Lihat TikTok, Buka Instagram, Baca Trending Twitter, repeat

“Buka TikTok dulu deh bentar, pusing”

“Buka Instagram deh, ada DM yang belum kebales gak ya?”

Sampai akhirnya lupa waktu, tiba-tiba sudah 3 jam berlalu

Kalian pasti sudah gak asing dengan yang sedang kalian lakukan saat ini. Yap! Scrolling media sosial! Sebelum nge-scroll lebih jauh, kira-kira gimana ya dampaknya dari hal ini dan cara mengatasinya?

Mindless Scrolling

Jika diartikan secara bahasa yaitu, “bergulir tanpa berpikir” perilaku ini bisa dikatakan sebagai suatu aktivitas berselancar di media sosial secara terus-menerus tanpa tujuan yang jelas, seakan “mencari ujung” dari social media.

Media Sosial merupakan bukti kemajuan teknologi yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Namun, Scrolling Social Media menjadi tidak ada artinya jika kita mulai melakukannya tanpa tujuan yang jelas atau ketika kita keterusan berjam-jam tanpa kita sadari (Thomson, 2021).

Mengapa hal ini terjadi?

Social media didesain supaya penggunanya merasa nyaman ketika kita menggunakannya. Kira-kira apa yang menyebabkan hal ini terjadi?

  • Algoritma sosial media

Berbagai aplikasi media sosial menganalisis ketertarikan kita terhadap suatu konten dengan mengevaluasi kegiatan kita sebelumnya. Algoritme media sosial bekerja dengan menampilkan konten yang terkait dengan minat kita. Sehingga hal tersebut yang membuat kita terus-menerus “ketagihan” melihat informasi yang kita minati secara tidak terbatas.

  • Lalu apa yang terjadi dalam otak kita?

Menurut Shipman (2017), media sosial memanfaatkan sistem penghargaan otak dengan mengaktifkan neurotransmitter, yaitu dopamine. Dopamin merupakan zat kimia di otak yang dilepaskan ketika sesuatu yang positif terjadi pada kita. Ini merupakan cara otak kita mengingat bahwa suatu tindakan menciptakan imbalan yang menyenangkan dan memotivasi kita untuk mengulanginya lagi. Menurut Susan Weinschenk (Siddiqui, 2021), dopamin sangat penting dalam berbagai fungsi otak, salah satunya “menyebabkan perilaku pencarian”, sehingga hal ini membuat kita penasaran dan mencari lebih banyak informasi.

Lalu apa saja dampaknya?

Media sosial mungkin menjadi cara yang menarik untuk melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari atau hal-hal di keseharian yang memusingkan kita. Namun, jika kita terlalu terjerumus dalam social media tanpa henti, kita bahkan tidak menyadari apa yang kita cari, dan kemudian hal tersebut berlangsung selama berjam-jam, maka beberapa hal di bawah ini dikhawatirkan akan terjadi.

  • terganggunya produktivitas
  • kehilangan fokus
  • kecemasan
  • depresi
  • kesepian
  • kecanduan gadget

Cara mengatasi

Sebelum melakukan cara-cara untuk mengatasi kebiasaan tersebut, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyadari. Kita harus menyadari bahwa kebiasaan ini akan berdampak buruk bagi keseharian kita dan cenderung mengganggu kegiatan produktivitas kita.

Setelah kita menyadarinya, kita dapat mengatasinya dengan menerapkan aturan atau mengalihkan kebiasaan tersebut dengan hal-hal lain seperti:

  • menerapkan timer/alarm batas waktu aplikasi
  • mulai menggunakan gadget hanya suatu kebutuhan
  • fokus kepada hal yang harus dikerjakaan saat itu (makan, nugas, dll)
  • mulai menyibukkan diri dengan kegiatan yang tidak menggunakan ponsel (menanam pohon, membaca buku di perpustalaan)
  • mengikuti kelas online

REFERENSI

Bowman, D., & Hagan, E. (2020, Sebtember). How to survive social media. Psychology Today.

Sharif, M. A., & Woolley, K. (2022, January 31). The Psychology of Your Scrolling Addiction. Harvard Bussiness Review.

Shipman, A. (Mar 17). Social media and dopamine: Why you can’t stop scrolling. Mentoring In NeuroScience Discovery at Sinai.

Siddiqui, S. (2021, Oktober). Why do we scroll endlessly on social media & how to stop it?

Thomson, L. (2021, November 6). How to stop mindless scrolling. Metro.Co.Uk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *