Dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa tidak luput dari berbagai aspek fenomena psikologi yang menyertai aktivitas kita, mulai dari interaksi kita terhadap rekan kerja, rekan akademis, anggota keluarga, kekasih, kucing dan anjing jalanan, hingga iklan-iklan yang bertebaran di papan reklame jalan dan media sosial yang kita gunakan. Sebagian besar aspek fenomena psikologi, seperti aspek persuasi yang kita hadapi tentunya bergerak maju secara paralel, seperti ketika kita menginginkan seseorang untuk melakukan sesuatu, kita menyuruh atau meminta tolong mereka untuk melakukannya, atau ketika kita berharap afeksi dari orang yang kita sayang, kita juga dapat melakukan suatu bentuk komunikasi dengan orang tersebut dengan tujuan agar kita mendapatkan afeksi tersebut, baik dengan memberikan afeksi yang diinginkan atau meminta secara langsung. Namun, apa yang terjadi jika aspek fenomena psikologi bergerak tidak paralel? Apakah kita dapat meminta seseorang untuk melakukan sesuatu dengan cara meminta seseorang untuk tidak melakukan hal tersebut?

Reverse Psychology dan Psychology Reactance Theory

Reverse psychology atau psikologi terbalik merupakan sebuah metode atau strategi yang digunakan ketika seseorang memiliki tujuan dari sebuah tindakan yang berlawanan dari apa yang dilakukan atau dikatakan olehnya (MacDonald et al., 2011). Metode ini memiliki basis dari psychology reactance theory (PRT) atau teori reaktansi psikologi, yaitu suatu kondisi motivasional terhadap peningkatan yang terjadi akibat kebebasan seseorang telah terancam atau telah tereliminasi (Brehm, 1966). 

Reaktansi dapat terjadi ketika kebebasan seseorang merasa terancam dan akhirnya memunculkan aspek motivasional dan afektif dalam sikap resistensi atau pertahanan seseorang. Dengan kata lain, ketika seseorang merasa kebebasannya terancam, seperti ketika seseorang hanya diberikan dua pilihan yang tersedia dan terdapat pilihan ketiga yang tidak tersedia bagi orang tersebut, pilihan ketiga yang tidak tersedia untuknya menjadi lebih menarik baginya dibandingkan dua pilihan yang tersedia tersebut. Konsekuensi yang timbul dari reaktansi seseorang dapat disebut sebagai restorasi yang dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung (melalui pihak ketiga).

Psikologi Terbalik dan Aplikasinya dalam Pemasaran

Psikologi terbalik mengutamakan prinsip reaktansi ketika seseorang diberikan pesan negatif dengan tujuan sasarannya melakukan restorasi berupa hal yang berlawanan dari pesan negatif tersebut. Aplikasi prinsip in dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dan cukup sering digunakan dalam melakukan pemasaran dan pengiklanan, hubungan sosial, parenting, hingga terapi. 

Dalam pemasaran dan pengiklanan, dapat kita temui aplikasi metode psikologi terbalik dalam iklan-iklan yang bertujuan untuk mengurangi perilaku tidak sehat dan untuk mengurangi minat pembelian akibat kekurangan persediaan barang, yang disebut sebagai de-marketing. Lalu, terdapat juga anti-marketing yang menggunakan metode tidak konvensional dan tradisional dari metode pemasaran dan pengiklanan secara keseluruhan untuk menarik konsumen. Kedua konsep pemasaran dan pengiklanan tersebut berlawanan dengan prinsip konvensional yang ada dengan menggunakan pesan-pesan yang mengejutkan dan berbeda dari apa yang konsumen biasa lihat sebagai iklan pada umumnya. Aplikasi psikologi terbalik dapat meningkatkan rasa penasaran dan keingintahuan serta ketertarikan konsumen terhadap produk yang dipasarkan walaupun hal tersebut juga dapat memberikan kesan negatif terhadap konsumen (Chan & Leung, 2018).

Psikologi Terbalik dalam Parenting

Ketika orang tua menginginkan anaknya untuk memakan makanan yang sehat, seperti sayuran (terutama brokoli dan bayam), sebagian besar orang tua kesulitan untuk menyuruh anaknya untuk memakan makanan tersebut. Saat disajikan, terkadang seindah dan semenarik apapun penampilan makanan tersebut, anak kecil cenderung memisahkan hal yang mereka tidak suka dan tidak memakannya. Hal ini dapat memicu reaksi agresif dari orang tua, terutama yang menyajikan makanan tersebut. 

Banyak anak kecil pun semakin tidak ingin memakannya karena cenderung dimarahi atau dibentak ketika mereka tidak menyukai makanan yang baik untuk mereka walaupun rasanya kurang menggugah selera nafsu makan mereka. Beberapa orang tua menggunakan prinsip psikologi terbalik, yaitu ketika mereka meletakkan makanan dan sayuran di atas piring mereka lalu menyantapnya dengan ekspresi yang memuaskan. Hal tersebut memicu reaksi penasaran dalam diri anak kecil sehingga membuat mereka ingin mencoba santapan nikmat yang dilahap oleh orang tuanya.

Psikologi Terbalik dalam Hubungan Sosial

Dalam aplikasi prinsip psikologi terbalik, terdapat perbedaan antara hubungan interpersonal dan hubungan pertemanan atau asmara. Tergantung jenis hubungan dan kepribadian orang yang terlibat, psikologi terbalik dapat membantu atau merusak jalannya hubungan tersebut. Jika salah satu pihak cukup  peka dan sangat tidak suka di bawah kendali orang lain, maka tentu hasilnya akan merusak hubungan mereka. Pihak tersebut akan mengekspresikan perasaan tidak senangnya yang dapat mengakibatkan renggangnya hubungan mereka.

Teknik Umum Psikologi Terbalik

Banyak dari kita tidak sadar bahwa kita mungkin pernah menjadi subjek atau pelaku sebuah tindakan yang menggunakan prinsip psikologi terbalik, baik secara sadar atau tidak sadar, langsung maupun tidak langsung. Umumnya, ada dua teknik yang sering digunakan oleh orang lain untuk mengarahkan respon sasarannya sesuai dengan tujuannya:

  1. Foot-in-the-Door Technique (FITD)
    • FITD atau teknik kaki di dalam pintu ini merupakan salah satu dari compliance technique atau taktik kepatuhan yang berasumsi bahwa menyetujui permintaan kecil akan meningkatkan kemungkinan untuk menyetujui permintaan berikutnya yang lebih besar (Freedman & Fraser, 1966). Teknik ini mengandalkan prinsip konsistensi dan dapat bekerja selagi permintaan-permintaan berikutnya yang lebih besar masih dalam konteks yang sama (Petrova et al., 2007).
  2. Door-in-the-Face Technique (DIFT).
    • DIFT atau teknik pintu di wajah ini merupakan teknik yang berlawanan alurnya dari teknik sebelumnya, yaitu ketika seseorang mengajukan permintaan besar yang kemungkinan akan ditolak oleh yang diajukan, orang tersebut akan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menerima permintaan berikutnya yang lebih kecil. Teknik ini mengandalkan prinsip timbal balik yang muncul dari yang dimintai pertolongan ketika mereka merasa segan untuk menolak kembali permintaan tersebut dengan kondisi orang mengajukan permintaan masih orang yang sama dan permintaan yang diajukan masih dalam konteks yang sama (Cialdini et al., 1975).

Jangan Beritahu Yang Lain Soal Artikel Ini!

Aplikasi psikologi terbalik di berbagai macam bidang memang secara kasat mata memberikan sebuah kesan bahwa mereka yang menggunakan prinsip tersebut dapat dicap sebagai orang yang manipulatif dan kurang baik. Nyatanya, jika kita lebih menyadari fenomena sosial yang kita temui di dunia kita, prinsip ini sering digunakan sebagai metode yang efektif untuk mempengaruhi perilaku seseorang, mungkin untuk kebaikan orang yang mempengaruhi ataupun yang dipengaruhi. Jika pembaca tidak ingin orang lain tahu soal prinsip ini, mungkin atas dasar pembaca cenderung menggunakan metode ini atau atas dasar motif lainnya, jangan beritahu yang lain ya soal artikel ini!

REFERENSI

Chan, W. T., & Leung, C. H. (2018). An empirical study on reverse psychology applied in advertising messages. Asian Journal of Empirical Research, 8(9), 321–329. https://doi.org/10.18488/journal.1007/2018.8.9/1007.9.321.329

Cialdini, R. B., Vincent, J. E., Lewis, S. K., Catalan, J., Wheeler, D., & Darby, B. L. (1975). Reciprocal concessions procedure for inducing compliance: The door-in-the-face technique. Journal of Personality and Social Psychology, 31(2), 206–215. https://doi.org/10.1037/h0076284

Freedman, J. L., & Fraser, S. C. (1966). Compliance without pressure: The foot-in-the-door technique. Journal of Personality and Social Psychology, 4(2), 195–202. https://doi.org/10.1037/h0023552

MacDonald, G., Nail, P. R., & Harper, J. R. (2011). Do people use reverse psychology? an exploration of strategic self-anticonformity. Social Influence, 6(1), 1–14.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *