Sumber : (sodexo.co.id)

 

Syifa Raihan MT
Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan
Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia Wilayah II

 

PENDAHULUAN

Teman-teman pernah tidak sih diberikan tugas oleh guru atau dosen yang kelihatannya sangat suliiit sekali untuk dikerjakan? Saking terlihat sulitnya tugas tersebut, bahkan sebelum mencoba mengerjakannya pun kita sudah berpikir bahwa kita tidak bisa menyelesaikan tugas tersebut dengan baik. Nah, apabila teman-teman pernah merasakan hal tersebut, bisa jadi teman-teman memiliki efikasi diri yang rendah. Wah, kenapa bisa begitu? Memangnya apa sih yang dimaksud dengan efikasi diri itu sendiri?

 

PENGERTIAN EFIKASI DIRI

Istilah efikasi diri dicetuskan oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat bernama Albert Bandura.

Jadi menurut Bandura, efikasi diri adalah keyakinan  diri  berupa  kepercayaan  terhadap  diri  sendiri  dalam  melakukan suatu  tindakan  sehingga  dapat  memperoleh hasil  seperti  yang  diharapkan. Stipek (2001) dalam Santrock (2007) juga menyebutkan bahwa efikasi diri adalah kepercayaan seseorang atas keahlian dan kemampuannya sendiri. Dengan efikasi diri yang tinggi, seseorang dapat mengerahkan seluruh potensi yang dimilikinya secara optimal.

Misalnya, ada dua orang siswa SMP bernama Anton dan Budi. Kedua siswa tersebut diberi PR matematika yang sama. Namun anehnya, walaupun tugas yang diberikan sama persis, respon yang diberikan oleh keduanya berbeda. Anton terlihat sangat yakin dapat mengerjakan PR matematika tersebut tepat waktu, sementara Budi jangankan berpikir dapat menyelesaikannya tepat waktu, satu soal saja ia tidak yakin dapat berhasil mengerjakannya. Dari kasus ini dapat diketahui bahwa Anton punya efikasi diri yang tinggi, sebaliknya Budi punya efikasi diri yang rendah. 

Efikasi diri sangat penting dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pajares & Miller (1994), siswa dengan efikasi diri yang tinggi memiliki peran yang besar dalam terwujudnya prestasi siswa. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Pietsch, Walkeer, dan Chapman (2003) yang menunjukkan bahwa siswa dengan efikasi diri yang tinggi dalam pelajaran matematika memiliki prestasi yang tinggi pula dalam bidang matematika. Selanjutnya, penelitian Jex et al. (2001) terhadap para pekerja dengan beban kerja yang tinggi menunjukkan bahwa pekerja dengan efikasi diri yang tinggi memiliki tingkat stress yang rendah, sebaliknya pekerja dengan efikasi diri yang rendah memiliki tingkat stress yang tinggi dan sangat mudah sekali merasa cemas.

 

PENYEBAB TINGGI-RENDAHNYA EFIKASI DIRI PADA SESEORANG 

Tinggi rendahnya efikasi diri dipengaruhi oleh beberapa hal, begitu pula dengan yang terjadi pada kasus Anton dan Budi di atas. Ada hal-hal tertentu yang menyebabkan Anton memiliki efikasi diri tinggi sementara Budi memiliki efikasi diri yang rendah. Tidak ada asap maka tidak ada api, segala sesuatu di dunia ini pasti memiliki alasannya tersendiri. Lalu apa saja sih hal-hal yang menyebabkan tinggi-rendahnya efikasi diri pada seseorang?

1. Pengalaman gagal atau berhasil dimasa lalu
Apakah teman-teman pernah ketagihan mengerjakan sesuatu karena berhasil mengerjakan sesuatu yang sama sebelumnya? Atau justru sebaliknya, apakah teman-teman pernah enggan mengerjakan sesuatu karena gagal dalam mengerjakan sesuatu yang sama sebelumnya? Jadi ternyata, pengalaman masa lalu sangat berpengaruh terhadap pembentukan efikasi diri pada seseorang. Keberhasilan seseorang mengatasi sesuatu akan meningkatkan efikasi diri, sementara kegagalan seseorang mengatasi sesuatu akan membuat efikasi diri menjadi rendah.

Padahal kegagalan merupakan hal yang biasa. Saat bayi, kita pernah gagal dan jatuh berkali-kali ketika sedang belajar berjalan. Kita terus belajar dari kesalahan sehingga akhirnya mampu untuk menggerakan kedua kaki untuk melangkah. Seperti proses belajar berjalan, kegagalan yang telah dilalui seharusnya dapat kita jadikan motivasi untuk belajar dan bangkit dari kesalahan. Tanpa adanya kegagalan, kita tidak bisa meningkatkan kemampuan untuk mencapai keberhasilan. Selalu tanamkan pikiran yang optimis dan jauhkan diri dari pemikiran-pemikiran negatif. Dengan begitu, mengatasi hal-hal yang dirasa sulit sekalipun akan terasa mudah nantinya.

2. Kejadian yang diamati seolah-olah dialami sendiri
Apakah teman-teman pernah merasa tidak bisa mengerjakan sesuatu karena melihat orang lain tidak berhasil dalam mengerjakannya? Atau apakah teman-teman pernah merasa bisa mengerjakan sesuatu karena melihat orang lain berhasil mengerjakan sesuatu tersebut? Misalnya, efikasi diri Budi meningkat karena melihat Anton yang dapat dengan mudah menyelesaikan PR matematikanya. Akibatnya, Budi menjadi termotivasi untuk mengerjakan PR matematika tersebut. Atau mungkin kita sering mendengar dialog ini dalam percakapan sehari-hari, “Dia saja bisa, masa aku nggak?”.

Ini sesuai dengan teori modelling yang juga dicetuskan oleh Bandura, dimana perilaku kita ditentukan oleh apa yang kita lihat sehari-hari. Teori ini menyebutkan bahwa perilaku kita didapat dengan cara meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain di lingkungan sosial kita. Faktanya, efikasi diri kita akan meningkat jika kita melihat model yang sukses. Sebaliknya, efikasi diri kita akan menurun jika kita melihat model yang gagal. Karena melihat Anton yang sukses mengerjakan PR matematika, Budi menjadi yakin pada dirinya sendiri bahwa ia juga bisa sukses mengerjakan PR matematika.

Perlu diingat bahwa orang yang sukses tidak hanya berusaha sekali, melainkan jatuh dan bangun berkali-kali. Kebanyakan orang hanya melihat kesuksesan dari apa yang diraih, bukan proses untuk mencapainya. Untuk mencapai kesuksesannya, orang dengan efikasi diri yang tinggi mengatasi berbagai kegagalan dengan usaha yang gigih sehingga dapat menemukan solusi yang tepat atas segala permasalahannya. Untuk itu pula berdasarkan teori modelling Bandura, sebaiknya kita mendekatkan diri kepada orang-orang dengan efikasi diri yang tinggi agar kita juga memiliki perilaku yang gigih seperti pada model yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

3. Persuasi verbal
Persuasi verbal dapat juga dikatakan sebagai motivasi. Ucapan-ucapan seperti ”Semangat, ya!” atau “Aku yakin kamu pasti bisa, kok!” terbukti dapat meningkatkan efikasi diri pada orang yang menerimanya. Coba bayangkan ketika kita tidak yakin akan kemampuan diri sendiri kemudian diberi kata-kata yang menyenangkan oleh orang tersayang, pasti timbul benih-benih rasa semangat di hati bukan? Berbeda rasanya jika kita tidak mendapatkan dukungan atau kata-kata penyemangat, bisa jadi keyakinan kita akan diri sendiri menjadi berkurang. Saat kita mengikuti perlombaan, tentu saja kita merasa lebih bersemangat ketika banyak supporter yang datang sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri kita.

Persuasi verbal dapat menggugah semangat seseorang sehingga dapat meningkatkan efikasi diri di dalam dirinya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya meminta doa dan semangat dari orang-orang terdekat jika kita tidak yakin terhadap kemampuan diri kita sendiri. Tak ada salahnya juga kita menyemangati teman kita yang akan mengikuti perlombaan agar keyakinan terhadap dirinya sendiri meningkat. Yuk kita saling memberikan kata-kata positif untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik!

4. Keadaan fisiologis dan suasana hati
Keadaan fisiologis dan suasana hati juga berpengaruh terhadap tinggi-rendahnya efikasi diri seseorang. Kadangkala saat kita merasa sedih, kita merasa rendah diri dan merasa bahwa diri kita tidak berharga. Begitu juga ketika kita merasa kurang baik secara fisik, kita tidak bisa mengerahkan seluruh tenaga secara maksimal karena terhalang oleh rasa lemah ataupun rasa sakit. Akibatnya, performa yang kita berikan menurun sehingga kita menjadi tidak yakin dapat menyelesaikan tugas dengan baik.

Karena itu, menjaga kesehatan baik fisik dan mental sangat penting dalam meningkatkan efikasi diri. Menurut Bandura (1997), ada beberapa cara untuk meningkatkan efikasi diri, yaitu meningkatkan kondisi tubuh, menurunkan kadar stress, merubah emosi negatif, berpikir secara positif, juga menginterpretasikan keadaan yang sedang dialami oleh tubuh.

 

KESIMPULAN

Demikianlah penjelasan sekilas mengenai apa itu efikasi diri, sebab tinggi dan rendahnya, dan berbagai macam cara untuk meningkatkannya. Penulis berharap semoga teman-teman semuanya bisa meningkatkan efikasi diri yang dimiliki karena efikasi diri memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Dengan efikasi diri yang tinggi, kita dapat percaya dan yakin terhadap kemampuan diri sendiri sehingga dapat menyelesaikan segala sesuatu secara optimal. Terima kasih telah membaca, mari wujudkan Indonesia tersenyum dengan psikologi!

 

DAFTAR PUSTAKA

Bandura, Albert. 1997. Self-eficacy in Changing Societies. Cambridge: University Press 

Rustika, I. M. (2016). Efikasi Diri: Tinjauan Teori Albert Bandura. Buletin Psikologi, 20(1–2), 18–25. https://doi.org/10.22146/bpsi.11945

Santrock, J. W. 2007. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Prenada Media Group

 

 

 

 

 

adminwilayahdua Badan Penelitian dan Pengkajian Keilmuan (BPPK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *