek J berasal dari
Jakarta namun kampungnya ada di Jambi, beliau bercerita bahwa ia ada di panti tersebut
karena kemauannya sendiri, beliat memiliki 5 anak yang semua sudah berkeluarga nahkan
cucunya sudah menikah, ia merasa tidak ingin merepotkan anak-anaknya maka ia

menyarankan untuk di ururus di panti jompo. Dan banyak WBS yang sudah saya ajak
berkomunikasi. Mereka beragam masa tinggalnya ada yang baru 3 bulan sampai sudah 13
tahun, karena sudah tua dan renta mereka terlalu banyak diam dan menunggu diajak bicara
meskipun bebrapa ada yang masih energik. Kami anggota ILMPI wil II selain mengadakan
games untuk kakek dan nenek disana kami juga bekesempatan untuk tour panti, kami melihat
bagaimana keadaan panti sebagai tempat tinggal para lansia, walaupun makan mereka terjain
dan enak fasilitas seperti tempa tidur kamar mandi lengkap tapi tetap saja mereka ingin sanak
keluarga menjenguk setidaknya seminggu sekali.

Saat kunjungan panti kami melihat
beberapa ruangan yang di khususkan bagi
lansia yang sudah tidak bisa mandiri,
yaitu ruangan total care, mereka yang
diruang tersebut juga adalah lansia yang sedang sakit atu memang sudah terlalu lemah untuk

ke kamar mandi, sangat miris melihatnya
karena mereka sakit tpi tidak ada keluarga yang menjenguk, bberapa WBS ada yang
menangis saat saya ajak berbicara karena mereka terharu sudah di tengok dan diberi doa.
Menurut penuturan petugas dinas setempat jika ada WBS yang sakit akan dirujuk ke rumah
sakit dan dibiayai pemerintah, jika ada yang meninggal petugas akan menelfon pihak yang
berwenang dan menyerahkan nyake keluarga atau rumah sakit. Bebrapa WBS disini juga ada
yang menrupakan orang-orang yang terjaring saat pemrintah melakukan Razia jalanan. Saya
berharap ada perhatian lebih untuk pengelola panti jompo seluruhnya agar wbs setempat
dapat merasakan kenyamanan, sebagai mahasiswa psikologi lebih baik bisa

 


Diary Kegiatan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3

Oleh Syifa Rasyida Adriani
Universitas Indonesia

Saya senang dan bersyukur dapat memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Panti Sosial
Tresna Werdha dan berinteraksi dengan para WBS di sana. Saya juga senang menjadi teman
bercerita mereka, dan mendapat pelajaran hidup dari cerita yang mereka bagikan. Selain itu,
pengalaman berinteraksi dengan para WBS ini juga menambah pengetahuan saya mengenai
perkembangan psikologis lansia, di mana hal tersebut sangat bermanfaat untuk saya sebagai
mahasiswa psikologi. Terimakasih ILMPI sudah mengadakan acara ini.

Kegiatan interaksi dengan para WBS mungkin dapat lebih melibatkan seluruh (bukan
hanya sebagian) WBS. Saat sesi karaoke bersama, saya melihat ada WBS yang merasa
bosan, mengantuk, bahkan tertidur. Hal tersebut mungkin dapat disebabkan karena kurangnya
rasa keterlibatan mereka pada acara tersebut.

Untuk kegiatan sharing dan interaksi ke depannya, dapat dibentuk kelompok-kelompok
kecil yang beranggotakan beberapa WBS dan 1 relawan untk berinteraksi, agar para relawan
tersebar dengan merata, dan proses interaksi menjadi lebih efektif dan efisien.
Untuk ke depannya, para relawan dan panitia sebaiknya sama-sama datang tepat waktu,
lebih baik lagi jika bisa datang lebih awal agar sama-sama punya waktu untuk briefing &
mempersiapkan acara.

Saat melakukan aktivitas bersama, tidak semua WBS cukup berani untuk berinisiatif
melibatkan diri, melainkan ada juga yang memilih menunggu untuk ditunjuk. Untuk ke
depannya, para panitia dan relawan mungkin dapat lebih men-trigger para WBS untuk
terlibat dalam kegiatan, maupun menunjuk langsung para WBS untuk berpartisipasi dalam
kegiatan.

 


Diary Kegiatan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3

Oleh Tami Nuryanti
Universitas Pembangunan Jaya

Kesannya sebelum ke BL masih belum ada gambaran orang yang mengidap skizofrenia,
masih penasaran, pengen tau. Tapi pas udah ke BL jadi tau kalo orang yg skizo juga masih bisa
beraktivitas kaya orang-orang pada umumnya, banyak terapi yang dilakuin, mereka juga keliatan
seperti anak kecil. Tapi untuk pasien yg saya ajak berbicara seperti orang yg tidak mengidap
skizo, soalnya diajak ngomong masih nyambung banget. Tapi over all, semuanya seru kok,
acara sharingnya seru, jalan2 keliling pantinya juga seru, nambah pengetahuan karena dijelasin
juga sama orang-orang pengurus BL.

 


Dokumentasi Kegiatan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3

DSC00308 DSC00314 DSC00356 DSC00368 DSC00393 DSC00407 DSC00409 DSC00436 DSC00452 DSC00485

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *