(Sumber: simplypschology.org)

Syifa Raihan MT
Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan
Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia Wilayah II

 

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah pendekatan terapeutik yang sangat efektif dan luas digunakan dalam dunia psikologi klinis. CBT merupakan bentuk terapi yang bersifat berbasis bukti dan difokuskan pada hubungan antara pikirandan perilaku. Pikiran-pikiran negatif pada seseorang akan menyebabkan perasaan dan perilakunya juga cenderung negatif, begitupun sebaliknya. Terapis CBT bekerja sama dengan klien untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mental.

CBT berakar pada teori kognitif dan behavioral. Asumsi dasar adalah bahwa cara kita berpikir tentang suatu situasi memengaruhi perasaan dan tindakan kita terkait situasi tersebut. Terapi ini mengajarkan keterampilan untuk mengenali dan mengubah pola pikir yang tidak sehat. Dr Irwan Supriyanto PhD SpKJ menyebutkan bahwa pikiran-pikiran negatif/distorsi pikiran yang timbul secara otomatis setiap kali pasien menghadapi masalah disebut sebagai automatic negative thoughts. Dalam CBT, hubungan di antara komponen-komponen disebut sebagai model kognitif. Model ini digunakan untuk memahami distress mental klien ataumasalah yang dialami klien dan menjadi kerangka untuk mengembangkan prosedur terapi individual untuk klien.

Klien dan terapis bekerja sama dalam sesi terapi. Klien dilibatkan aktif dalam mengidentifikasi dan mengubah polapikir dan perilaku yang merugikan. Terapi CBT akan dimulai setelah adanya ikat kontrak antara klien dan terapis, hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa klien akan hadir dalam setiap sesi CBT. Klien dan terapis juga harus menetapkan jadwal pertemuan untuk CBT, serta komitmen terhadap jadwal tersebut. Di mana komitmen terhadap jadwal termasuk salah satu bagian dari kontrak terapi CBT.

Terapis CBT bekerja dengan klien untuk mengidentifikasi pikiran-pikiran yang mungkin tidak sehat dan memahami bagaimana pikiran tersebut dapat memengaruhi perilaku. Terapis mengajarkan keterampilan pengelolaan stres dan relaksasi untuk membantu klien mengatasi tantangan sehari-hari. CBT tidak hanya terjadi dalam sesi terapi. Klien diberdayakan untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari dan melakukan latihan mandiri untuk memperkuat perubahan positif. Terapi berfokus pada pencapaian tujuan kesehatan mental klien dengan mengajarkan keterampilan adaptasi dan mengatasi masalah.

 

CBT memiliki sejumlah prinsip dasar, antara lain:

1. Berasaskan pada Keterkaitan Proses Kognitif, Emosi, dan Perilaku:

CBT berakar pada hubungan yang saling terkait antaraproses kognitif, perasaan, dan perilaku seseorang.

2. Prosedur yang Singkat dan Terbatas Waktu:

CBT dirancang sebagai pendekatan terapeutik yang singkat dan memiliki batas waktu.

3. Memerlukan Hubungan Terapetik yang Kuat dan Kerjasama Kolaboratif:

Keberhasilan CBT memerlukan hubungan terapetik yang solid dan kerjasama aktif antara terapis dan pasien.

4. Pemandu Penemuan Sudut Pandang Baru:

Dalam CBT, pasien dipandu untuk menemukan sudut pandang berpikir yang baru terkait dengan masalah yang dihadapi.

5. Struktur, Arah, dan Berorientasi pada Masalah:

CBT dilaksanakan dengan metode yang terstruktur, terarah, dan berfokus pada pemecahan masalah.

6. Berbasis pada Model Pendidikan:

CBT sering kali disusun dengan mengedepankan model pendidikan, menyediakan pengetahuan sebagai bagian dari terapi.

7. Berkutat pada Metode Induktif:

CBT mengandalkan metode induktif, yaitu pendekatan ilmiah dengan menggunakan logika dan penalaran.

8. Sesi CBT sebagai Panduan, Dengan Latihan Mandiri di Antara Sesi:

Sesi CBT hanyalah sebagai panduan, dan pasien diharapkan berlatih sendiri di antara pertemuan-pertemuan CBT.

9. Berorientasi pada Kondisi Saat Ini dan Masalah yang Difokuskan:

CBT berpusat pada keadaan saat ini dan secara khusus memfokuskan perhatian pada masalah yang diidentifikasi.

Prinsip-prinsip ini membentuk dasar filosofi dan praktik CBT yang efektif dalam merespons berbagai masalah kesehatan mental.

Aplikasi CBT dalam Masalah Mental

Kecemasan dan Depresi: CBT efektif dalam mengatasi kecemasan dan depresi dengan membantu klien mengidentifikasi pikiran negatif dan menggantinya dengan pemikiran yang lebih sehat.
Gangguan Makan: Dalam kasus gangguan makan, CBT membantu individu mengubah pola pikir terkait tubuhdan makanan serta memodifikasi perilaku makan yang tidak sehat.
Trauma dan PTSD: CBT digunakan untuk mengatasi efek trauma dengan membantu klien mengelola pikiran traumatis dan memodifikasi respon perilaku.

Prosedur umum dari CBT

1. Mencari tahu asal masalah

Saat pertama kali terapi, klien akan diminta untuk menceritakan semua keluhannya. Pada tahap ini, kliendan terapis akan menentukan asal masalah yang ingin dituntaskan serta tujuan akhir yang akan diraih.

2. Sadar akan perasaan dan pikiran yang muncul

Klien akan diminta untuk menulis pada catatan hariannya (jurnal) tentang perasaan dan pikirannya yang muncul saat terjadi suatu masalah

3. Mengelola pola piker yang negatif/salah

Agar klien menyadari bahwa pemikiran mereka tidak tepat, terapis akan mengajak mereka membandingkannya dengan situasi yang berlainan. Pada langkah ini, klien perlu sepenuhnya memerhatikan respons tubuh, perasaan, dan pikiran yang muncul ketika mereka tidak terlibat dalam permasalahan tersebut.

4. Menyusun ulang pola piker yang negatif/salah

Pada fase ini, klien akan diminta untuk mengevaluasi apakah perspektif dan pandangannya terhadap suatusituasi didasarkan pada pertimbangan yang sehat atau mungkin terpengaruh oleh pemahaman yang kurang tepat. Klien akan diajak untuk menyadari kekurangan dalam pola pikirnya. Terapis akan membimbing kliendalam mengembangkan pola pikir yang lebih positif secara perlahan-lahan, dengan tujuan agar klien mampumengendalikan pemikiran dan perilaku saat menghadapi masalah.

CBT telah membuktikan diri sebagai metode pengobatanyang efektif dan banyak digunakan dalam penanganan berbagai masalah mental. Dengan pendekatan yang berfokus pada kognisi dan perilaku, CBT memberikan solusi yang praktis dan terukur untuk meningkatkan kesejahteraan mental individu. Penting untuk diingat bahwa efektivitas CBT dapat bervariasi, dan penerapannya harus disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap individu.

SUMBER

https://www.alomedika.com/tindakan-medis/psikiatri/cognitive-behavioral-therapy/teknikhttps://www.alodokter.com/terapi-kognitif-perilaku-untuk-menangani-berbagai-masalahhttps://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/terapi-kognitif-dan-perilaku-untuk-masalah-psikologis/https://www.apa.org/ptsd-guideline/patients-and-families/cognitive-behavioral

adminwilayahdua Badan Penelitian dan Pengkajian Keilmuan (BPPK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *