Artikel Studi Kasus RUU Psikoedukasi

Beberapa Kasus Psikologi yang berkaitan erat dengan psikoedukasi

Self Diagnosis yang merugikan

Seseorang yang merasa emosinya kurang stabil mengeluhkan kondisinya kepada orang-orang di sekitar. Temannya yang pernah memiliki kondisi serupa kemudian memberitahu bahwa ia merasakan gejala yang sama dan psikolog yang ia temui mendiagnosanya dengan bipolar disorder. Karena gejalanya sama, akhirnya orang ini juga mendiagnosa dirinya sendiri dengan bipolar disorder. (self diagnose)

Lestari, Diah Ayu. 2020. “Self Diagnosis, Kebiasaan Mendiagnosis Diri Sendiri yang Bisa Berbahaya”, https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/self-diagnosis-diri-sendiri/?amp=1 diakses pada 8 Desember 2021.

Analisis Pasien Self Diagnosis berdasarkan Internet pada FASKES Tingkat pertama

Pengalaman memang selalu menjadi salah satu dasar pembelajaran seseorang agar tidak jatuh pada lubang yang sama. Dalam kasus ini hasil rekomendasi temanlah yang menjadi acuan self diagnose. Self diagnose sendiri berasal dari bahasa inggris yang berarti mendiagnosis sendiri sebuah penyakit ataupun gejala penyakit tanpa pantauan ahli di bidangnya.Menurut Muhammad Faris Akbar (Akbar,2019 ) Mendiagnosis diri sendiri dapat dikatakan sebagai pemutusan penyakit berdasarkan pengetahuan yang dimiliki atau setelah membaca informasi yang berkaitan dengan keluhan tersebut. Bipolar dalam contoh kasus diatas pun sebenarnya memiliki gejala gejala khusus yang ditetapkan dalam DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Seperti penyakit fisik, Seseorang yang memiliki gejala sesuai DSM sepatutnya melakukan pengecekan oleh psikiater agar memiliki penanganan yang tepat. 

Semigran dkk (2015) melakukan penelitian untuk mengevaluasi akurasi dari “symptom checker’ untuk diagnosis mandiri. Hasilnya diagnosis yang benar terdata 24% dari evaluasi  standar yang muncul dari pasien, 38% dari evaluasi standar yang tidak muncul dari pasien dan 40% dari evaluasi standar pasien yang melakukan perawatan mandiri. Data tersebut membuktikan bahwa kebenaran diagnosis mandiri tidak mencapai 50%. Hal tersebut membuktikan pentingnya psikoedukasi agar terhindar dari kelalaian edukasi psikologis salah satunya self diagnose.

Akbar, M. F (2019) Analisis Pasien Self-Diagnosis Berdasarkan Internet pada

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. DOI : https://osf.io/preprints/inarxiv/6xuns/ 

Semigran, H. L,  et al. (2015) Evaluation of symptom checkers for self diagnosis and triage: audit study. BMJ. 351:h3480. doi: https://doi.org/10.1136/bmj.h3480 

Kasus Alat Test Psikotest yang selalu penggunaannya salah kaprah

Penggunaan Psikotes adalah mengetahui berbagai potensi yang dimiliki setiap individu yang tidak terobservasi secara langsung untuk setiap kalangan.Psikotes sudah umum dilakukan di indonesia dalam berbagai bidang berdasarkan kebijakan masing-masing. Namun, ada beberapa penerapan psikotes di indonesia yang penggunaannya telah salah kaprah yang malah bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Pertimbangan yang bisa jadi bertentangan adalah tidak mempertanyakan psikologi anak yang tidak sama dengan dewasa dan pola pendidikan orang tua di rumah. Sebagian anak pun belum terbiasa mengikuti ujian diadakan sekolah dan baru memasuki lingkungan baru, tapi psikotes digunakan untuk menentukan lulus tidaknya anak masuk tk dan sd bukan mengetahui potensi. Berkenaan dengan psikoedukasi, pengetahuan soal psikotes bagian dari psikologi haruslah dibenarkan sesuai dengan tujuan yang sebenarnya agar bisa memaksimalkan bagaimana pola asuh dan pembelajarannya. 

https://news.detik.com/kolom/d-1935883/penggunaan-psikotest-yang-salah-kaprah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *