Rizka Amanda
Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan
Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Wilayah 2

Pendahuluan

Dalam lingkungan perguruan tinggi, setiap elemen akademik di dalamnya, baik tenaga pendidik maupun mahasiswa seharusnya memiliki jaminan akan rasa aman dan jaminan untuk tidak mendapatkan perilaku tidak senonoh, seperti pelecehan seksual. Namun pada kenyataannya masih banyak sekali kasus-kasus pelecehan seksual yang menimpa korbannya di lingkungan perguruan tinggi. Hal ini dapat menjadi cermin yang menunjukkan bahwa pelecehan seksual merupakan isu serius yang harus diberi perhatian lebih untuk menghindari peningkatan jumlah korban. Dari perspektif psikologis, pelecehan seksual merupakan sebuah topik penting karena sering menyebabkan rasa sakit dan penderitaan bagi mental para korbannya. Korban (target) menganggap pelecehan seksual sebagai tindakan yang ofensif, memalukan, mengintimidasi, membuat stres, dan menakutkan.

Pengertian Pelecehan Seksual Secara Umum

Menurut Burn (2019), pelecehan seksual merupakan perilaku yang terjadi ketika orang menjadi sasaran komentar, isyarat, atau tindakan seksual yang tidak diinginkan karena jenis kelamin, ekspresi jenis kelamin, atau orientasi seksual mereka yang sebenarnya atau yang dirasakan. Pelecehan seksual juga dapat dengan sengaja atau tidak sengaja mengganggu kinerja dan aspirasi seseorang dengan menciptakan lingkungan yang mengintimidasi dan ofensif yang mengikis kepercayaan korban.. Berdasarkan sudut pandang salah satu partisipan program Ngopi, Dety Chairunisyah dari Universitas Gunadarma, berpendapat bahwa pelecehan seksual merupakan bentuk kejahatan seksual yang dapat merugikan orang lain yang menjadi korban, di mana korban ini bisa merupakan perempuan ataupun laki-laki.

Sesuai dengan pendapat yang diberikan oleh Dety Chairunisyah dari Universitas Gunadarma, pelecehan seksual memang dapat terjadi tidak hanya pada perempuan, namun juga pada laki-laki. Hal ini sejalan dengan pernyataan Davies (2000) bahwa dalam beberapa tahun terakhir banyak yang telah dilakukan untuk mempublikasikan penderitaan perempuan korban pelecehan seksual, namun, kekerasan seksual terhadap laki-laki hanya mendapat sedikit perhatian dalam literatur penelitian atau oleh publik. Ketidaktahuan dan ketidakpercayaan tentang pelecehan seksual laki-laki telah mengabadikan mitos tentang ketidakmungkinan laki-laki menjadi korban pelecehan seksual dalam psikologi, kedokteran, dan hukum.

Selain itu, Aisyah Shafira Putri dari Universitas YARSI menyatakan bahwa pelecehan seksual merupakan hal yang merugikan korbannya, terutama dari sisi psikologisnya, di mana korban akan kesulitan untuk melupakan bahwa ia pernah mengalami pelecehan seksual dan hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor besar yang menimbukan trauma pada diri korban.

Kategori Pelecehan Seksual

Dalam ranah hukum, pelecehan seksual merupakan tindakan yang dianggap sebagai bentuk kekerasan seksual. Pelecehan seksual bukan hanya tindakan yang tidak pantas, tetapi juga melanggar hukum, dan dalam kasus yang sesuai, pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban baik di pengadilan perdata maupun pidana. Secara garis besar, ada tiga bentuk pelecehan seksual, yaitu: (i) pelecehan seksual verbal, (ii) pelecehan seksual non-verbal, dan (iii) kontak seksual fisik.

  1. Pelecehan seksual verbal melibatkan mengatakan sesuatu yang bersifat seksual kepada seseorang yang merupakan penerima yang tidak diinginkan. Jika orang lain mengatakan sesuatu kepada Anda yang secara eksplisit bersifat seksual atau menjurus ke arah seksual, dan jika apa yang mereka katakan membuat Anda tidak nyaman, Anda mungkin menjadi korban pelecehan seksual.
  2. Pelecehan seksual non-verbal merupakan segala bentuk komunikasi atau perilaku seksual yang tidak diinginkan yang melibatkan sesuatu selain ucapan verbal tetapi kurang dari kontak fisik seksual, termasuk mengirim email dan pesan teks yang eksplisit secara seksual atau bersifat seksual, serta tindakan seperti mengekspos diri sendiri, memblokir lorong atau pintu, meniupkan ciuman atau mengedipkan mata, menampilkan video seksual eksplisit, menatap, mengikuti, atau menguntit
  3. Kontak Fisik Seksual adalah kontak fisik yang tidak diinginkan dan dianggap sebagai pelecehan seksual atau penyerangan seksual, tergantung pada tingkat keparahan pertemuan tersebut. Contoh kontak fisik yang dapat dianggap sebagai pelecehan seksual, atau yang dapat mengaburkan batas antara pelecehan seksual dan kekerasan seksual, termasuk segala bentuk sentuhan, tepukan, genggaman, gosokan, atau cubitan, pelukan, atau ciuman yang tidak diinginkan.

Jenis Pelecehan Seksual Menurut WHO

Menurut WHO (2017) kekerasan seksual dapat berupa:

  1. Serangan seksual berupa pemerkosaan (termasuk pemerkosaan oleh warga negara asing, dan pemerkosaan dalam konflik bersenjata) sodomi, kopulasi oral paksa, serangan seksual dengan benda, dan sentuhan atau ciuman paksa
  2. Pelecehan seksual secara mental atau fisik menyebut seseorang dengan sebutan berkonteks seksual, membuat lelucon dengan konteks seksual
  3. Menyebarkan video atau foto yang mengandung konten seksual tanpa izin, memaksa seseorang terlibat dalam pornografi
  4. Tindakan penuntutan/pemaksaan kegiatan seksual pada seseorang atau penebusan/persyaratan mendapatkan sesuatu dengan kegiatan seksual
  5. Pernikahan secara paksa
  6. Melarang seseorang untuk menggunakan alat kontrasepsi ataupun alat untuk mencegah penyakit menular seksual
  7. Aborsi paksa
  8. Kekerasan pada organ seksual termasuk pemeriksaan wajib terhadap keperawanan
  9. Pelacuran dan eksploitasi komersial seksual.

Undang-Undang Acuan terkait Pelecehan Seksual di Indonesia

Ada beberapa undang-undang yang dapat dijadikan acuan ketika membahas mengenai perilaku pelecehan seksual di lingkungan perguruan tinggi, salah satunya adalah Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 yang telah mendefinisikan dengan sangat jelas tentang kekerasan seksual sebagai fokus daripada pembahasannya. Dalam permendikbud perlindungan dan hak korban dijadikan prioritas

utama Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan menegaskan terkait permendikbud ini yang menjadi wadah utama dalam perlindungan korban serta mencegah terjadinya keberlanjutan kasus kekerasan seksual yang marak terjadi di wilayah universitas.

Untuk mencegah dan mengatasi kekerasan seksual, Mendikbud mengadvokasi perlindungan korban. keadilan dan kesetaraan gender, kesetaraan dan aksesibilitas disabilitas, akuntabilitas, independensi dan diskresi, konsistensi dan jaminan non-kekerasan. Menjadi sebuah kewajiban bagi Perguruan Tinggi untuk melaksanakan nya.

Pada Pasal 10 sampai dengan 19 Adapun yang dimaksud adalah:

  1. Pendampingan. Pendampingan terhadap korban dapat berupa bimbingan konseling, menyediakan layanan keschatan menjamin adanya bantuan hukum, advokasi, serta pemberian bimbingan sosial atau rohani oleh Perguruan tinggi.
  2. Perlindungan. Perlindungan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan bagi korban. Dimana sebuah jaminan keberlanjutan pendidikan bagi mahasiswa dan pekerjaan bagi pendidik, perlindungan kerahasiaan identitas, penyampaian infromasi tentang hak dan fasilitas perlindungan beserta akses penyelenggaraannya, menyediakan rumah aman, perlindungan korban dari tuntunan pidana, kebebasan korban. Baik korban maupun saksi dari ancaman yang berhubungan dengan kesaksian yang diberikan dalam suatu kasus pelecehan seksual ini
  3. Pengenaan sanksi administratif. Pelanggar yang terbukti melakukan kekerasan seksual harus diberi sanks1 berdasarkan hukum administrasi. Sanksi harus disetujui sebelumnya oleh administrasi Universitas berdasarkan instruksi unit. Tugasnya proporsional dan adil serta tidak terlepas dari peraturan lain. Sanksi dibagi menjadi tiga tingkatan: ringan, sedang dan berat. Setelah sanksi administratif diberlakukan, pelaku dapat menjalani penyuluhan di institusi untuk kemudian menyampaikan surat resmi kepada institusi universitas yang menyatakan bahwa pelaku telah melakukan semua sanksi sesuai dengan peraturan yang ada.
  4. Pemulihan Korban. Dalam penanganan pemulihan korban, keterlibatan tenaga medis, psikolog, tokoh agama dan organisasi menjadi kebutuhan mutlak dan mengawal proses pemulihan dari trauma korban. Waktu pemulihan korban juga tidak boleh mengurangi hak mereka untuk magang dan bekerja. Rehabilitasi korban dapat dilakukan atas persetujuan korban, kecuali korban mengalami stres pasca trauma sekunder

Kasus Pelecehan Seksual di Perguruan Tinggi

Bicara mengenai pelecehan seksual, bukan hal yang jarang hal ini juga terjadi di lingkungan perguruan tinggi (universitas). Ada beberapa contoh kasus yang terjadi, sepert:

  1. Pelecehan Mahasiswa Universitas X. Salah satu mahasiswa Universitas X terseret kasus pelecehan seksual kepada sesama rekan mahasiswanya. Pada tanggal 8 Oktober 2022, Fisipol Crisis Center (FCC) menerima laporan mengenai kasus ini setelah dua minggu sebelumnya Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) Universitas X telah menerima laporan yang sama. Pelecehan ini dinyatakan terjadi belum lama dari waktu pelaporan, dan korbannya lebih dari satu orang. Belum dapat dipastikan berapa banyak korban yang ada, namun tertanggal 10 Oktober 2022, laporan masih terus dibuka. Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (Komahi) merilis pernyataan berupa 4 poin: (1) Komahi membenarkan telah menerima laporan kekerasan seksual secara kolektif dan berturut-turut pada 26 September hingga 5 Oktober 2022 (2) Komahi menindaklanjuti laporan dengan mengambil langkah berupa pembekuan status keanggotaan terduga pelaku pada 1 Oktober 2022 (3) Laporan terkait segala aduan kasus ini telah ditindaklaniuti lebih laniut lewat audiensi kepada DIHI Universitas X pada 5 Oktober (4) Komahi tengah melakukan advokasi dan koordinasi secara intens dengan DIHI untuk penindakan lebih lanjut terhadap pelaku dan konseling bagi para korban. Pelecehan yang diterima oleh korban dalam kasus ini berupa ajakan-ajakan melakukan kegiatan seksual yang tidak diinginkan, baik secara langsung, maupun melalui pesan onune.
  2. Pelecehan oleh Dekan Universitas Y. Pada 27 Oktober 2021, beredar sebuah kabar mengenai pelecehan yang dilakukan oleh SH, seorang dosen sekaligus Dekan salah satu fakultas di Universitas Y. Korban menyebutkan bahwa tindak pelecehan ini terjadi di lingkungan kampus pada saat korban melakukan bimbingan proposal skripsi dengan pelaku. Pelecehan tersebut dikatakan korban berupa ucapan-ucapan yang tidak sepantasnya dikatakan oleh seorang dosen kepada mahasiswanya, seperti “i love you”, selain itu, korban juga menyatakan bahwa selesai bimbingan tersebut dilakukan, pelaku langsung menggenggam kedua bahu korban, mendekatkan badannya kepada korban lalu pelaku juga menggenggam kepala korban dengan kedua tangannya. Setelah itu dia mencium pipi sebelah kiri dan kening korban. Korban sempat melakukan perlawanan berupa mendorong pelaku dan pergi dari tempat kejadian.

Kondisi korban pasca terjadinya pelecehan cukup memprihatinkan, ia mengalami ketakutan dan juga tubuhnya gemetar karena rasa trauma akibat kejadian tersebut. Korban pernah mengadukan perilaku tidak pantas itu kepada dosen lainnya, namun ia malah mendapatkan ancaman dibungkam untuk tidak mengatakan hal tersebut kepada siapapun dan pelecehan seksual yang dilakukan SH hanya sebuah kecelakaan saja. Karena alasan-alasan tersebut, korban merasa bahwa tidak ada perlindungan, tidak ada kepedulian dari pihak jurusan dan ada beberapa pihak yang mencoba melindungi SH. Di luar itu, pelaku juga menghubungi keluarga korban dan memberikan alasan bahwa dia menciumnya hanya sebagai anak.

Tindakan dan Sikap Mahasiswa

Kekerasan seksual masih menjadi pergumulan bangsa Indonesia hingga kini. Kekerasan seksual dapat terjadi di mana saja termasuk dalam lingkup pendidikan. Di antara berbagai jenjang pendidikan, perguruan tinggi menempati urutan pertama dalam hal terjadinya kasus kekerasan seksual terbanyak antara tahun 2015-2021 (Komnas Perempuan, 2021). Lalu tindakan dan sikap seperti apa dari mahasiswa terhadap pelecehan seksual ini?

  1. Sebagai mahasiswa psikologi diharapkan tidak reaktif dan non-judgmental terhadap isu pelecehan, akan tetapi bukan sama seperti sikap bodo amat tapi non-judgment disini adalah melepaskan judgment yang sifatnya spontan dalam pikiran, misalnya seperti prasangka, persepsi ataupun opini, tidak cepat menghakimi korban dan tidak cepat menghakimi pelaku.
  2. Analisis data lebih lanjut terkait kasusnya..
  3. Meningkatkan kesadaran isu pelecehan seksual misalnya dengan meningkatkan sosialisasi terkait anti pelecehan seksual di kampus. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mahasiswa melalui edukasi tentang kekerasan seksual sebagai upaya pencegahan, penanganan yang berpihak pada korban, dan menumbuhkan moral demi terwujudnya lingkungan kampus yang aman dari kekerasan seksual.
  4. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai seseorang yang sedang menuntut ilmu akademik di suatu perguruan tinggi, namun mahasiswa juga harus berperan dalam membantu mewujudkan penegakan hukum yang adil bagi para korban pelecehan di kampus tersebut. Misalnya dengan menyediakan tempat untuk para korban melaporkan kekerasan yang telah mereka alami, tanpa membuat para korban merasa terintimidasi.
  5. Melakukan pendampingan terhadap korban untuk meningkatkan self-esteem.

REFERENCES

Berdahl, Jennifer., & Raver, Jana. 2011. Sexual Harassment. APA Handbook of Industrial and Organizational Psychology. 3(18): 641-669. American Psychological Association.

Burn, Shawn. (2019). The Psychology of Sexual Harassment. Teaching of Psychology. 46(1): 96-103. doi: https://doi.org/10.1177/0098628318816183

Davies, Michelle. (2000). Male sexual assault victims: a selective review of the literature and implications for support services. Aggression and Violent Behavior. 7: 203-214.

Jenis Pelecehan Seksual Yang Kurang Diketahui Beberapa Orang. (2021). Diakses pada 15 November 2022, dari https://ners.unair.ac.id/site/lihat/read/1950/jenis-pelecehan-seksual-yang-kurang-diketa hur-beberapa-orang.

Komnas Perempuan. 2022. Lembar Fakta dan Poin Kunci https://komnasperempuan.go.id Seksual di Perguruan Tinggi. Jurnal Lex Renaissance. 7(1): 69-83. LM Psikologi UGM. 2022. Kekerasaan Seksual di Kampus.

Komnas Perempuan. (2022, 8 Maret). Siaran pers Bayang-Bayang Stagnansi: Daya Pencegahan dan Penanganan Berbanding Peningkatan Jumlah, Ragam dan Kompleksitas Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan. Komnas Perempuan. https://komnasperempuan.go.id

National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (2018). Sexual Harassment of Women: Climate, Culture, and Consequences in Academic Sciences, Engineering, and Medicine. Washington, DC: The National Academies Press. doi:https://doi.org/10.17226/24994.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *