Sumber : (detik.com)

 

Syifa Raihan MT
Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan
Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia Wilayah II

 

PENDAHULUAN

Di era globalisasi yang semakin melesat ini, banyak dijumpai berbagai kasus bullying di tengah masyarakat. Tidak hanya dilakukan secara langsung, bahkan bully sudah mulai dilakukan melalui sosial media. Mirisnya lagi, kasus bully bukan hanya dilakukan oleh remaja dan orang dewasa, melainkan anak usia sekolah dasar juga ikut andil melakukannya.

 

PENGERTIAN BULLYING

Bullying adalah penyalahgunaan kekuatan serta perilaku agresif yang bertujuan untuk menyakiti orang lain yang dilakukan oleh rekan atau peers secara berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan baik secara nyata atau menurut anggapan antara pelaku dan korban. (Olweus D. dalam Wolke & Lereya, 2015). Sedangkan menurut  American Psychological Association (APA) mendefinisikan bullying sebagai sebuah bentuk perilaku agresif yang dilakukan secara berulang dan disengaja untuk menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun cidera bagi korban (Bullying, t.t.).

Bully dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah perundungan. Bully ini dapat dilakukan secara verbal maupun fisik. Misalnya dengan mengejek teman, memukul, meminta uang jajan, menghancurkan barang, mengganggu, hingga menyuruh korban melakukan hal yang bukan menjadi tugasnya. Setiap perilaku di atas tentu membuat korban merasa tidak nyaman bahkan tertekan. Beberapa kasus bullying terjadi  ditutupi dengan embel-embel ‘bercanda’ atau ‘hanya main-main saja’.

 

DAMPAK BULLYING

Efek yang ditimbulkan oleh bullying juga tidak bisa disepelekan begitu saja. Korban bukan hanya mengalami rasa tidak nyaman dan tertekan, tetapi bisa menimbulkan cidera serius bagi psikis dan fisik korban. Pada 1 Maret 2023, seorang siswa SD di kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi dengan inisial MR (11) ditemukan tewas gantung diiri. MR ditemukan tewas gantung diri di rumahnya. Diduga pelaku nekat gantung diri karena sering dibully teman-temannya. (kumparanNEWS).

Pada kasus bullying ini, ada tiga pihak yang terseret di dalamnya, yaitu pelaku, korban, dan bystanders atau saksi mata (Anjuni 2021). Bystanders ini adalah orang yang melihat tindak perilaku bullying baik secara langsung maupun tidak langsung (online). Adanya bystanders ini dapat menimbulkan dampak positif juga negatif. Dampak positif yaitu apabila bystanders ini melihat lalu mencoba menghentikan pelaku bullying, dan dampak negatif apabila bystanders ini melihat lalu acuh dengan fenomena bullying itu, sehingga menjadikan pelaku semakin berani dan intens melancarkan aksinya.

 

PENYEBAB TERJADINYA PERILAKU BULLYING

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Anjuni Khofifah Hanifi, S. Psi (2021), penyebab terjadinya perilaku bullying tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Tetapi harus dilihat dari ketiga sisi, yaitu pelaku, korban dan bystanders.

1. Pelaku
Pelaku bullying tentu memiliki motif tertentu dalam melakukan aksinya, bisa jadi setiap pelaku memiliki motif yang berbeda-beda. Misalnya karena iri terhadap korban, takut tersaingi, merasa korban adalah sebuah ancaman baginya, atau bahkan hanya merasa senang ketika melakukan bullying tersebut.

2. Korban
Biasanya, pelaku juga akan memilih korban yang akan menjadi target bully-nya. Misalnya korban tersebut lebih suka menyendiri, kurang bisa bergaul, cepat terpancing emosi, hingga orang-orang yang suka insecure. Tak jarang korban yang di bully lebih unggul daripada pelaku, entah itu dari segi kognitif maupun materi.

3. Bystanders
Bystanders ini menjadi penentu lama tidaknya kegiatan bullying terjadi. Hal ini disebabkan oleh respon yang diberikan bystanders terhadap perilaku bullying. Apabila ia menunjukkan sikap tidak senang terhadap perilaku bullying, maka si pelaku akan merasa mendapat penolakan dari lingkungannya, sehingga meningkatkan kesadaran padanya untuk menghentikan tindakan bullynya tersebut, dan si korban akan merasa mendapat dukungan dari lingkungannya, sehingga dapat menimbulkan keberanian padanya untuk menolak perilaku bullying tersebut. Begitu pula sebaliknya jika bystanders acuh dan tidak peduli terhadap perilaku bullying.
CARA MENGURANGI RISIKO PEM-BULLYAN

Di dalam Islam sendiri, Al-Qur’an telah menjelaskan berbagai ayat yang berkenaan tentang hubungan antar individu. Apabila kita mengamalkan ayat-ayat ini, resiko pem-bully-an akan berkurang.

1. Al-Hujurat ayat 6

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.

Ayat di atas mengajarkan kita untuk selalu mencari tahu terlebih dahulu kebenaran terhadap suatu berita yang tersebar, jangan langsung menelan informasi tersebut mentah-mentah. Hal ini dilakukan supaya kita terhindar dari pertikaian, sekalipun hanya kesalahpahaman belaka. Sebagai contoh, Riko mengatakan bahwa Adit telah mencuri uang kas kelas mereka. Lalu teman-teman Riko langsung mempercayainya begitu saja dikarenakan cara penyampaian Riko yang meyakinkan. Nah, hal ini tidak boleh dilakukan. Hal yang seharusnya dilakukan oleh teman-teman Riko adalah mencari tahu terlebih dahulu informasi yang disampaikan Riko benar atau salah. Bisa melalui lewat CCTV kelas jika ada, atau menanyakan teman-teman lain yang sekiranya berada di lokasi.

2. Al-Hujurat ayat 9 dan 10

“ (9) Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil; (10) Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.

Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu berlaku adil terhadap seluruh makhluk Allah di muka bumi, tanpa peduli latar belakangnya. Jika kita melihat teman kita sedang bertengkar, hendaklah kita berusaha melerai mereka. Tidak boleh memihak pada satu pihak. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh bystanders apabila mereka melihat pembullyan dihadapan mereka. Bukan hanya menonton kejadian tersebut, tetapi harus membantu korban dan menjauhkannya dari pelaku. Jika bystanders memiliki ‘kuasa’ lebih, hendaklah dia memberikan arahan atau nasihat yang baik kepada para pelaku. Jika yang dilakukan pelaku sudah melewati batas, maka hendaklah bystanders membawa mereka kepada pihak yang lebih berwenang. Dengan demikian, kejadian itu dapat menjadi pelajaran bagi khalayak juga bagi pelaku agar tidak melakukan pembullyan lagi.

Tolong-menolong dalam kebaikan serta saling menasehati juga merupakan ajaran Allah yang tertera di dalam Al-Qur’an pada potongan surah Al-Maidah ayat 2 berikut: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Pada surah Al-‘Asr ayat 2 dan 3 pun disebutkan: “(2) Sungguh, manusia berada dalam kerugian; (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”.

3. Al-Hujurat ayat 11

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Ayat ini mengajarkan kita untuk  menghargai sesuatu sekecil apapun itu. Contohnya, kita tidak boleh memanggil teman-teman kita dengan gelar yang buruk, apalagi jika teman kita tidak suka dengan panggilan tersebut. Kita juga tidak boleh saling mencela atau mengolok-olok teman kita, apalagi sampai terlihat seperti merendahkannya. Belum tentu kita lebih baik dari orang yang kita cela. Segala sesuatu pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Jangan sampai kita melakukan hal tercela di atas denganmengatasnamakan ‘bercanda’, sehingga apabila orang yang dicela tersinggung maka ia akan disebut ‘baperan’.

4. Al-Hujurat ayat 12

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.

Pada ayat ini kita diajarkan untuk menjauhi pikiran-pikiran yang buruk. Sebab pikiran tersebut hanya memperlambat kebahagian kita dan belum tentu pasti terjadi. Maka, alangkah lebih jika kita memikirkan hal-hal yang baik saja. Sebab. selain akan menambah semangat kita menjemput kebahagian juga akan lebih sehat bagi fisik dan psikis kita. Dari ayat ini kita juga belajar untuk tidak perlu mencari kesalahan orang lain, atau dalam Islam disebut ‘tajassus’ . Biarlah itu tetap menjadi tugas Malaikat Atid untuk mencatat segala kesalahan kita. Begitu pula dengan membicarakan orang lain dibelakang mereka, hal ini sangatlah tidak bermanfaat. Jika informasi yang dibicarakan benar maka ia akan termasuk ghibah atau istilah eksisnya disebut ‘gosip’. Namun jika informasi yang dibicarakan salah maka dinamakan ‘fitnah’. Daripada kita melakukan hal-hal tidak berguna tersebut, lebih baik kita fokus memperbaiki diri, memperluas relasi yang kita miliki, serta melakukan segala hal yang menyenangkan. Tentu semua hal ini jauh lebih sehat dan bemanfaat.

5. Al-Hujurat ayat 13

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.

Dari ayat ini kita belajar bahwa Allah sengaja menciptakan kita berbeda-beda untuk saling mengenal dan menghargai. Bukan malah perbedaan ini dijadikan sebagai batasan kita untuk berteman. Bertemanlah dengan siapa saja, belajarlah dari apapun yang kau temui, niscaya kau akan bisa belajar kapan saja dan di mana saja.

 

KESIMPULAN

Dengan demikian, hendaklah kita lebih menghargai sesama kita, menerima setiap perbedaan yang ada, serta menyayangi antar sesama umat manusia. Marilah sama-sama kita hentikan budaya bully ini, dan menggantinya dengan budaya baru yang jauh dari kata ‘kekerasan’ dan ‘kepalsuan’. Tebarkanlah diatas bumi Allah ribuan kebaikan yang ketulusannya dapat dirasakan oleh setiap hati manusia.

 

REFERENSI

Bullying (Perundungan): Definisi, Penyebab, Cara Mengatasi – Kampus Psikologi

Diduga Sering Di-bully Tak Punya Ayah, Bocah Yatim di Banyuwangi Gantung Diri | kumparan.com

https://www.detik.com/edu/sekolah/d-5909105/bullying-di-sekolah-bagaimana-cara-mencegahnya/amp

adminwilayahdua Badan Penelitian dan Pengkajian Keilmuan (BPPK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *