Pola asuh orang tua adalah sikap orang tua terhadap hubungannya dengan anak-anaknya. Kebiasaan mengasuh anak ini meliputi bagaimana orang tua memerintah, memberi aturan, memberi penghargaan dan hukuman, bagaimana orang tua menunjukkan otoritas mereka, dan bagaimana orang tua memperhatikan reaksi anak. Tujuan utama pengasuhan adalah untuk memelihara kesejahteraan fisik anak dan meningkatkan kesehatannya, membantu anak mengembangkan kemampuannya sesuai dengan latar belakang perkembangannya, dan meningkatkan kemampuannya untuk mengembangkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budayanya.

Setiap orang tua memiliki tipe pengasuhan anak sendiri untuk merawat setiap anak dalam keluarga. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kebiasaan mengasuh anak, seperti usia orang tua, keterlibatan ayah, pendidikan orang tua, pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak, stress orang tua, dan hubungan suami istri (Supartini, 2004). Berdasarkan faktor-faktor tersebut, terdapat perbedaan tipe pola asuh dengan anak.

Teori Pola Asuh Baumrind

Diana Baumrind (1971) berpendapat bahwa orang tua seharusnya tidak menghukum maupun bersikap dingin kepada anak-anaknya. Orang tua seharusnya mengembangkan aturan-aturan serta bersikap hangat kepada anak anaknya. Baurmind membagi karakteristik gaya pola asuh menjadi dua dimensi yaitu “the degree of parental responsiveness and the degree of demand” (Pressley & McCormick, 2007). Berikut merupakan tabel dimensi gaya pola asuh berdasarkan dua dimensi menurut Baumrind:

DimensionsHigh DemandingLow Demanding
High ResponsiveAuthoritative
Respectful of child’s opinions, but maintains clear boundaries
Permissive
Indulgent, without discipline
Low ResponsiveAuthoritarian
Strict disciplinarian
Uninvolved
Emotionally uninvolved and does not set rules

Baurmind mendeskripsikan pola asuh orang tua menjadi empat tipe yaitu authoritarian parenting, authoritative parenting, permissive parenting, dan uninvolved/neglectful parenting.

Pola Asuh Otoritarian (authoritarian parenting)

Pola asuh otoritarian merupakan gaya pengasuhan yang membatasi dan menghukum, di mana orang tua mendesak anaknya agar mengikuti pengarahan mereka serta menghormati pekerjaan dan jerih payah mereka. Orang tua autoritarian menempatkan batasan-batasan dan yang tegas pada anak serta tidak banyak memberi peluang kepada anak-anak untuk bermusyawarah. Pengasuhan autoritarian diasosiasikan dengan anak-anak yang secara sosial tidak kompeten (Santrock, 2012). Berikut beberapa ciri orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter:

  • Orang tua percaya anak-anak tidak perlu didengar.
  • Ketika berbicara mengenai aturan, orang tua percaya bahwa itu “my way or the highway”
  • Orang tua tidak mempertimbangkan perasaan anak.

Orang tua yang otoriter percaya bahwa anak-anak harus mengikuti aturan tanpa terkecuali. Ketika seorang anak mempertanyakan alasan di balik sebuah aturan, orang tua otoriter sering mengatakan, “Karena saya berkata seperti itu, karena itu aturan saya.” Orang tua tidak tertarik untuk bernegosiasi dan fokus mereka adalah pada kepatuhan anak-anaknya. Orang tua otoriter juga tidak mengizinkan anak-anak mereka untuk terlibat dalam tantangan dan hambatan pemecahan masalah. Sebaliknya, mereka membuat aturan dan menegakkan konsekuensinya dengan sedikit memperhatikan pendapat anak. Orang tua yang otoriter lebih menggunakan hukuman. Jadi, alih-alih mengajari seorang anak bagaimana membuat pilihan yang lebih baik, mereka membuat anak-anak merasa menyesal atas kesalahan mereka.

Banyak hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter berpengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadian. Anak memiliki kepercayaan diri rendah, tidak bertanggung jawab, pemalu, agresif, menarik diri dari pergaulan, tidak fleksibel dalam pergaulan, senantiasa merasa cemas, konsep diri rendah, tidak berani mengambil resiko, tidak memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan, memiliki perasaan rendah diri, harga diri rendah, dan bentuk-bentuk kepribadian yang tidak mendukung perkembangan kepribadian dan potensi anak (William, 2004; Rothman, 2007; Katz, 2008; Epstein, 2002; Surna, 2020).

Pola Asuh Otoritatif (authoritative parenting)

Pola asuh otoritatif merupakan gaya pengasuhan yang mendorong anak-anak untuk mandiri namun masih tetap memberi batasan dan terhadap tindakan-tindakan mereka. Mereka masih mengijinkan musyawarah verbal; mereka juga hangat dan mengasuh anaknya. Orang tua autoritatif diasosisasikan dengan anak-anak yang secara sosial kompeten (Santrock, 2012). Ciri-ciri orang tua dengan pengasuhan otoritatif adalah sebagai berikut:

  • Orang tua berusaha keras untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan yang positif dengan anak-anaknya.
  • Orang tua menjelaskan alasan di balik aturan yang mereka buat.
  • Orang tua menegakkan aturan dan memberikan konsekuensi, tetapi pertimbangkan perasaan anak-anaknya.

Orang tua yang otoritatif memiliki aturan dan menggunakan konsekuensi, tetapi mereka juga mempertimbangkan pendapat anak-anak mereka. Mereka memvalidasi perasaan anak-anak mereka, juga memperjelas bahwa orang dewasa pada akhirnya bertanggung jawab. Orang tua otoritatif menginvestasikan waktu dan energi untuk mencegah masalah perilaku sebelum mereka mulai. Mereka juga menggunakan strategi disiplin positif untuk memperkuat perilaku positif, seperti sistem pujian dan penghargaan.

Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang otoritatif memberi dampak yang berarti bagi kepribadian anak. Di antara hasil penelitian tersebut mengemukakan bahwa orang tua yang otoritatif ternyata mampu mengembangkan kepercayaan diri anak, harga diri yang tinggi, bertanggung jawab mandiri, berani mengambil resiko. menunjukkan prestasi belajar, dan mengembangkan potensinya secara optimal (Xu, 2005; Levy, 2008; Slavin, 2007; Shields, 2005; Santrock, 2009; Surna, 2020).

Pola Asuh Permisif (permissive parenting)

Pola asuh permisif merupakan gaya pengasuhan di mana orang tua sangat terlibat dengan anak anaknya namun kurang memberikan tuntutan atau kendali terhadap mereka. Pengasuhan yang memanjakan diasosiasikan dengan anak-anak yang secara sosial tidak kompeten, khususnya dalam hal kurangnya kendali-diri (Santrock, 2012). Berikut ciri-ciri orang tua dengan pola asuh permisif:

  • Orang tua menetapkan aturan tetapi jarang menegakkannya.
  • Orang tua tidak terlalu sering memberikan konsekuensi.
  • Orang tua berpikir anak akan belajar paling baik dengan sedikit campur tangan dari mereka.

Orang tua yang permisif bersikap lunak. Mereka sering hanya turun tangan ketika ada masalah serius. Mereka cukup pemaaf dan mempunyai pola pikir serta sikap seperti “anak-anak akan tetap anak-anak.” Ketika mereka menggunakan konsekuensi, mereka mungkin tidak membuat konsekuensi tersebut melekat pada anak mereka. Mereka mungkin memberikan hak istimewa kembali jika seorang anak memohon atau mereka dapat mengizinkan seorang anak untuk keluar dari waktu istirahat lebih awal jika berjanji untuk menjadi baik. Mereka sering mendorong anak-anak mereka untuk berbicara dengan mereka tentang masalah mereka, tetapi mereka biasanya tidak berusaha keras untuk mencegah pilihan yang buruk atau perilaku yang buruk.

 Dampak pola asuh permisif bagi anak antara lain kematangan anak cenderung lambat, kurang mampu mengontrol diri, impulsif, kurang termotivasi dalam melaksanakan tugas, kurang mandiri, motivasi berprestasi cenderung lemah, dan kurang percaya diri (Santrock, 2009; Eggen dan Kauchak, 2004; Boyd dan Bee, 2010; Surna, 2020).

Pola Asuh yang Melalaikan (uninvolved/neglectful parenting)

Pola asuh yang melalaikan merupakan g aya pengasuhan di mana orang tua sangat tidak terlibat di dalam kehidupan anak; pengasuhan ini diasosiasikan dengan anak-anak yang secara sosial tidak kompeten, khususnya dalam hal kurangnya kendali-diri (Santrock, 2012). Ciri-ciri dari orang tua dengana pola asuh yang melalaikan adalah sebagai berikut:

  • Orang tua tidak bertanya kepada anak tentang sekolah, pekerjaan rumah, ataupun kegiatan sehari-harinya.
  • Orang tua jarang tahu di mana anak atau dengan siapa mereka saat itu.
  • Orang tua tidak menghabiskan banyak waktu dengan anak.

Orang tua dengan pola asuh yang melalaikan cenderung memiliki sedikit pengetahuan tentang apa yang dilakukan anak-anak mereka. Anak-anak tidak menerima banyak bimbingan, pengasuhan, dan perhatian orang tua. Orang tua lebih mengharapkan anak-anak untuk membesarkan diri mereka sendiri. Mereka tidak mencurahkan banyak waktu atau energi untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak. Mereka mungkin lalai tetapi tidak selalu disengaja. Orang tua yang cenderung melalaikan kurang memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak. Dan terkadang, mereka hanya kewalahan dengan masalah lain, seperti pekerjaan, membayar tagihan rumah tangga, dan mengelola rumah tangga itu sendiri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapat pola asuh ini memiliki kecenderungan kurang mampu mengontrol diri, mudah frustrasi, sulit mematuhi aturan, kurang mampu mempersiapkan kehidupan masa depan yang layak, dan kurang mandiri (Eggen dan Kauchak, 2004; Baker dan Stevenson, 2005; Brown, 2002; Santrock, 2009; Surna, 2020).

Referensi:

Santrock, J. W. (2012). Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Surna, I. N. (2020). Psikologi Pendidikan 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Supartini, Y. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Pressley, M., & McCormick, C. B. (2007). Child and Adolescent Development for Educator. New York: The Guildford Press.

Bi, X., Yang, Y., Li, H., Wang, M., Zhang, W., & Deater-Deckard, K. (2018). Parenting Styles and Parent–Adolescent Relationships: The Mediating Roles of Behavioral Autonomy and Parental Authority. Frontiers in Psychology, 9. doi:10.3389/fpsyg.2018.02187

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *