Kalian tau gaksih, kalo kalian terobsesi untuk produktif dan merasa bersalah jika tidak melakukan hal-hal yang produktif bisa jadi itu malah toxic productivity lohh, apa ya toxic productivity itu?

Apa itu Toxic Productivity?

Toxic productivity adalah sebuah obsesi untuk mengembangkan diri dan merasa bersalah jika tidak melakukan  banyak hal. Menjadi seorang yang produktif untuk mengembangkan diri memanglah baik, namun jika hal tersebut dilakukan dengan berlebihan justru akan berakibat buruk. Berusaha untuk selalu produktif melakukan banyak hal lama-lama dapat membuat kamu burnout atau stres berat. Akibatnya, kamu berisiko mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi.

Ciri-ciri toxic productivity:

  1. Sangat terobsesi untuk produktif. Kamu selalu merasa tidak puas dengan hal-hal yang sudah kamu lakukan, kamu selalu mencari cara bagaimana untuk selalu menyibukkan diri di berbagai kegiatan yang berlebihan.
  1. Kesulitan untuk beristirahat. Kamu merasa bersalah apabila beristirahat, kamu selalu berpikir dengan waktu beristirahat itu bisa dilakukan dengan hal-hal lain yang lebih produktif, padahal istirahat tidak kalah penting.
  1. Memiliki ekspektasi yang sangat tinggi. Karena memaksakan dirinya untuk selalu produktif, muncul lah ekspektasi di luar batas kemampuan dirinya dari dalam dirinya sendiri. Kamu selalu merasa tidak puas dengan hal-hal yang sudah kamu capai.

Bahaya nya toxic productivity

  1. Burnout. Burnout adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan stress yang dipicu oleh pekerjaan. Burnout ditandai dengan hilangnya semangat kerja, membenci pekerjaan, performa kerja menurun, mudah marah, dan mudah sakit.
  1. Mudah stress. Karena selalu merasa tidak puas dengan semua yang sudah dicapai dan merasa bersalah apabila beristirahat, hal tersebut akan menimbulkan masalah mudah stress.
  1. Hubungan sosial terganggu. Orang yang mengalami toxic productivity akan hanya fokus pada pekerjaannya, mengurung diri di rumah atau kantor agar tetap produktif hingga lupa bahwa dirinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain.

Bagaimana cara menghindarinya?

  1. Buatlah goals yang realistis. Buatlah goals sefleksibel mungkin dengan keadaan, karena dengan begitu kita dapat terhindar dari rasa tidak puas akan hal-hal yang sudah kita lakukan.
  1. Beristirahat dari semua aktivitas. Faktanya, dengan beristirahat justru dapat meningkatkan produktivitas dan membuat tubuh serta pikiran kamu kembali segar.
  1. Menerapkan mindfulness. Mindfulness adalah menerima sepenuhnya tanpa penilaian, dengan begitu mindfulness membuat diri kita terhubung dengan jadian yang saat ini terjadi dan meningkatkan ketenangan serta fokus diri kita terhadap suatu hal.
  1. Tetapkan boundaries. Tetapkan batasan-batasan, seperti membataskan diri untuk belajar dengan waktu 1-2 jam dalam sehari.

Produktif itu baik karena pasti setiap manusia ingin menjadi versi terbaik bagi dirinya, namun apabila produktif mu berlebihan dan melewati batas kemampuan diri segeralah mengatasinya dengan baik yaaa. Ingat, kesehatan fisik dan mentalmu tetap yang utama.

REFERENSI

Aprilia, D. (2021, Juli 12). Mengenal Bahaya Toxic Productivity, Obsesi untuk Melakukan Banyak Hal. Beautynesia.id

Admin FE UNJ. (2021, Juli 30). Bahaya Toxic Productivity: Obsesi untuk selalu produktif. EconoChannel FE UNJ.

Fadli, R. (2022, Oktober 27). Awas, Toxic Productivity yang Rentan Terjadi pada Pekerja. Halodoc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *