Analisis Mimpi

Mimpi merupakan sebuah fenomena yang muncul ketika seseorang sedang tidur. Ketika seseorang sedang bermimpi, banyak sekali kejadian yang muncul dan diinterpretasikan oleh otak sebagai representasi dari alam sadar dan alam bawah sadar. Fenomena yang muncul dalam mimpi juga dapat menjadi manifestasi dari emosi, pengalaman, dan keinginan seseorang dalam kehidupannya, baik yang sudah terjadi, ataupun yang ingin terjadi di kehidupan nyata. Dalam artikel ini, jenis-jenis mimpi, interpretasinya dan analisisnya dalam perspektif psikoanalisis dan psikologi analisis, akan dibahas secara induktif berdasarkan penemuan fakta literasi internasional yang ada.

Apa itu mimpi?

Mimpi adalah sebuah kondisi sadar secara fisiologis dan psikologis yang terjadi saat sedang tidur dan sering dicirikan oleh paparan emosional, sensori, motor, dan pengalaman lainnya secara endogen. Dengan kata lain, mimpi merupakan sebuah bentuk informasi dari alam bawah sadar yang dikirimkan menuju alam sadar manusia yang menimbulkan sensasi seolah-olah informasi tersebut sedang terjadi saat tidur (Kamus APA). Sifat halusinatoris dari mimpi merupakan hasil dari kejadian retrogresif, yang merubah proses mental menjadi impresi sensoris ketika tidur dengan bantuan konten memori yang dapat diakses oleh otak (Freud, 1990, hal 425-430). Secara fisiologis, mimpi terjadi pada periode tidur NREM (Non-Rapid Eye Movement) dan REM (Rapid Eye Movement), pada periode tidur NREM, mimpi dicirikan oleh pikiran dan emosi secara umum, sementara pada periode tidur REM, mimpi yang muncul dicirikan oleh adanya penampakan visual, diikuti oleh sensasi pergerakan ruang emosi yang intens, kepercayaan bahwa karakter, kejadian, dan situasi dalam mimpi adalah nyata, serta adanya diskontinyuitas, yaitu pemberhentian sekuens atau kelanjutan, terhadap karakter, situasi dan plot elemen (Kamus APA). Umumnya, mimpi yang dapat diingat dan dijelaskan lebih rinci terjadi pada saat periode tidur REM, sebaliknya, mimpi yang tidak dapat dijelaskan secara rinci terjadi pada saat periode tidur NREM (Rauchs et al., 2005; Smith, 2010).

Jenis-jenis mimpi

Pada umumnya, mimpi muncul ketika manusia sedang tidur di malam hari, namun, terdapat beberapa kategori khusus ketika mimpi tersebut tidak terjadi secara normal.

  • Day dreams

Istilah ini dipakai ketika seseorang tidur di waktu siang hari. Alih-alih, istilah ini digunakan juga ketika seseorang sedang melamun atau sedang memikirkan dan memvisualisasikan masa lalu, masa kini, dan masa depannya secara sadar (Newby-Clark, Thavendran, 2009). Hal tersebut meliputi memori, kenangan, ketertarikan, tujuan, ambisi, dsb.

  • Lucid dream

Istilah ini digunakan ketika seseorang dapat mempengaruhi dan mengendalikan komponen-komponen mimpinya, mulai dari karakter, benda, alur, dan progres narasi mimpi tersebut. Seseorang yang sedang lucid dreaming akan merasa sadar bahwa dirinya sedang bermimpi dan mimpi tersebut masih berlanjut setelah kesadarannya dirasakan oleh orang tersebut (Voss et al., 2013). Penelitian juga menunjukkan keadaan kesadaran hibrid dengan perbedaan yang dapat diukur antara kondisi bangun (tidak tertidur) dan tidur REM orang yang sedang lucid dreaming pada bagian area frontal otak (Voss et al., 2009).

  • False awakening dream

Istilah ini digunakan ketika seseorang sedang bermimpi melakukan aktivitas sehari-hari dan mimpi itu begitu jelas sehingga orang yang sedang tidur merasa kalau dirinya sedang tidak tidur. Berbeda dengan fenomena lucid dreaming, orang yang bermimpi sadar kalau mereka sedang bermimpi, sedangkan orang yang mendapatkan mimpi false awakening tidak sadar kalau mereka sedang bermimpi dan percaya kalau mereka sedang terbangun karena kesadaran yang tinggi akan dunia nyata (Cheyne, 2004). Hal ini kemungkinan dapat terjadi karena fenomena false awakening terlihat seperti menghindari fenomena amnesia mimpi yang biasa tejadi pada mimpi normal, yang menyebabkan adanya pergantian alur dan latar belakang secara spontan, serta menyebabkan kejadian-kejadian yang mustahil (Hobson et al., 2000).

  • Mimpi buruk (Nightmares)

Istilah ini digunakan ketika mimpi yang muncul sangat mengganggu emosional seseorang atau menakutkan sehingga terasa seperti nyata. Mimpi buruk dapat membuat seseorang yang bermimpi menjadi terbangun, tetapi tidak semua mimpi buruk dapat membangunkan seseorang dari tidurnya (Levitan, 1976, 1978, 1980; Van Bork, 1982). Kendati demikian, Halliday (1987, 1991) mendeskripsikan mimpi buruk yang mengganggu dan menyebabkan orang yang bermimpi terbangun sebagai nightmare, sementara mimpi buruk yang tidak membuat orang tersebut tidak terbangun sebagai bad dream.

Analisis mimpi

Analisis mimpi merupakan sebuah teknik yang secara orisinil digunakan dalam psikoanalisis tetapi sekarang juga digunakan pada penerapan psikoterapi lainnya. Konten dari mimpi diinterpretasikan untuk menunjukkan motivasi dasar atau makna simbolis dan representasinya. Analisis mimpi dilakukan oleh terapis ketika sedang memberikan terapi kepada pasien dengan cara pasien menceritakan mimpi mereka kepada terapis, diikuti oleh diskusi dan pemrosesan, hingga informasi yang baru dapat diperoleh dari mimpi tersebut. Dengan informasi baru tersebut, terapis mengasosiasikan mimpi pasien dengan situasi di dunia nyata yang pasien alami. Setelah menemukan asosiasi yang selaras antara mimpi dengan dunia nyata, terapis dapat membantu pasien untuk mengaplikasikan temuan tersebut dengan cara yang lebih bermanfaat bagi pasien, seperti membantu pasien dalam menentukan arah karirnya, mengurangi rasa kecemasan pasien terhadap hal yang belum terjadi, dsb. (Kamus APA)

Analisis mimpi Freud

Menurut Freud (1900), konten dari mimpi diperoleh namun tidak identik dengan kehidupan nyata; maka, ia mensugestikan bahwa harus ada semacam transformasi dan koneksi di antara keduanya. Ia juga berpendapat bahwa koneksi-koneksi tersebut tidak terjadi secara acak, alih-alih dibatasi oleh keinginan seseorang (Freud, 1990, hal 122), dan mimpi yang tidak nyaman jauh lebih banyak tersebar dibandingkan mimpi yang membawa rasa nyaman (Freud 1990, hal 134), alhasil Freud menemukan sebuah hipotesis bahwa mimpi dapat menutupi tujuan aslinya. Dari hipotesis tersebut, Freud mengklasifikan mimpi menjadi dua jenis, yaitu mimpi manifestasi dan mimpi laten. Freud menyatakan bahwa mimpi laten adalah bentuk mimpi yang asli, dan tujuan dalam interpretasi mimpi adalah untuk menunjukkannya, sementara mimpi manifestasi adalah bentuk mimpi yang melatarbelakangi mimpi laten dan menutupi makna asli dari mimpi laten. Freud menyebutkan empat mekanisme yang membuat mimpi laten dapat menutupi keasliannya.

  • Kondensasi

Kondensasi merupakan sebuah mekanisme ketika reduksi dan simplifikasi terhadap konten mimpi laten yang kaya itu terjadi, seperti menaruh perasaan yang tidak dapat terima kepada orang lain.

Contoh: A bermimpi bahwa B tidak menyukai A, pada kenyataannya A yang tidak menyukai B.

  • Displacement (Pemindahan)

Pemindahan merupakan sebuah mekanisme ketika sebuah proses yang menggantikan berbagai aspek dalam mimpi manifestasi dan mimpi laten yang membuat keduanya tidak sama itu terjadi.

Contoh: Pada suatu mimpi, anda marah terhadap suatu kejadian yang melibatkan objek atau seseorang. Freud mensugestikan bahwa objek atau orang tersebut hanya pengganti atas hal sebenarnya yang membuat anda kesal.

  • Simbolisasi

Simbolisasi mengindikasikan bahwa konten mimpi laten diekspresikan atau dilambangkan oleh simbol-simbol yang relevan. Simbolisasi juga melibatkan adanya keinginan dasar yang direpresikan atau ditahan dan muncul dalam mimpi sebagai tindakan simbolis.

Contoh: Menurut Freud, tindakan merokok atau memasukkan kunci ke dalam lubangnya merupakan tindakan simbolis yang memiliki makna seksual.

  • Revisi sekunder

Revisi sekunder meliputi pembuatan materi mimpi yang tidak teratur dan inkoheren menjadi lebih rapih dan rasional. Mekanisme ini membuat sebuah mimpi menjadi bermakna, namun mimpi yang muncul pada dasarnya berbeda dari implikasi yang sebenarnya (Freud, 1990).

Mekanisme pertahanan mimpi ini berperan agar mimpi yang dialami oleh seseorang dapat diterima oleh ‘ego’ nya. Adapun klasifikasi simbol menurut Freud yang merepresentasikan hal-hal yang terdapat di dunia nyata dalam mimpi seseorang. Freud mengklasifikasikan kategori-kategori tersebut dengan berorientasikan hal-hal yang bersifat seksual, seperti simbol alat kelamin pria yang dilambangkan oleh objek yang bebentuk batang (payung, pohon, Monumen Nasional, dll.), simbol alat kelamin perempuan yang dilambangkan oleh objek yang dapat diisi (lubang, botol, toples, dll.), simbol pria yang dilambangkan oleh objek yang terbuat dari batu, simbol perempuan yang dilambangkan oleh objek yang terbuat dari kayu, simbul hubungan intim seksual dilambangkan oleh objek simbol pria dan simbol perempuan yang berinteraksi, simbol orang yang disayang (perhiasan), simbol keinginan seksual (permen), simbol masturbasi (meluncur dari perosotan, memotong atau merusak batang pohon), dan simbol kastrasi atau rasa takut akan hukuman akibat masturbasi (gigi yang terjatuh).

Analisis mimpi Jung

Analisis mimpi oleh Jung berbeda dengan Freud. Jung berpendapat bahwa tidak semua konten mimpi ditunjukkan hanya karena keinginan seksual yang tertahan. Jung percaya bahwa alam bawah sadar kolektif dan individu, serta individualisasi, simbolisme dan gambaran arketipal berperan penting dalam menganalisa mimpi. Menurut Jung, mimpi merupakan koneksi antara alam bawah sadar dan alam sadar. Mimpi tersebut merupakan kompensasi berupa koreksi atau terminasi atas ketidakseimbangan pada sikap alam sadar berupa kesalahan atau kegagalan kognitif atau perilaku yang berbahaya (Jung, 1944/1966). Jung menggunakan teori kompensasi sebagai alat ukur dalam menganalisa mimpi seseorang (Jung, 1964).

Menurut Jung, mimpi mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi kompensasi dan fungsi non-kompensasi. Fungsi kompensasi merupakan fungsi yang dianggap sebagai regulasi diri sendiri dari makhluk batin dan harus mempunyai tujuan. Dengan kata lain, kompensasi ini merupakan kompensasi terhadap keinginan pemimpi. Pemimpi tersebut merasa kesulitan untuk merealisasikannya di dunia nyata. Fungsi non-kompensasi merupakan fungsi yang berhubungan dengan fungsi lainnya yang dapat menunjukkan intuisi, prekognisi, atau ramalan tentang apa yang akan terjadi di masa depan, seperti bencana, malapetaka, dan informasi lainnya. Fungsi ini tidak mendorong pemimpinya untuk merealisasikannya.

Kedua fungsi tersebut tersusun oleh psyche, atau jiwa yang dibagi menjadi tiga bagian: ego, alam bawah sadar pribadi, dan alam bawah sadar kolektif. Jung mendeskripsikan ego sebagai sebuah representasi kompleks yang menjadi badan untu pusat kesadaran dan memiliki derajat keberlangsungan dan identitas yang sangat tinggi (Jung, 1923). Ego juga tidak sinonim dengan jiwa, tetapi merupakan salah satu dari bagiannya (Jung, 1969) dan Jung mendefinisikannya sebagai alam sadar. Alam bawah sadar pribadi atau personal terletak setelah ego dan tersusun oleh pengalaman-pengalaman yang terlupakan dan telah hilang intensitas dan makna akibat dari rasa tidak nyaman yang dimunculkan olehnya, termasuk hal-hal atau sensasi yang terlalu lemah untuk dipersepsikan secara sadar (Jung, 1969). Alam bawah sadar kolektif dideskripsikan oleh Jung sebagai sebuah deposit dari pemrosesan duniawi yang melekat pada struktur sistem saraf simpatetik. Hal tersebut menjadi badan, dalam totalitasnya, untuk sejenis dunia internal yang tidak dikekang waktu yang mengimbangi gambaran sadar kita terhadap dunia secara singkat (Jung, 1969). Dengan kata lain, alam bawah sadar kolektif merupakan reservoir atau tempat penyimpanan pengetahuan kita sebagai satu spesies dan merupakan pengetahuan yang kita semua terlahir dengannya sebagai manusia.

Konten dari alam bawah sadar kolektif itu sendiri adalah gambaran arketipal atau arketipe, yang merupakan kecenderungan manusia untuk mempelajari dan mengalami suatu hal sebagai manusia dalam bentuk gambaran-gambaran yang ada di dunia nyata. Gambaran-gambaran tersebut dibagi menjadi tiga tipe, yaitu: tipe ego, tipe jiwa, tipe hewan, tipe Tuhan, dan tipe self atau diri sendiri. Terdapat banyak sekali gambaran-gambaran arketipal yang menjelaskan bagaimana cara pikiran dan jiwa manusia bekerja, dan gambaran-gambaran tersebut juga dapat menjadi panduan dalam menarik garis benang merah antara mimpi dan kejadian di dunia nyata dan menginterpretasikannya menjadi sebuah makna sesuai dengan fungsi kompensasinya.

Sebagai penutup, mengutip paragraf terakhir dari karya Jung yang berjudul Nature, beliau berpesan bahwa dalam mempelajari psikologi mimpi, kita tidak dapat menginggikan diri dari apa yang kita ketahui:

a generally satisfying theory or explanation of this complicated phenomenon. We still know far too little about the nature of unconscious psyche for that […] For the purpose of research is not to imagine that one possesses the theory which alone is right, but, doubting all theories, to approach gradually nearer to the truth.


(Jung, C.G., On the Nature of Dreams, 1945/1948, para. 569)

Daftar Pustaka

Boothe, B. (2017). Freudian dream interpretation. Encyclopedia of Personality and Individual Differences, 1–9. https://doi.org/10.1007/978-3-319-28099-8_1379-1

Majumdar, P., & Tripathi, S. (2019). Comparison of Freudian & Jungian View on Dream Analysis. Pramana Research Journal, 9(6). Diakses pada tanggal 26 Mei 2022 dari https://www.pramanaresearch.org/gallery/prj-p1188.pdf

Newby-Clark, I. R., & Thavendran, K. (2018). To daydream is to imagine events: Conceptual, empirical, and theoretical considerations. Theory & Psychology, 28(2), 261–268. https://doi.org/10.1177/0959354317752270

Prasad, R. B. (2014). Dreams and Reality: Jungian perspective of Compensatory and Non Compensatory Functions of Dreams. Ravi Bhusan Prasad [Subject: Psychology] International Journal of Research in Humanities and Social Sciences, 2(4). Diakses pada tanggal 1 Juni 2022 dari //www.raijmr.com/ijrhs/wp-content/uploads/2017/11/IJRHS_2014_vol02_issue_04_04.pdf

Voss, U., Holzmann, R., Tuin, I., & Hobson, A. J. (2009). Lucid dreaming: A state of consciousness with features of both waking and Non-Lucid Dreaming. Sleep, 32(9), 1191–1200. https://doi.org/10.1093/sleep/32.9.1191

Zadra, A., & Donderi, D. C. (2000). Nightmares and bad dreams: Their prevalence and relationship to well-being. PsycEXTRA Dataset. https://doi.org/10.1037/e323122004-007

Zhang, W., & Guo, B. (2018). Freud’s Dream Interpretation: A different perspective based on the self-organization theory of dreaming. Frontiers in Psychology, 9. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.01553

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *