Kesehatan mental menurut WHO (2013) adalah sebuah kondisi kesejahteraan (well-being) dimana individu dapat merealisasikan kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi bagi komunitasnya.

            Menurut Keyes (2002) kesehatan mental bukan hanya adanya sebuah penyakit mental akan tetapi, juga keadaan mental yang sejahtera. Veit dan Ware (1983) mengemukakan bahwa mental yang sejahtera mencangkup dua aspek, yaitu aspek yang pertama terbebasnya individu dari tekanan psikologi (psychological distress) yang dicirikan dengan tingginya tingkat kecemasan, depresi dan kehilangan kontrol serta yang kedua terkait kesejahteraan psikologi ( psychological well-being) berupa adanya perasaan positif secara umum, kondisi emosional dan kepuasaan hidup seseorang. Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam kehidupan seseorang. 

Dalam hal kesehatan mental indonesia sendiri mengalami kemajuan dibandingkan dengan beberapa dekade sebelumnya, meski perkembangannya terbilang lambat. Formula strateginya kesehatan jiwa tidak didukung dengan informasi pendukung yang memadai, sama halnya dengan yang dialami di banyak negara berkembang lainnya. Meskipun data kualitatif diperlukan merumuskan kebijakan yang efektif di tingkat pelayanan kesehatan primer dan sekunder pelayanan kesehatan jiwa akan dapat lebih optimal.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia, satu dari empat orang di seluruh dunia, pada tahun 2000-an, memiliki atau berisiko mengalami gangguan kesehatan mental atau neurologis. Akibatnya, saat ini diperkirakan ada 450 juta orang yang hidup dengan kesehatan mental yang tidak baik dan terancam mengalami disabilitas akibat gangguan mental mereka. Hasil riset Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI tahun 2018 menunjukkan peningkatan gangguan jiwa sejak 2013. Prevalensi nasional skizofrenia/psikosis adalah 7% per mil, dengan prevalensi tertinggi adalah 12,3%, sedangkan untuk depresi adalah 6,1%, dan gangguan mental emosional adalah 9,8%, di mana dari seluruh penderita depresi yang mendapatkan pengobatan hanya 9% saja, data ini menunjukkan tingginya masalah kesehatan mental dan rendahnya angka pencarian bantuan psikologis.

Usia dewasa awal dianggap memiliki resiko yang besar untuk terkena gangguan mental. Hal ini terjadi karena ini merupakan tahap peralihan dari masa remaja yang masih bergantung kepada orangtua menuju masa dewasa yang independen. Oleh karena itu, usia dewasa awal dianggap penuh dengan ketidakstabilan. Berdasarkan dari data reviu epidemiologis di Amerika 2008, lebih dari 40% prevalensi beberapa gangguan jiwa selama 12 bulan terjadi pada rentang usia 18-29 tahun. Angka ini dapat dikatakan lebih tinggi dari kelompok di rentang usia lain (Kartikasari & Ariana, 2019).

Kesehatan mental mahasiswa menjadi masalah yang berkembang di seluruh dunia. Setelah lulus dari sekolah menengah atas (SMA), siswa mungkin menghadapi berbagai masalah dalam lingkungan akademik baru mereka. Berbagai persoalan tersebut di antaranya kehidupan asrama, stres belajar, kurangnya manajemen waktu, kebiasaan makan yang tidak sehat, gangguan tidur, merokok, penggunaan internet yang bermasalah, dan perilaku menetap (sedentary behavior). Selama masa transisi ini, mahasiswa berjuang untuk mengatasi hambatan intelektual dan sosial sehingga penyesuaian dalam hal psikologis juga diperlukan. Selain itu, lingkungan universitas mungkin memiliki banyak kejutan yang terkadang tidak tertahankan sehingga dapat membawa masalah yang tidak terduga bagi beberapa mahasiswa baru sebagai akibat dari kurangnya pengetahuan dalam hal kesehatan mental untuk menghadapi situasi yang demikian. Akibatnya, setelah jangka waktu tertentu, siswa dapat mengalami stres berat, kecemasan, menyakiti diri sendiri termasuk ide atau percobaan bunuh diri, dan sebagainya. Rickwood (dalam Smith & Shochet, 2011) menyatakan bahwa kesehatan mental dewasa awal adalah masalah kesehatan masyarakat. Dengan demikian, sangat penting bahwa mereka yang menderita penyakit mental menerima dukungan dan perawatan yang tepat dan perilaku mencari bantuan (help-seeking) pada diri sendiri sangat penting untuk hasil ini.

Terdapat penelitian tentang Stres Akademik terhadap Academic Help Seeking pada Mahasiswa Psikologi UNLAM dengan IPK rendah, didapatkan hasil bahwa ada pengaruh negatif stres akademik terhadap academic help seeking pada mahasiswa Psikologi UNLAM dengan IPK rendah. Pengaruh stres akademik terhadap academic help seeking bernilai kontribusi 29,7%. Sehingga, dapat diartikan bahwa semakin tinggi stres akademik maka semakin rendah academic help seeking mahasiswa Psikologi UNLAM dengan IPK rendah. Reavley dkk. (2012), mengatakan bahwa promosi literasi kesehatan mental di jenjang perguruan tinggi kurang mendapat perhatian, kecuali bagi mahasiswa di bidang kesehatan seperti kedokteran, kebidanan dan psikologi. Eisenberg dkk. pada 2011 melakukan penelitian mengenai intensi mencari bantuan di kalangan mahasiswa, hasilnya menunjukkan intensi yang rendah yaitu sekitar 64% mahasiswa dengan masalah kesehatan mental belum mencari bantuan profesional dalam satu tahun terakhir.

Hasil riset dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI tahun 2018 menunjukkan tingginya masalah kesehatan mental dan rendahnya angka pencarian bantuan psikologis. Menurut DSM-IV/CIDI, masalah kesehatan mental sebesar 83,1% terjadi sebelum kuliah, dari semua mahasiswa yang mengalami masalah psikologis tersebut hanya 16,4% yang mendapatkan penanganan medis untuk masalah kesehatan mentalnya.  Penelitian pada mahasiswa di Italia menggunakan General Help-Seeking Questionnaire menunjukkan bahwa  hanya 5% yang memiliki keinginan untuk mencari bantuan formal untuk menangani masalah kesehatan mental.

Penelitian yang dilakukan oleh Smith dan Shochet (2011) menyebutkan bahwa terdapat korelasi positif antara literasi kesehatan mental dan perilaku mencari bantuan psikologis pada mahasiswa. Mahasiswa memiliki keterampilan literasi kesehatan mental yang terbatas untuk membantu mereka mengenali masalah kesehatan mental dan mencari bantuan profesional bila diperlukan (Gorczynski dkk., 2017). Beberapa faktor yang dapat mempermudah intensi individu dalam pencarian bantuan (help-seeking) psikologis telah dibahas dalam berbagai literatur. Literasi kesehatan mental telah diusulkan sebagai salah satu faktor tersebut (Rickwood dkk., 2005) dan merupakan fokus dari penelitian ini.

Pengetahuan dan keyakinan seseorang tentang gangguan dan pengobatan kesehatan mental yang dikenal sebagai literasi kesehatan mental (Jorm dkk., 2006), ditemukan mempengaruhi intensi untuk mencari bantuan pada gangguan mental (Coles & Coleman, 2010; Schomerus dkk., 2009).

Literasi kesehatan mental pertama kali dicetuskan oleh Jorm pada tahun 1997. Pengetahuan dan pemahaman akan penyakit kejiwaan diyakini dapat membantu dalam mendeteksi, manajemen, serta pencegahan dari penyakit penyakit kejiwaan tersebut (Jorm, 2000). Reavley dkk. (2012) menambahkan bahwa promosi literasi kesehatan mental di jenjang pendidikan tinggi selama ini kurang mendapat perhatian, kecuali bagi mahasiswa di bidang kesehatan seperti kedokteran, kebidanan, psikologi, dan lain sebagainya. Lebih lanjut, laporan dari Biddle dkk. (2007) menyatakan bahwa mahasiswa merupakan kelompok terendah yang mencari bantuan profesional (formal) atau sosial (informal) untuk masalah kesehatan mental mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Almanasef, M. (2021). Mental health literacy and help-seeking behaviours among undergraduate pharmacy students in Abha, Saudi Arabia. Risk Management and Healthcare Policy, 14, 1281.

Azedarach, M. R., & Ariana, A. D. (2022). Hubungan Literasi Kesehatan Mental dengan Intensi Mencari Bantuan pada Mahasiswa. Buletin Penelitian Psikologi dan Kesehatan Mental (BRPKM), 2(1), 640-651. 

Fitri, Rachella R. (2019). Literasi Kesehatan Mental pada Mahasiswa. Skripsi: Universitas Negeri Yogyakarta.

Gilham, C., Austen, E., Wei, Y., & Kutcher, S. (n.d.). Improving Mental Health Literacy in Post-Secondary Students: Field Testing the Feasibility and Potential Outcomes of a Peer-Led Approach. Canadian Journal of Community Mental Health, 37(1), 2018. doi:10.7870/cjcmh-2018-002

Gorczynski, P., Sims-Schouten, W., Hill, D., & Wilson, C. (2017). Examining mental health literacy, help seeking behaviours, and mental health outcomes in UK university students. The Journal of Mental Health Training, Education and Practice, 12(2). https://doi.org/10.1108/JMHTEP-05-2016-0027

Wei, Y., Kutcher, S., Austen, E., Comfort , A., Gilham, C., MacDougall, C., . . . Matheson, K. (2022). The Impact of Transitions, a Mental Health Literacy Intervention with Embedded Life Skills for Postsecondary Students: Preliminary Findings from a Naturalistic Cohort Study. The Canadian Journal of Psychiatry, 67(6), 452-461. doi:https://doi.org/10.1177/07067437211037131

Wu, C. Y., Liu, S. I., Chang, S. S., & Sun, F. J. (2014). Surveys of medical seeking preference, mental health literacy, and attitudes toward mental illness in Taiwan, 1990-2000. Journal of the Formosan Medical Association = Taiwan yi zhi, 113(1), 33–41. https://doi.org/10.1016/j.jfma.2013.03.004

Yulianti, P. D., Surjaningrum, E. R., Sugiharto, D. Y. P., & Hartini, N. (2021). Mental Healthy Literacy of Teachers: A Systematic Literature Review. Journal of Educational, Health and Community Psychology, 10(2).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *