Dyna Kurnia Ningsih, Hilmy Hibatur Rizq

Staff Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan

Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Wilayah 2

Pendahuluan

Dalam keseharian kita sebagai manusia, kita tidak dapat melewatkan satu hari saja tanpa adanya berpikir. Dapat dikatakan bahwa berpikir telah menjadi bagian dari diri kita. Pada dasarnya, berpikir menurut pandangan psikologi merupakan perilaku kognitif dimana ide, gambar, representasi mental, dan elemen pemikiran hipotetis lainnya dialami atau dimanipulasi (Kamus APA). Akan tetapi, banyak dari kita yang berpikir secara berlebihan atau biasa kita kenal dengan overthinking. Orang yang overthinking disebut sebagai overthinkers.  Dampak positif dan negatif tergantung pada intensitas dan seberapa banyak hal itu terjadi (Zimmerman, 2019, dikutip dalam Pieter dkk., 2022). Sebuah studi menunjukkan sekitar 70% remaja hingga dewasa berusia 25-35 tahun mengalami overthinking kronis.

Pengertian Overthinking

Berdasarkan pendapat ahli, overthinking adalah distorsi kognitif pada manusia, khususnya pada proses berpikir yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada (Burn, 1991). Secara umum, overthinking mengacu pada proses pemikiran yang berulang dan tidak produktif. Karena pikiran dapat difokuskan pada banyak hal yang berbeda, penelitian umumnya membedakan antara rumination tentang masa lalu dan masa kini, dan khawatir tentang masa depan. Terlepas dari kata mana yang kita gunakan, secara singkat kita berbicara tentang putaran pemikiran konstan yang tampaknya tidak memiliki resolusi atau pemecahan.

Secara umum, definisi overthinking secara teoritik memiliki kesamaan, yaitu keadaan dimana seseorang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir pada sesuatu. Proses berpikir secara terus menerus tersebut tidak dibarengi dengan proses penyelesaian atau problem solving, sehingga dianggap tidak menyelesaikan masalah. Overthinking melibatkan pemikiran tentang topik atau situasi tertentu secara berlebihan, menganalisisnya untuk jangka waktu yang lama. Overthinking didefinisikan sebagai lingkaran pikiran yang tidak produktif atau banyaknya pikiran yang tidak perlu.

Berdasarkan sudut pandang salah satu panitia program Ngopi, Febriana, S. dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (UIN Bandung), berpendapat bahwa overthinking merupakan berpikir berlebihan. Apa yang seharusnya tidak harus dipikirkan menjadi beban pikiran. Ada pula pendapat dari Amanda, R. dari ILMPI Wilayah 2 menyatakan bahwa overthinking sering dialami oleh setiap orang, pada dasarnya overthinking artinya berpikir berlebihan. Menurut Amanda, overthinking memiliki konsep negatif, karena dengan kita memikirkan sesuatu akan memicu stress dan membuat kita memiliki beban pikiran.

Pemicu Overthinking

Overthinking dapat dipicu oleh berbagai hal. Hasil penelitian membuktikan bahwa keterampilan intrapersonal pada seseorang terkait erat dengan efek overthinking. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa keterampilan intrapersonal berpengaruh sebesar 74,3% terhadap overthinking, sedangkan 25,7% dipengaruhi oleh faktor lain (Pieter dkk., 2022). Menurut sebuah studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam Journal of Abnormal Psychology, berkutat pada masalah, kesalahan, dan kekurangan diri, meningkatkan risiko masalah kesehatan mental (dikutip dari Michl, 2013). Saat kesehatan mental menurun, kita cenderung merenungkan pikiran kita. Hal ini adalah siklus berulang yang sulit untuk dipatahkan.

 Putri, F. dari Univeristas Pancasila (UP) berpendapat bahwa overthinking muncul karena kecemasan. Misalnya hari ini dia melakukan suatu hal, kemudian dia berpikir kedepannya akan menjadi bagaimana, apakah nanti akan menjadi hal yang baik atau buruk. Overthinking lebih kepada kecemasan masing-masing individu. Selaras dengan pendapat Nabilla, E. dari Univeristas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) menyatakan bahwa kecemasan yang berlebihan yang sedang dihadapi atau nanti akan dihadapi. Sedangkan Yassar, W. dari Universitas Indonesia (UI) menyatakan bahwa pemicu overthinking adalah tingkat stress. Faktor risiko lainnya misalnya lingkungan keluarga, lingkungan sosial, bahkan di lingkungan akademik dapat menjadi pemicu overthinking.

Pengalaman

Menurut Smith  (2020),  overthinking  perlu  untuk dikhawatirkan atau dalam artian telah melewati batas normal ketika sudah menghalangi kemampuan diri manusia  untuk berfungsi dan  berdaya sebagaimana biasanya, misalnya overthinking yang telah memengaruhi pola tidur seseorang sehingga berdampak kurang baik pada hari berikutnya (dikutip dalam Karimah, 2021).

Pengalaman yang pernah dirasakan oleh Amanda, R. dari ILMPI Wilayah 2 adalah overthinking terkait melakukan sesuatu. Misalnya ketakutan saat menjawab pertanyaan dosen. Apabila salah, muncul pemikiran seperti bisa dipermalukan atau disangka tidak mengerti dan lainnya. Ada pula pengalaman tekait overthinking lainnya dari Arsydna, Y. dari Universitas Islam 45 Bekasi (UNISMA Bekasi) menceritakan bahwa dia mengalami kecemasan akan suatu hal yang belum tentu terjadi. Dengan hal ini, membuat kita dapat melakukan antisipasi. Baik buruknya tergantung penyikapan kita saat menghadapi overthinking, yang menjadi tidak baik ketika kita overthinking dan langsung down, tidak bisa bergerak dan lainnya. Namun saat hal itu mampu membuat kita mengantisipasi hal-hal yang buruk mungkin bisa menjadi bagus. Pengalaman overthinking lainnya dialami oleh Febriana, S. dari ILMPI Wilayah 2 bercerita bahwa misalnya saat kita berbicara dengan orang, kemudian orang tersebut berbicara hal yang mengarah ke diri kita yang sebenarnya biasa saja. Namun, hal tersebut membuat kita kepikiran. Muncul pemikiran seperti “apakah yang diomongin itu benar?”

Apakah Overthinking Baik atau Tidak?

Menurut Coleman, Paul (2015), overthinking adalah kegiatan yang cenderung negatif sebab dianggap mengganggu kita untuk mengambil keputusan yang wajar. Overthinking sendiri sangat membuang energi, menyita waktu dan mengorbankan emosi. Ditambah lagi benefit nya rendah bahkan hampir tidak ada (Coleman, 2015 dikutip dari Priananda, 2021). Akan tetapi, dilain sisi, overthinking juga memiliki manfaat yang baik. Memikirkan secara mendalam tentang segala sesuatu dan semua orang di sekitar kita, memberi kita kekuatan untuk memahami segalanya dengan lebih baik dan pada tingkat yang lebih intim (dikutip dari Main, 2019).

Amanda, R. dari ILMPI Wilayah 2 menyatakan contohnya overthinking terkait omongan sesorang, artinya kita overthinking terhadap suatu faktor eksternal. Saat kita terlalu memikirkan sesuatu yang dari eksternal dan tidak berdasarkan realita atau data, hal itu tidak baik. Kecuali orang tersebut memberikan suatu kritik atau omongan yang sifatnya konstruktif yang dapat membuat kita berkembang menjadi lebih baik. Hal ini bisa dikatakan sebagai suatu hal yang positif. Lalu ada Zahirah, L. dari ILMPI Wilayah 2 yang berpendapat bahwa overthinking tidak baik bagi individu, apalagi saat kita terlalu mendengarkan pembicaraan orang lain, karena saat kita mendengarkan pembicaraan orang lain, hal tersebut tidak akan ada habisnya dan semua orang tidak mungkin menyukai kita.

Sedangkan Afrizal dari Universitas Jayabaya memiliki pandangan bahwa sesuatu itu pasti ada baik dan buruknya, terutama overthinking. Menurut Afrizal, overthinking ada baiknya, misal ketika kita sedang bermasalah dengan tugas di kampus yang menumpuk dan membuat kita overthinking, kita terdorong untuk mencari bantuan di lingkungan pertemanan kita, sehingga membuat kita menjadi lebih dekat dengan mereka.  

Overthinking adalah bagian dari diri kita, saat kita overthinking artinya kita sedang mencari solusi untuk menyelesaikan masalah. Lalu ada pandangan lain dari Dandee dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Jakarta) menyatakan bahwa overthinking atau ruminasi termasuk dalam coping style. Orang dengan coping style yang mengarah kepada overthinking cenderung dikatakan maladaptive coping style atau abnormal coping style. Wajar ketika seseorang memikirkan akan suatu masalah, namun saat membicarakan overthinking sama sekali tidak normal. Suatu perilaku dikatakan tidak normal bisa dilihat dari 4D (distress, dysfunction, deviance, dangerousness) dan orang dengan coping style maladaptif seperti overthinking memenuhi empat kategori ini. Kita perlu membahas apa yang menjadi gejala dari perilaku dari ruminasi. Berbicara overthinking atau ruminasi, hal ini termasuk ke dalam kategori maladaptif, berbeda dengan problem solving. Apabila ingin berbicara dengan hal yang lebih netral, hal tersebut bisa masuk ke dalam pembahasan defense mechanism. Jadi, ruminasi atau overthinking berbeda dengan problem solving. Kita mungkin akan mengangkat tema apa yang membedakan ruminasi dengan coping style yang biasa.

Menanggapi pendapat dari Dandee tentang overthinking merupakan bentuk maladatif coping, Amanda, R. dari ILMPI Wilayah 2 menyatakan bahwa overthinking merupakan sesuatu yang sebenarnya merupakan suatu bentuk coping yang tidak dianjurkan atau disarankan. Amanda setuju sebenarnya jika dikaitkan dengan yang tadi merupakan suatu bentuk coping. Jika melihat dari sisi positifnya juga dapat membuat kita memikirkan suatu hal dari jauh dan membuat kita berpikir tentang kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Akibat Overthinking

Overthinking memiliki beragam akibat yang dapat dirasakan oleh banyak orang. Overthinking dapat memiliki hubungan dua arah dengan masalah kesehatan mental. Stres, depresi, dan kecemasan dapat membuat orang lebih rentan untuk berpikir berlebihan, dan kemudian pemikiran berlebihan ini berkontribusi pada stres, kecemasan, dan depresi yang lebih buruk (Michl dkk., 2013). Overthinking juga dapat berdampak serius pada hubungan. Terobsesi dengan setiap hal kecil yang dilakukan dan dikatakan orang lain juga dapat berarti bahwa kita salah memahami apa yang ingin mereka sampaikan. Hal itu juga dapat menyebabkan kecemasan dalam hubungan, dan perilaku seperti terus-menerus membutuhkan kepastian atau berusaha mengendalikan orang lain. Perilaku seperti itu dapat merusak hubungan kita dengan orang lain. Selain itu, terlalu banyak berpikir dapat merusak kualitas tidur. Jadi lebih sulit untuk tertidur lelap ketika otak kita sibuk memikirkan segalanya.

Zahirah, L. dari ILMPI Wilayah 2 bercerita bahwa ketika dia overthinking berlebihan, dapat langsung membuat gangguan mood atau anxiety dan emosi menjadi tidak stabil. Jadinya menghambat komunikasi dengan orang lain. Fera dari Universitas Pelita Harapan (UPH) berpendapat bahwa apabila berbicara tentang dampak overthinking maka fokusnya akan ke masalah secara terus menerus. Akibatnya tidak fokus dengan apa yang dikerjakan saat ini. Pastinya membuat kita tidak bisa menyelesaikan masalah atau pekerjaan saat ini. Hal ini menjadi penghambat dan hilang fokus terhadap hal yang akan kita lakukan. Titis, A. dari Universitas Bina Nusantara (BINUS) berpendapat bahwa akibat dari overthinking yaitu tidak nafsu makan dan menjadi susah tidur. Selaras dengan pendapat Titis, A. Viqi, S. dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) menyatakan bahwa pengaruh overthinking bisa membuat pola tidur menjadi berantakan karena banyak yang dipikirkan.

Amanda, R. dari ILMPI Wilayah 2 menyatakan bahwa overthinking bukan hanya mengganggu fisik, mood, perilaku. Namun sebenarnya overthinking juga berpengaruh pada performa kita di kegiatan sehari-hari. Misalnya saat memikirkan sesuatu secara berlebihan dan kita sedang mengerjakan pekerjaan kita sekarang membuat tidak berkonsentrasi, karena fokusnya kepada sesuatu yang belum tentu terjadi. Pikiran-pikiran yang muncul saat kita overthinking merupakan suatu hal yang negatif, jadi bisa mengganggu konsentrasi. Walaupun hal ini bisa membuat kita untuk prepare for the worst, Overthinking merupakan proses seseorang berpikir tergantung seseorang mempersepsikan apa yang dia pikirkan. Kemampuan untuk berpikir merupakan suatu kelebihan manusia, jadi konsepnya tidak terlalu negatif dari yang dipersepsikan oleh orang-orang.

References:

American Psychological Association. (n. d.). Thinking. American Psychological Association. Retrieved December 22, 2022, from https://dictionary.apa.org/thinking

Karimah, Afifah. (2021). Overthinking dalam Perspektif Psikologi dan Islam. doi:10.13140/RG.2.2.31897.54883.

Michl, L. C., McLaughlin, K. A., Shepherd, K., & Nolen-Hoeksema, S. (2013). Rumination as a mechanism linking stressful life events to symptoms of depression and anxiety: Longitudinal evidence in early adolescents and adults. Journal of Abnormal Psychology, 122(2), 339–352. https://doi.org/10.1037/a0031994

Main, Kacie. (2019). 5 Little Reasons Why It’s Actually Good To Be An ‘Overthinker’. Retrieved Desember 27, 2022, from https://thoughtcatalog.com/kacie-main/2019/01/5-little-reasons-why-its-actually-good-to-be-an-overthinker/

Petric, D. (2018). Emotional knots and overthinking. The Knot Theory of Mind. doi:10.13140/RG.2.2.18079.66720

Pieter, R., Nababan, D., Ariawan, S., Listio, S., & Ruben, S. (2022). Improving interpersonal skills to overcome the negative effects of overthinking in the disruption era. BIRCI-J. 2022;5(2):10632-10642. doi:10.33258/birci.v5i2.4876

Priananda, P. D. (2021). “Overthinking Baik atau Buruk?”. Retrieved Desember 27, 2022, from https://www.kompasiana.com/pepitadvna/6153177fa970d15b9f0d98b2/overthinking-baik-atau-buruk

Thomsen, D. K., Yung Mehlsen, M., Christensen, S., & Zachariae, R. (2003). Rumination—relationship with negative mood and sleep quality. Personality and Individual Differences, 34(7), 1293–1301. doi:10.1016/s0191-8869(02)00120-4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *