Stres, baik atau buruk? : kenali stress yang menghampiri kita

Ketika banyak banget tugas, deadline mepet, belum lagi kegiatan-kegiatan organisasi, pasti akan mendekatkan kita dengan yang namanya stress. Banyak orang menganggap stress itu cenderung negatif dan harus dihindari. Padahal stress itu tidak selalu negatif loh, Psychofams!

Stres dapat kita artikan sebagai segala jenis perubahan yang menyebabkan ketegangan fisik, emosional, atau psikologis (Scott, 2020a). Stress sendiri secara bahasa berarti tekanan atau keadaan yang menekan, dan menurut Cannon (dalam Gaol, 2016), stress merupakan gangguan homeostatis yang menyebabkan perubahan pada keseimbangan fisiologis yang dihasilkan dari adanya rangsangan terhadap fisik ataupun psikologis.

Berbicara tentang stress, itu berarti tentang persepsi dan respons. Secara psikologis stress berarti persepsi kita mengenai sesuatu (peristiwa/tekanan) dan bagaimana respons kita terhadap hal tersebut. Ini merupakan suatu persepsi karena respons tiap orang terhadap suatu stressor (sumber stress) itu dapat berbeda-beda.

Stressor hanya memberi rangsangan dan mendorong sehingga terjadi stress pada seseorang. Perannya sebagai pemicu stress individu. Bartlett (1998) (dalam Gaol, 2016) mengategorikan sumber stress (stressor) menjadi 3:

  1. life events (peristiwa-peristiwa kehidupan) à ini terjadi apabila terlalu banyak perubahan dalam hidup kita dan kita harus melakukan penyesuaian dalam waktu singkat.
  2. Chronic strains (ketegangan khusus) à berupa kesulitan-kesulitan yang berulang-ulang dalam kehidupan sehari-hari dikarenakan ketegangan kronis yang terus berlanjut sehingga menjadi ancaman bagi seseorang
  3. Daily hassles (permasalahan sehari-hari) à peristiwa kecil yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan memerlukan penyesuaian saat itu saja. Misalnya, terjebak macet, tugas sehari-hari, argumentasi dengan seseorang, dsb. Permasalahan ini hanya menimbulkan stress sesaat dan biasanya tidak menimbulkan gejala fisik atau mental yang parah.

Semua dari kita pasti memiliki masalah, peristiwa, atau kejadian yang dapat menimbulkan stress. Besar kecilnya suatu masalah yang kita hadapi tergantung dari kemampuan kita dalam menghadapi masalah tersebut.

Stress jika kadarnya cukup dapat menjadi manfaat bagi kita misalnya untuk meningkatkan motivasi atau meningkatkan produktivitas. Tetapi, yang berbahaya dari stress adalah jika kadar stresnya terlalu banyak dan terlalu rumit, sehingga kita kesulitan mengatasinya.

Berdasarkan dampaknya, stress dibagi menjadi:

Eustress : stress yang berdampak positif

Distress : stress yang berdampak negatif

Tidak hanya membawa dampak yang buruk, stress juga bisa berdampak positif bagi kita.

Positif atau negatifnya stress itu ditentukan oleh jumlah-jumlah tuntutan (hal yang menimbulkan stres) yang kita terima dan kemampuan yang tersedia (secara fisik dan psikologis) untuk menghadapi sumber stress.

Eustress : pada saat stress tidak melebihi tingkat maksimal. Ini merupakan stress yang penting bagi hidup kita terutama dalam proses belajar karena dapat membuat kita tetap berenergi, termotivasi dalam mengerjakan sesuatu, serta membuat kita lebih semangat dalam menjalankan hidup. Stress ini digambarkan (Scott, 2020b) seperti misalnya tantangan baru yang menyenangkan, ataupun tugas-tugas kuliah yang dapat kita selesaikan dan memperkaya pengetahuan kita.

Distress : ketika stress melebihi tingkat maksimal dan dapat berdampak buruk bagi kinerja dan kesehatan kita. Distress di beberapa penelitian terbukti mendorong terjadinya penyakit baik secara fisik maupun psikologis seseorang.

  • lalu bagaimana cara mengatasinya?

Ketika kita berada di kondisi yang tertekan, kita menganalisis terlebih dahulu apakah permasalahan yang membuat kita tertekan tersebut dapat langsung kita selesaikan, perlu jeda sebentar, atau malah tidak bisa ditangani. Kemudian kita menentukan jenis coping apa yang kita gunakan:

problem-focused coping à cara menanggulangi stress dengan berhubungan langsung dengan masalah yang dihadapi. Fokusnya pada penyelesaian masalah. Misalnya, ketika sedang banyak-banyaknya tugas, kita berupaya untuk menyelesaikannya sebelum deadline supaya kita dapat mengurangi stress

emotion-focused coping à cara menanggulangi stress dengan mengelola respons emosional yang muncul akibat keadaan yang menimbulkan stress. Fokusnya dengan menghilangkan emosinya. Misalnya, ketika banyak tugas kita memilih untuk menunda terlebih dahulu lalu setelah rileks kita kerjakan lagi, hal ini tidak menyelesaikan masalah/menghilangkan stressor tetapi dapat mengurangi emosi negatif yang timbul akibat stres. Coping mechanism ini berguna untuk suatu masalah yang gak bisa kita diperbaiki secara langsung atau keadaan yang di luar kendali kita. Misalnya, stress akibat kehilangan seseorang, kita dapat menyalurkan emosi sedih tersebut dengan menangis atau bercerita dengan orang sekitar dan hal tersebut dapat mengurangi emosi negatif kita dari sumber stress tersebut.

  • lalu bagaimana cara mengatasinya?

Ketika kita berada di kondisi yang tertekan, kita menganalisis terlebih dahulu apakah permasalahan yang membuat kita tertekan tersebut dapat langsung kita selesaikan, perlu jeda sebentar, atau malah tidak bisa ditangani. Kemudian kita menentukan jenis coping apa yang kita gunakan:

problem-focused coping à cara menanggulangi stress dengan berhubungan langsung dengan masalah yang dihadapi. Fokusnya pada penyelesaian masalah. Misalnya, ketika sedang banyak-banyaknya tugas, kita berupaya untuk menyelesaikannya sebelum deadline supaya kita dapat mengurangi stress

emotion-focused coping à cara menanggulangi stress dengan mengelola respons emosional yang muncul akibat keadaan yang menimbulkan stress. Fokusnya dengan menghilangkan emosinya. Misalnya, ketika banyak tugas kita memilih untuk menunda terlebih dahulu lalu setelah rileks kita kerjakan lagi, hal ini tidak menyelesaikan masalah/menghilangkan stressor tetapi dapat mengurangi emosi negatif yang timbul akibat stres. Coping mechanism ini berguna untuk suatu masalah yang gak bisa kita diperbaiki secara langsung atau keadaan yang di luar kendali kita. Misalnya, stress akibat kehilangan seseorang, kita dapat menyalurkan emosi sedih tersebut dengan menangis atau bercerita dengan orang sekitar dan hal tersebut dapat mengurangi emosi negatif kita dari sumber stress tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *