ARTIKEL : SOCIAL ANXIETY

Pengertian dan Latar Belakang Topik

Manusia adalah makhluk sosial yang di dalam kehidupan sehari harinya selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Dalam sebuah interaksi antara satu orang dengan orang yang lain pasti akan ada kecemasan apalagi orang yang seseorang individu tersebut temui adalah orang yang asing menurut dirinya. 

Kecemasan sosial adalah ketakutan akan situasi sosial yang melibatkan interaksi dengan orang lain. Jadi orang yang mengalami kecemasan sosial mereka akan merasa cemas ketika mereka dihadapi dengan situasi yang melibatkan interaksi dengan orang lain yang mengakibatkannya ketidakseimbangan fungsi mental di dalam dirinya. 

Pada dasarnya kecemasan adalah hal yang wajar dan manusiawi, tetapi ketika kecemasan tersebut sudah mengganggu aktivitas sehari hari dan datangnya secara terus menerus sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan fungsi mental yang sangat berlebihan maka dapat disebut dengan gangguan kecemasan. 

Hasil Penelitian 

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Jefferies dan Ungar (2020), data diambil dari 6.825 peserta berusia 16-29 tahun di tujuh negara (Brazil, China, Indonesia, Russia, Thailand, US, dan Vietnam). Menyebutkan bahwa tingkat kecemasan sosial meningkat di kalangan anak muda yang berusia 18-24 tahun yang mungkin menjadi usia yang paling berisiko. Data menunjukkan bahwa kecemasan sosial menjadi perhatian bagi orang dewasa muda di seluruh dunia, banyak diantaranya tidak mengenali kesulitan yang mungkin mereka alami. Penelitian dari Asher dan Aderka (2019) yang meneliti tentang Kencan Dengan Kecemasan Sosial: Pemeriksaan Empiris Kecemasan Sesaat dan Keinginan untuk Interaksi Masa Depan. menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan ditemukan dalam ukuran klinis antara individu dengan social anxiety dan individu non-social anxiety, sehingga individu dengan social anxiety dilaporkan tingkat kecemasan antisipatif yang lebih tinggi, serta tingkat gejala kecemasan sosial yang lebih tinggi, maladaptif kognisi, dan gejala depresi sebelum interaksi dibandingkan dengan individu non social anxiety.

Disebutkan dalam penelitian lain dari Heereen dan McNally (2017), penelitian ini melibatkan 238 orang yang sudah didiagnosa memiliki social anxiety disorder dengan tipe umum dari Wallonia dan Brussels kawasan ibu kota di Belgia. Hasil  menyatakan bahwa, Social Anxiety dapat dikonsepkan sebagai hubungan ketakutan yang saling berhubungan erat dalam menghindari situasi sosial.

Gejala Social Anxiety 

Kriteria Diagnosis Social Anxiety Disorder menurut DSM 5, yaitu :

  • Rasa takut atau cemas yang muncul jika dihadapkan dengan pengawasan orang lain.
  • Rasa takut yang dialami individu untuk menunjukan gejala kecemasannya yang akan dinilai secara negatif 
  • Situasi sosial hampir menimbulkan rasa takut dan cemas
  • Situasi sosial dihindari atau dihadapi dengan rasa takut dan cemas yang intens
  • Rasa takut atau cemas berlebih yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ditimbulkan dari situasi sosial dan konteks sosio-kultural
  • Rasa takut, cemas atau perilaku menghindar yang berlangsung terus menerus selama 6 bulan atau lebih
  • Rasa takut, cemas atau perilaku menghindar yang berdampak pada penderitaan signifikan secara klinis atau gangguan fungsi sosial lainnya
  • Rasa takut, cemas atau perilaku menghindar yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat dan obat-obatan serta kondisi medis lainnya 
  • Rasa takut, cemas atau perilaku menghindar ini bukan ditimbulkan karena adanya gejala dari gangguan mental lain, seperti gangguan panik, gangguan dismorfik tubuh, atau gangguan spektrum autisme.
  • Rasa takut, cemas atau perilaku menghindar jelas tidak berhubungan, jika kondisi medis lainnya hadir, misalnya penyakit Parkinson, obesitas, cacat akibat luka bakar atau cedera

Cara membedakan gejala yang hampir sama

Perbedaan gejala gangguan mental terkait Social Anxiety Menurut DSM 5

a.   Avoidant Personality Disorder

–          Menghindari segala aktivitas sosial yang melibatkan interaksi interpersonal  dikarenakan takut dikritik, ditolak, tidak disetujui pendapatnya.

–          Tidak bersedia untuk terlibat dengan orang lain terkecuali orang pilihan yang disukai.

–          Menunjukan penolakan untuk masuk ke hubungan yang dekat karena ketakutan dipermalukan atau dijadikan lelucon.

–          Menghindari situasi interpersonal yang baru karna perasaan tidak cukup.

–          Merasa diri sendiri lebih inferior dari orang lain.

–          Sangat terganggu jika dikritik/ditolak dalam situasi sosial

–          Jarang mau memulai aktivitas baru karena takut dipermalukan.

b.  Social Anxiety (literally dari DSM 5)

A.  Rasa takut atau kecemasan yang muncul pada situasi yang memungkinkan suatu individu diobservasi oleh orang lain. Contohnya termasuk interaksi sosial (berbicara, bertemu orang baru), diamati orang lain (saat makan dan minum), atau tampil di depan public (memberi pidato). Dengan catatan pada anak-anak kecemasan harus terjadi pada situasi sosial antara teman sebaya, bukan hanya saat berinteraksi dengan orang dewasa.

B.  Ketakutan individu untuk bertindak atau menunjukkan rasa cemasnya sehingga terlihat buruk di depan orang lain (mempermalukan diri sehingga dihindari atau menyinggung orang lain).

C.  Situasi sosial hampir selalu memicu rasa takut atau cemas. Dengan catatan pada anak-anak rasa takut atau cemas dapat berupa tangisan, kegelisahan, kekakuan, atau tidak mau berbicara.

D.  Situasi sosial dihindari atau dijalani dengan menahan rasa takut atau cemas yang intens.

E.   Rasa takut atau cemas berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada pada situasi sosial dan konteks sosial-kultural

F.   Rasa takut, cemas, atau perilaku menghindar terjadi secara persisten selama 6 bulan atau lebih.

G. Rasa takut, cemas, atau perilaku menghindar menyebabkan disabilitas yang signifikan pada fungsi sosial, okupasi, atau fungsi lainya dalam kehidupan.

H.  Rasa takut, cemas, atau perilaku menghindar bukan disebabkan oleh efek fisiologis dari zat tertentu (penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau medikasi) atau disebabkan oleh kondisi medis lainnya.

(Dari Alodokter) diagnosis SAD (social anxiety disorder) menurut DSM 5 antara lain memiliki gejala:

–          Takut/cemas akan >=1 kondisi sosial dimana bisa memiliki kemungkinan diawasi oleh org lain minimal 6 bulan.

–          Takut bertindak sehingga memunculkan gejala cemas yg akan dievaluasi negatif oleh org lain.

–          Situasi sosial memunculkan ketakutan dan kecemasan.

–          Situasi sosial dihindari atau diterima dengan rasa takut.

–          Ketakutan/kecemasan tidak sesuai dengan situasi yang sebenarnya.

Singkatnya Perbedaan utama adalah bahwa pengidap Social Anxiety kerap tahu bahwa ketakutan mereka tidak rasional, sedangkan pengidap Avoidant Personality disorder merasa diri mereka inferior dibandingkan orang sehingga penolakan dan penghinaan sangat pantas untuk dirinya.

Solusi dari Fenomena 

  • Adanya kampanye seputar Social Anxiety untuk mengenalkan pada masyarakat
  • Baik pihak masyarakat maupun pemerintah menyediakan lingkungan yang baik dalam mengurangi kecemasan sosial yang dialami penderita.
  • Pihak masyarakat dan Profesi bisa saling bekerjasama dalam membantu klien dengan mengadakan konseling.
  •  Adanya fasilitas memadai dalam menangani social anxiety meliputi terapi dan konseling, juga sarana perantara. 

Cara Mencegah Social Anxiety Disorder

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah social anxiety disorder menjadi lebih parah, yaitu:

  • Mengenal lebih jauh tentang kecemasan
  • Mengubah kepercayaan yang tadinya dirasa tidak realistis dengan kepercayaan yang lebih rasional
  • Jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain
  • Melakukan aktivitas yang biasanya dihindari

Daftar Pustaka

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of. Mental Disorder Edition (DSM-V) Washington : American Psychiatric Publishing

Asher, M., & Aderka, I. M. (2020). Dating With Social Anxiety: An Empirical Examination of Momentary Anxiety and Desire for Future Interaction. Clinical Psychological Science, 8(1), 99–110. https://doi.org/10.1177/2167702619867055

Azka, F., Firdaus, D. F., & Kurniadewi, E. (2018). Kecemasan sosial dan ketergantungan media sosial pada mahasiswa. Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 5(2), 201-210. 

Heeren, A., & McNally, R. J. (2018). Social Anxiety Disorder as a Densely Interconnected Network of Fear and Avoidance for Social Situations. Cognitive Therapy and Research, 42(1), 103–113. https://doi.org/10.1007/s10608-017-9876-3

Jefferies, P., & Ungar, M. (2020).   PLoS ONE, 15(9 September), 1–18. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0239133

Soliha, S. F. (2015). Tingkat ketergantungan pengguna media sosial dan kecemasan sosial. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(1), 1-10.

Tabita P. S. 2021. Perbedaan Avoidant Personality Disorder dan Social Anxiety Disorder?. https://www.alodokter.com/komunitas/topic/perbedaan-avoidant-personality-disorder-dan-social-anxiety-disorder-   diakses pada 21 Juli 2021. 

Handayani, V. V. (2019). 4 Cara Mencegah Gangguan Kecemasan Sosial. www.halodoc.com/artikel/4-cara-mencegah-gangguan-kecemasan-sosial Diakses pada 23 Juli 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *