Love Bombing

Tahukah kalian, selain gaslighting yang sering jadi perbincangan mengenai toxic relationship, ada juga loh jenis bentuk manipulatif lain dari toxic relationship yang juga bahaya bagi kesehatan mental, yaitu love bombing. Kira-kira apa itu love bombing? Mengapa love bombing bisa bahaya bagi kesehatan mental kita? Untuk mengetahui lebih lanjut, yuk kita simak infografis berikut!

Siapa sih yang gak senang kalau  di-“treat like a queen/king”? Setiap hari diberikan bunga, selalu dipuji, selalu diberikan afeksi-afeksi yang kita butuhkan sampai kita merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia, dan merasa menemukan seseorang yang bisa dikatakan “sempurna” seperti di kisah-kisah dongeng.

Tentu tidak ada yang salah ketika kita merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ketika menemukan seseorang yang tepat. Namun, hal tersebut justru menjadi bahaya ketika menjadi alat untuk memanipulasi seseorang. Seakan afeksi yang diberikan menjadi jaminan untuk mengontrol seseorang secara mental. Perilaku tersebut dikenal dengan istilah love bombing

Apa itu love bombing?

Love bombing merupakan suatu upaya untuk mempengaruhi orang lain dengan perhatian dan kasih sayang yang berlebihan. Love bombing adalah strategi manipulatif dengan tujuan untuk membuat individu merasa ketergantungan dan keberwajiban  kepada seseorang dengan cara memberi perhatian, kekaguman, dan kasih sayang secara berlebih.

Love bombing merupakan bentuk manipulasi psikologis yang biasanya terjadi pada hubungan romantis. Perlaku love bombing atau “love bomber” biasanya membuat seseorang menjadi ketergantungan denganya karena ia memberikan kebutuhan  dasar seperti merasa dicintai, merasa berharga, dan lain sebagainya. Selain itu, love bomber biasanya dengan sengaja memanipulasi dan mengeksploitasi kelenahan atau ketidaknyamanan orang lain.

Bagaimana mengenalinya?

Tapi tenang aja Psychofams! gak semua perliaku manis atau afeksi-afeksi yang kita dapatkan dari orang lain itu bertanda kita mengalami love bombing… Yang harus kita waspadai adalah ketika hal-hal yang diberikan terlalu berlebihan dan membuat kita merasa harus melakukan segalanya demi mendapatkan perhatian yang sama. Atau ketika kita sudah merasa mendapatkan afeksi yang kita inginkan, lalu si love bomber mendadak menjadi sebaliknya; dingin;kasar; cuek dengan tujuan supaya kita dapat dikontrol. Selain itu, tanda-tanda yang harus kita waspadai adalah sebagai berikut:

  • memberikan kita hadiah yang berlebihan dalam waktu yang singkat
  • membuat kita merasa bersalah karena menginginkan batasan atau ruang
  • sangat cepat mengklaim kita sebagai “belahan jiwa”
  • menuntut perhatian yang berlebih
  • mengisolasi kita dari keluarga dan teman-teman
  • menunjukkan perilaku yang posesif

Love bomber sadar bahwa mereka memiliki kendali atas pasangannya dan pada akhirnya dapat meninggalkan hubungan tersebut dan kembali kapan saja sesuka hati karena ia paham pasangannya akan menerimanya kembali.

Fase love bombing

Selain tanda-tanda yang sudah dijelaskan di slide sebelumnya. tanda yang dapat kita lihat dari pelaku love bombing adalah dengan melihat pola atau fase dari love bombing itu sendiri: Idealization, Devaluation, Discard → Repeat

  • Idealization

Fase awal ketika love bomber memberikan afeksi dan perhatiannya secara berlebihan. Bagi beberapa perilaku mungkin dapat dikatakan wajar jika hal-hal baik yang dilakukannya terus dilakukan secara konsisten dan tidak bertujuan untuk mengontrol kita.

  • Devaluation

Fase ketika ada perubahan mendadak dalam jenis perhatian, dari penuh kasih sayang dan cinta menjadi mengendalikan dan marah, dengan pasangan yang mengejar membuat tuntutan yang tidak masuk akal. Love bomber menggunakan devaluation untuk mengontrol pasangannya. Devaluation menjadi alat untuk membuat korban merasa terisolasi dan bergantung. Jika tampilan kasih sayang yang berlebihan terus berlanjut tanpa batas dan jika tindakan sesuai dengan kata-kata, dan tidak ada fase devaluasi, maka itu mungkin bukan love bombing

  • Discard

Love bomber menggunakan fase ini sebagai bagian dari manipulasi. Fase ini terjadi biasanya karena pada fase devaluation si korban muak diperlakukan demikian dan menolak untuk dimanipulasi lagi, kemudian love bomber “membuang” pasangannya yang tidak patuh lalu mencari orang baru. Hal ini akan membuat korban merasa hancur dan bingung. Namun demikian, selang beberapa waktu, ia muncul kembali meminta maaf dan berjanji untuk berubah, tetapi hal tersebut akan berulang (repeat) dan menjadi siklus.

Referensi

Dale, A. (2017). The Danger of Manipulative Love-Bombing in a Relationship. Psychologytoday.Com. https://www.psychologytoday.com/us/blog/reading-between-the-headlines/201703/the-danger-manipulative-love-bombing-in-relationship. diakses pada 19 November 2021

Griffiths, M. D. (2019). Love Bombing. Psychologytoday.com. https://www.psychologytoday.com/us/blog/in-excess/201902/love-bombing. diakses pada 19 November 2021 

L’amie, L., & Andrews, T. (2021). What is Love Bombing? – How to Tell If You’re Dating a Narcissist. Cosmopolitan.Com. https://www.cosmopolitan.com/sex-love/a26988344/love-bombing-signs-definition/. diakses pada 19 November 2021 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *