Hilmy Hibatur Rizq

BPPK ILMPI Wilayah 2

Mengenal Psikologi Transpersonal

Kehidupan kita sehari-hari sejatinya tidak luput dari kehadiran jiwa kita guna melakukan aktivitas kita sehari-hari. Tidak hanya itu, sebagai makhluk yang berakal, kita juga mencari berbagai hal yang dapat mengembangkan potensi diri kita, baik secara sadar ataupun tidak sadar. Hal tersebut kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan jiwa kita, tetapi kebutuhan apakah yang dimaksud? Apa yang dibutuhkan oleh jiwa kita untuk mencari hal yang dapat mengembangkan potensi diri kita dan meninggikan derajat kita sebagi manusia yang lebih dari kita yang sekarang? Sebagai manusia, kenapa kita mencari aspek yang lebih tinggi dari kita sebagai makhluk? Kenapa nenek moyang kita percaya dengan makhluk tersebut? Dan apa yang sejatinya ingin kita ‘jadikan nyata’ sebagai manusia?

            Secara garis besar, Sutich (1968, hal. 71-78, dikutip dalam Lajoie & Shapiro, 1992) mengatakan bahwa psikologi transpersonal merupakan daya keempat (Fourth Force) dalam lingkup studi yang mencari kapasitas dan potensi luar biasa manusia (ultimate human capacities and potentialities), setelah teori positivistik atau behavioristik (daya pertama), teori psikoanalisis klasik (daya kedua), dan psikologi humanistik (daya ketiga). Menurutnya, psikologi transpersonal secara spesifik membahas tentang studi ilmiah dan implementasi yang bertanggungjawab atas:

  1. Untuk menjadi (becoming),
  2. Kebutuhan meta individu dan seluruh spesies (individual and species-wide meta-needs),
  3. Nilai-nilai terakhir (ultimate values),
  4. Kesadaran yang menghasilkan kesatuan (unitive consciousness),
  5. Pengalaman-pengalaman puncak (peak experiences),
  6. Nilai B (B values),
  7. Ekstasi (ecstasy),
  8. Kebahagiaan yang sempurna (bliss),
  9. Keajaiban (wonder),
  10. Makna terakhir (ultimate meaning),
  11. Kagum (awe),
  12. Menjadi ada atau berada (being),
  13. Aktualisasi diri (self-actualization),
  14. Esensi (essence),
  15. Pengalaman mistis (mystical experiences),
  16. Transendensi diri (self-transcendence),
  17. Ruh (spirit),
  18. Kesatuan (oneness),
  19. Kesadaran kosmik (cosmic awareness),
  20. Sinergi individual dan seluruh spesies (individual and species-wide energy),
  21.  Perjumpaan interpersonal yang maksimal (maximal interpersonal encounter),
  22. Sakralisasi terhadap kehidupan sehari-hari (sacralisation of everyday life),
  23. Fenomena transendental (transcendental phenomena), seperti; Kesenangan dan humor diri secara kosmik (cosmic self-humour and playfulness), kesadaran sensori, ekspresi, dan tingkat respons maksimal (maximal sensory awareness, responsiveness, and expression);
  24. Dan pengalaman, aktivitas, serta konsep lainnya yang berhubungan dengan yang disebutkan di atas.

Singkatnya, psikologi transpersonal merupakan salah satu bidang studi psikologi yang mebahas tentang perilaku dan pengalaman yang dipersepsikan di atas dan lebih dari sekedar permasalahan pribadi, seperti peran sosial, identitas, atau sejarah individual, tetapi membahas studi tentang persepsi atas kematian dan alam semesta yang merupakan hal dasar bagi makhluk berakal, perasaan yang mengekspresikan perasaan ketertarikan yang sama dan luar biasa (profound commonality) yang berhubungan dengan hal tersebut, serta pikiran-pikiran dan ide-ide yang membuat pertimbangan ego menjadi transenden atau di luar segala kesanggupan manusia. Inti dari bidang studi ini kurang lebih adalah untuk mengetahui apa itu pengalaman, apa itu kesadaran, apa itu energi, dsb. (Hensley, 1977, hal. 3, dikutip dalam Lajoie & Shapiro, 1992).

Sejarah Singkat Psikologi Transpersonal

Pada awal perkembangan ilmu psikologi barat, terdapat dua cabnag ilmu yang mendominasi dalam mengungkap fenomena kejiwaan manusia, yaitu ilmu perilaku (behaviourism) yang disebut sebagai Daya Pertama (First Force) dan psikoanalisis Freud sebagai Daya Kedua (Second Force) dalam ilmu psikologi. Dibalik dominasi kedua cabang ilmu tersebut, beberapa ilmuan psikologi merasa bahwa keduanya masih terlalu terbatas dalam mengungkapkan fenomena kejiwaan manusia. Dari beberapa ilmuan psikologi yang ada pada saat itu, Abraham Maslow mengkritik tentang limitasi atau keterbatasan untuk mengetahui dan mempelajari kejiwaan manusia yang terletak dalam kedua ilmu tersebut dan mencoba untuk membuat formulasi baru terhadap perspektif baru yang dapat melampaui batasan-batasan tersebut.

            Maslow berpendapat bahwa studi terhadap hewan-hewan tikus dan burung merpati hanya dapat menjelaskan beberapa aspek fungsional yang sama-sama dimiliki oleh manusia saja. Aspek fungsional yang hanya ditemukan dalam kehidupan manusia saja, seperti cinta, kebebasan individu, kesadaran diri, determinasi diri, moralitas, seni, filsafat, agama, dan ilmu pengetahuan, serta karakteristik negatif manusia seperti nafsu terhadap kekuatan, kekejaman, dan kecenderungan terhadap agresi yang merusak, tidak dapat dijelaskan lewat pendekatan behavioral terhadap subjek hewan tersebut. Maslow juga mengkritik bahwa behaviourisme tidak melibatkan kesadaran dan introspeksi, serta fokus lainnya yang harusnya dibahas secara eksklusif dalam ilmu psikologi.

            Pendapat Maslow terhadap ilmu perilaku mendorongnya untuk membuat Daya Ketiga (Third Force) dalam ilmu psikologi, yaitu psikologi humanistik. Psikologi humanistik berfokus pada dalam diri subjek manusia, serta mengedepankan kesadaran dan introspeksi sebagai pendukung utama dalam melakukan penelitian yang objektif terhadap kejiwaan manusia. Maslow menggagaskan pandangan barunya dengan merubah pandangan ilmu perilaku yang menekankan secara khusus determinasi perilaku yang didorong oleh lingkungan, stimulus-respons, dan penghargaan-hukuman menjadi penekanan khusus terhadap kemampuan manusia untuk mengarahkan dan memotivasi dirinya sendiri secara internal untuk mencapai aktualisasi diri dan memenuhi potensi kemanusiaan mereka (Maslow, 1969, dikutip dalam Grof, 2008).

            Kritik Maslow terhadap psikoanalisis adalah bagaimana kesimpulan-kesimpulan tentang kejiwaan manusia yang dirumuskan oleh Freud dan pengikutnya hanya diambil dari studi psikopatologi saja, serta kecenderungan reduksionisme biologis mereka untuk menjelaskan proses-proses psikologis dalam konteks insting dasar. Maslow berpendapat bahwa kejiwaan manusia juga dapat dipelajari dari populasi manusia yang sehat, bahkan individu yang menunjukkan adanya fungsi yang luar biasa dalam beberapa bidang pada perkembangan dan potensinya. Maslow menekankan bahwa ilmu psikologi harus peka terhadap kebutuhan praktis manusia dan menyediakan tujuan dan ketertarikan yang penting terhadap lingkungan masyarakat manusia (Maslow, 1969, dikutip dalam Grof, 2008).

            Pada tahun 1967, Abraham Maslow, Anthony Sutich, Stanislav Grof, James Fadiman, Miles Vich, dan Sony Marguiles bertemu di Menlo Park, California, untuk membuat sebuah bidang psikologi baru yang melibatkan pandangan mereka terhadap pengalaman manusia. Dalam diskusi mereka, Maslow dan Sutich menyepakati saran dari Grof untuk menamakan disiplin ilmu baru mereka sebagai “psikologi transpersonal” yang diambil dari saran nama awal mereka “transhumanistik” atau “mencapai di luar permasalahan manusiawi” dan beberapa lama setelahnya, mereka bersama membangun sebuah asosiasi yang bernama Association of Transpersonal Psychology (ATP) dan memulai penulisan Journal of Transpersonal Psychology. Pada tahun 1975, Robert Frager mendirikan Institute of Transpersonal Psychology di Palo Alto, California, dan pada tahun 1979, The International Transpersonal Association didirikan oleh Stanislav Grof sebagai presiden pendirinya, serta Michael Murphy dan Richard Price, pendiri Esalen Institute (Grof, 2008).

Psikologi Transpersonal di Era Mesin

Seiring berjalannya waktu, berkembangnya teknologi, bertumbuhnya populasi manusia, bergeraknya roda peradaban, serta bertambahnya kerusakan alam, konsep spiritual yang diadopsi dan dipahami oleh manusia terus berubah. Di era industrialisme dan postmodernisme sekarang, solusi-solusi mekanistis terhadap permasalahan yang ada. Paradigma teknologi yang berkuasa, serta pandangan-pandangan induvidualisme dan separatisme turut serta dalam membentuk budaya, gaya hidup konsumerisme dan alienasi, juga lingkungan modern, yang pada akhirnya menumbuhkan sebuah komunitas masyarakat kehilangan nilai penciptaan dan filosofi dan menekankan sebuah prioritas bahwa manusia mendominasi seluruh dunia (Birch, 1990; Macy, 1991; May, dkk., 1986; Grange, 1977; Fox, 1990, dikutip dalam do Rozario, 1997).

Kita dapat melihat banyak sekali tradisi dan ritual rohani ataupun spiritual yang mengikuti perkembangan zaman modern, di mana mesin dan realitas virtual dapat menggantikan peran manusia untuk memenuhi kebutuhan spiritual mereka. Tentunya, paradigma postmodernisme yang lahir saat era mesin ini juga menjadi katalis terhadap isolasi dan individualisme (Bottorff, 2015). Mekanisme informatika yang muncul di mana-mana berkontribusi terhadap lingkungan masyarakat yang egois dan sinis, serta banyaknya ketidakseimbangan pengalaman-pengalaman psikososial, seperti ruang dan waktu, mana hal yang nyata dan mana merupakan yang simulasi, mana yang serius dan mana yang menghibur (Gottschalk, 2000; Lyotard, 1984; Mura, 2012, dikutip dalm Bottorf, 2015). Arus informasi yang kencang juga merubah cara kita menerima, mengorganisir, memproses, dan membagikan pengetahuan dan kebijaksanaan, bahkan sampai di titik di mana mesin yang awalnya hanya sebagai perantara berubah kedudukannya menjadi pesan dan informasi itu sendiri (Kirby, 2006, 2009; McLuhan, 2011, dikutip dalam Bottorff, 2015). Perkembangan internet juga berperan sebagai ruang kognitif yang besar, seperti sebuah otak raksasa yang begitu besarnya hingga dapat menjangkau individu yang terisolasi sekalipun untuk mendapatkan kepuasan berinteraksi sosial dan intelektual sehingga dapat mengembangkan kesadaran tingkat tinggi manusia (Gackenbach & Kapen, 2007, dikutip dalam Bottorff, 2015).

Era mesin juga tidak berhenti sampai di pengembangan internet saja. Manusia berusaha untuk membuat sebuah realitas baru yang tidak bersifat alami, tetapi dapat menggantikan posisi realitas yang kita sebut sebagai kenyataan. Sebuah alam hyperreal ataurealitas semu yang kita kenal dengan sebutan simulacrum (Baudrillard, 1988, dikutip dalam Bottorff, 2015). Manusia yang berpartisipasi dalam dunia simulakrum sendiri tentu akan mengadopsi dan mengembangkan sebuah konsep spiritualitas yang baru dan melibatkan mesin sebagai salah satu aspek tak tergantikan dalam ‘proses transendensi’ mereka yang menjadi bagiannya.

Walaupun spiritualitas manusia untuk mencapai potensi tertinggi diri mereka di era mesin ini cenderung dikeruhkan oleh aspek ciptaan mereka sendiri, peran spiritualitas dalam kehidupan manusia tetap dibutuhkan, baik dengan pemenuhan lewat adaptasi perkembangan teknologi yang ada, ataupun dengan sintesis antara metode spiritualitas yang lama dengan kehidupan dan gaya hidup modern. Bahkan dengan terjadinya revolusi industri besar-besaran dewasa ini, manusia tetap dapat bertahan hidup, meningkatkan kesejahteraan psikis dan memulihkan segala hambatan dan penyakit yang mereka alami akibat memadatnya waktu yang dikerahkan untuk mengejar produktivitas materialistik dengan mentransformasikan hati, diri, dan jiwa mereka sebaik mungkin layaknya seorang Sufi, hingga mencapai tingkat potensi tertinggi dari masing-masing aspek tersebut, sehingga mereka tidak lupa sisi kemanusiaan mereka dan memposiskan kembali diri mereka menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna (Ivandianto, 2020).

Dalam berproses untuk mencapai potensi yang lebih tinggi lagi, tentu seseorang tidak harus menjadi seseorang yang menekuni aliran Sufisme. Akan tetapi, dari aliran tersebut, dan tentunya dari aliran spiritualisme lainnya, kita dapat belajar untuk memahami bahwa dalam mencapai potensi diri manusia yang lebih tinggi, manusia perlu memiliki sebuah pemikiran yang tidak hanya melibatkan kecerdasan intelektual dan beradaptasi dengan kemajuan peradaban saja. Model-model psikologi terdahulu yang menjauhkan kita dari bibit-bibit kerusakan dan kejahatan dalam dunia ini dapat membantu kita untuk membuka wawasan kita terhadap konteks pengetahuan, hingga cara yang baru dalam memahami kita sebagai manusia, serta pemahaman kita akan konsep transpersonal itu sendiri.

Dalam era yang serba mesin ini, psikologi transpersonal menawarkan sebuah pandangan psikologi inklusif yang menjalar dalam bentuk keberagaman manusia. Psikologi transpersonal menantang pandangan egoistik bahwa kebenaran yang terbentuk oleh masyarakat yang mengikuti perkembangan peradaban manusia merupakan kebenaran yang efektif. Alih-alih, psikologi transpersonal menawarkan sebuah pandangan holistik dan transformatik yang makna sejatinya dapat diterima oleh seluruh umat manusia. Pandangan inklusif ini menerima segala bentuk kekuatan manusiawi dan segala disiplin yang berorientasi untuk meningkatkan potensi diri manusia dalam mengembangkan ilmu psikologi, serta merekonstruksi pandangan-pandangan yang ada tentang bagaimana cara untuk menjadi manusia (Hartelius, dkk., 2007).

REFERENSI

Bottorff, D. L. (2015). Emerging influence of transmodernism and transpersonal psychology reflected in rising popularity of transformational festivals. Journal of Spirituality in Mental Health, 17(1), 50–74. https://doi.org/10.1080/19349637.2014.957607

do Rozario, L. (1997). Shifting paradigms: The transpersonal dimensions of ecology and occupation. Journal of Occupational Science, 4(3), 112–118. https://doi.org/10.1080/14427591.1997.9686427

Grof, S. (2008). Brief history of transpersonal psychology. International Journal of Transpersonal Studies, 27(1), 46–54. https://doi.org/10.24972/ijts.2008.27.1.46

Hartelius, G., Caplan, M., & Rardin, M. A. (2007). Transpersonal psychology: Defining the past, divining the future. The Humanistic Psychologist, 35(2), 135–160. https://doi.org/10.1080/08873260701274017

Ivandianto. (2020). Facing the industrial revolution 4.0 with Sufistic Transpersonal psychology. Proceedings of the 5th ASEAN Conference on Psychology, Counselling, and Humanities (ACPCH 2019). https://doi.org/10.2991/assehr.k.200120.002

Lajoie, D. H., & Shapiro, S. I. (1992). Definitions of Transpersonal Psychology: The First Twenty—Three Years. The Journal of Transpersonal Psychology, 24(1), 79–98.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *